
Pintu Restoran terbuka dari dalam oleh seorang pelayan, mereka berdua melangkahkan kakinya ke dalam Restoran.
Davina mengedarkan pandangannya untuk memilih tempat duduk, tapi tatapan matanya jatuh pada sosok wanita yang dikenalnya.
"Sayang, lihat disana. Bukankah itu saudarimu Marsya?" Davina berkata sambil menarik-narik tangan Byan, dia menunjuk ke arah Marsya yang sedang duduk.
Saat Byan mendengarnya dia langsung mengikuti arahan dari Davina, matanya langsung melihat sosok wanita yang mulai ia rindukan.
Terlihat olehnya Marsya sedang duduk dengan seorang pria yang tidak dikenalnya, padahal selama ini semua pria yang berhubungan dengan Marsya dia pasti akan mengenalnya.
"Sayang, ayo kita bergabung dengan saudarimu." Davina tidak meminta pendapat Byan lebih dulu dan segera menariknya ke tempat Marsya duduk.
"Hai, Marsya." Sapa Davina.
Marsya mengenali suara wanita yang menyapanya, dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mereka berdua. Tatapannya jatuh pada tangan Davina yang bergelayut manja pada Byan, Marsya tersenyum datar.
__ADS_1
"Hai Davina, apa kabar. Kamu sudah menyelesaikan syuting iklanmu?" Marsya mencoba bersikap seperti biasanya.
"Ya, aku baru saja sampai. Sebenarnya aku capek banget tapi karena sangat merindukan kekasihku ini, aku langsung datang menemuinya. Iya kan sayang." Suara Davina terdengar sangat manja.
"Hem." Byan hanya bergumam.
"Marsya, boleh kami bergabung dengan kalian. Ah siapa pria yang sedang makan bersamamu? Apakah dia pacarmu?" Davina melirik ke arah pria yang duduk di depan Marsya.
"Ah, dia temanku dan namanya Sammy." Jawab Marsya.
"Halo, namaku Sammy. Aku adalah mantan pasien Marsya, tapi sekarang sudah menjadi teman Dokter cantik ini." Sammy berdiri dari duduknya dan memperkenalkan diri.
Byan tidak berbicara karena dia sangat gugup dan bingung harus bagaimana menghadapi Marsya.
Mereka semua akhirnya duduk bersama di satu meja, semua pesanan makanan baru dari Davina segera berdatangan.
__ADS_1
Mereka sedikit berbincang sambil makan, tentu saja Davina lah yang paling banyak bicara.
"Dokter cantik, ini adalah makanan favoritmu. Ayo makan yang banyak." Sammy berkata sambil tangannya mengambil udang dan menaruhnya di piring Marsya.
"Terima kasih, kamu masih ingat makanan kesukaanku." Balas Marsya tersenyum dan segera memasukkan makanan itu ke mulutnya.
"Aishh, kamu masih sama. Lihatlah di sudut mulutmu itu ada sisa bumbu." Sammy langsung mengambil tissu dan mengelap sudut mulut Marsya dengan penuh perhatian.
Marsya sebenarnya terkejut tapi dia tidak ingin memperlihatkannya, jadi akhirnya dia membiarkan Sammy melakukannya.
Tapi Byan yang sejak tadi hanya diam saja, menatap tajam ke arah mereka berdua. Ada kecemburuan yang menyeruak dari dalam dadanya, seakan ada duri yang menusuk hatinya.
Tangannya yang berada di bawah meja mengepal, api cemburu tak bisa ia sembunyikan dari matanya dan itu terlihat jelas.
Byan tanpa sadar sudah memperlihatkan kecemburuannya, tanpa dia sadari ada tatapan mata menyelidik ke arahnya.
__ADS_1
Davina yang melihat ke arah Byan, tentu saja melihat dengan sangat jelas perilaku kekasihnya itu. Dia adalah wanita dari dunia akting, tentu saja tau apa yang terjadi.
Ada apa ini? Kenapa Byan menatap Marsya dengan penuh kecemburuan? Sejak kapan ini terjadi? Apa Byan menyukai Marsya? Apa ini alasannya Byan bersikap dingin kepadaku? Tidak! Ini tidak boleh terjadi, Byan adalah milikku. Jika aku kehilangannya, maka tidak ada yang menopang hidupku lagi! Aku bisa terkenal karena aku adalah kekasih dari seorang pewaris Perusahaan Pramudita. Aku tidak mau kehilangannya, aku harus segera melakukan sesuatu! Ucap Davina dalam hatinya dengan berambisi.