
Davina segera merencanakan sesuatu dan akhirnya dia mempunyai sebuah rencana.
"Hei semuanya, setelah makan ayo kita pergi ke bioskop. Terus malamnya kita pergi ke klub, bagaimana?" Davina melirik ke arah mereka bertiga.
"Ide bagus, ayolah Marsya. Aku kan baru kembali ke Indonesia, sudah lama aku tidak bersenang-senang disini." Sammy menatap Marsya sedikit memohon.
Marsya yang melihat Sammy seperti itu akhirnya menyetujuinya, sedangkan Byan masih terdiam dengan kebisuannya.
Setelah makan mereka selesai, mereka segera keluar dari Restoran. Sammy dan Marsya membawa mobil mereka masing-masing, sedangkan Davina bersama Byan berada dalam satu mobil.
Setelah sampai mereka bertiga sepakat menonton film romantis, Byan masih terdiam dan ia tidak menolak atau pun setuju. Tentu saja Davina lah yang memesan tempat duduk, agar bisa sesuai keinginannya.
Akhirnya posisi duduk Byan dan Marsya terhalang oleh dua orang, Davina dan Sammy duduk diantara mereka berdua.
Setelah Film mulai diputar, hanya Sammy yang menikmati Film tersebut. Tapi tidak dengan ketiga orang lainnya, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Aku malam ini harus berhasil membuat Marsya menjadi wanita hina, agar Byan membencinya! Harus! Davina masih semangat dengan rencananya.
Sejak semalam aku sudah berjanji akan menghapus perasaanku, tapi sekarang meskipun Byan berada di dekatku, aku masih saja merindukannya. Lalu bagaimana nanti? Marsya bersedih dalam hatinya.
Marsya, apa semudah itu kamu menghapus cintamu padaku? Aku memang menyuruhmu membuang perasaanmu padaku, tapi dengan secepat itu kamu berpaling dariku! Apa kamu tau hatiku sakit melihatmu dengan pria lain?! Aku tidak terima! Aku tidak akan membiarkanmu bersama pria selain aku! Byan menahan amarah dalam hatinya.
Setelah film selesai diputar, mereka keluar dari Bioskop. Davina mengatakan ingin ke kamar mandi, setelah di kamar mandi dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo!" Terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Cepat beli obat perangsang, sekarang! Aku nanti akan mengirim pesan padamu, saat itu antarkan ke alamat yang aku berikan padamu." Perintah Davina kemudian dia mematikan teleponnya.
Davina tersenyum jahat, dia pun segera kembali ke tempat ketiga orang yang sedang menunggunya. Mereka segera pergi ke klub yang sudah mereka sepakati.
__ADS_1
***
Axel dipanggil ke ruang kerja oleh ayahnya, mau tak mau dia akhirnya menemui Ayahnya juga. Dia ingin tau apa yang ingin dikatakan pria tua itu padanya.
Dia berjalan melewati lorong panjang yang di sisi - sisi dindingnya tergantung lukisan-lukisan mahal dan terkenal.
Disaat dia baru saja melewati belokan di lorong, terlihat di depannya Emily yang berdiri di depan jendela besar sedang memandang ke arah taman diluar.
Saat mendengar langkah kaki, Emily berbalik. Dia menatap Axel seolah mengatakan dia memang sengaja berdiri disana dan sedang menunggunya.
Disaat tatapan mereka berdua bertemu, terlihat oleh Axel tersirat dalam mata Emily rasa penyesalan juga kerinduan.
Axel sedikit tertegun saat melihat mata Emily, tapi selanjutnya tatapan matanya berubah menjadi tajam.
Apa yang kamu pikirkan, Axel? Apa kamu pikir wanita pengkhianat itu merasa menyesal atau merindukanmu! Jika kamu berpikir begitu, kamu pasti sudah gila! Axel merasa geram dalam hatinya.
Dia pun melanjutkan langkahnya dan tak ingin lagi berurusan dengan Emily.
Axel tak menghentikan langkahnya, dia tetap berjalan melewati sosok Emily tapi perkataan Emily selanjutnya akhirnya menghentikan langkahnya.
"Apa kamu masih marah kepadaku? Kenapa sampai sekarang kamu tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku? Kenapa hatimu begitu sempit?" Suara Emily bergetar menahan tangis.
Axel berdiri membelakanginya, Emily pun maju untuk mendekatinya.
"Axel, selama bertahun-tahun ini aku sangat tersiksa. Aku juga tau kamu masih mencintaiku, bukan? Aku tau itu, karena sampai saat ini kamu masih sendiri." Emily berkata seraya memegang lengan Axel.
Axel mengepalkan kedua tangannya mendengar Emily berkata seperti itu, seketika matanya merah seperti ingin membunuh seseorang. Ia melepaskan pegangan Emily di lengannya
"Apa kamu sedang bermimpi di siang bolong Ibu tiriku tersayang, kepercayaan diri dari mana sampai kamu berpikir aku masih mencintaimu! Apa kamu sedang bercanda!" Balasnya kepada Emily tanpa berbalik.
__ADS_1
"Wanita pengkhianat sepertimu, jangankan masih ada rasa cinta! Bahkan kamu tak pantas ada dalam pikiranku! Wanita yang dulu pernah aku cintai dengan segenap hatiku, sudah lama mati!" Setelah mengatakannya Axel melanjutkan langkahnya dan pergi dari sana.
Untung saja sebelum datang ke sini, dia sudah meminum obat fobia - nya terlebih dahulu, jadi saat bertemu dengan wanita pengkhianat itu tubuhnya hanya sedikit gemetar.
Emily menatap punggung lelaki yang pernah dicintainya, dia menghembuskan nafas beratnya.
Satu kesalahan ternyata membuat hidupnya sengsara, bahkan di rumah yang bak istana ini tak pernah sekalipun dia bahagia setelah berpisah dengan Axel.
***
Klub Malam.
Saat Byan dan ketiga lainnya memasuki pintu klub, langsung terdengar musik yang memekakkan telinga.
Terlihat banyak pria dan wanita sedang menari-nari menghentakkan tubuhnya mengikuti musik dari sang DJ.
Davina segera memanggil pelayan dan memesan satu ruangan untuk mereka berempat. Dia memesan ruangan VVIP dan juga memesan beberapa minuman.
Mereka berempat segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan pelayan, dan segera menyamankan tubuh mereka di sofa panjang melingkar.
Marsya tidak bisa minum alkohol karena dia selalu menjaga kesehatan, dia hanya memesan segelas orange jus.
"Kamu masih tidak bisa minum alkohol Dokter cantikku?" Sammy bertanya sambil tersenyum karena bangga pada Marsya.
"Uhm, bukannya tidak bisa tapi tidak mau. Aku seorang Dokter, tentu saja aku tau apa akibatnya minuman alkohol untuk tubuhku." Marsya berkata sambil mengangkat bahunya cuek.
"Hahaha... jawaban yang cerdas. Semoga kamu tidak pernah berubah, tetap menjadi Marsya yang aku kenal." Sammy mengatakannya sambil menatap Marsya dengan tatapan lembut.
Sekali lagi Byan merasa jengah, dia terus memperhatikan mereka berdua dan tentu saja dia mengerti akan arti tatapan Sammy kepada Marsya.
__ADS_1
Heh! Jangan mimpi kamu! Marsya selamanya adalah milikku! Ucap Byan dalam hatinya.
Byan tak bisakah kamu menjaga perilaku dan tatapan matamu pada Marsya! Aku lah yang kekasihmu! Lihat saja sebentar lagi, aku akan menyingkirkan Marsya. Kamu akan menjadi milikku seutuh nya! Geram Davina.