Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 47


__ADS_3

Seorang wanita melepaskan kacamatanya, dia sedang menunggu jemputannya di luar bandara. Dia adalah Emily, ia sudah mendengar berita tentang Axel. Tadinya dia sudah banyak berencana, tapi tidak disangka musuh Axel bertindak lebih cepat darinya.


Emily tersenyum, biarkan saja semua rencananya gagal, sekarang dia hanya akan menunggu. Jika memang sudah waktunya, dia akan bertindak.


Akhirnya sebuah mobil datang, Emily pun masuk ke dalamnya. Emily mendengarkan anak buahnya itu berbicara, dia hanya diam mendengarkan.


***


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Byan tergeletak tak sadarkan diri, dia sudah tak kuat menahan rasa sakitnya lagi.


Zhuting membuka pintu gudang, lalu masuk ke dalamnya. Dia melihat tubuh tergeletak Byan, tapi dia pikir pemuda itu hanya tertidur biasa.


Zhuting baru saja ingin membalikkan badan ke arah luar kembali, tiba - tiba terdengar suara orang - orang berkelahi dari arah luar gudang. Tubuhnya seketika menegang, ternyata Axel tidak menurutinya.


Dia lalu berjongkok dan membangunkan Byan, tapi Byan tak bergerak. Saat tangan Zhuting menyentuh lengannya, suhu badannya sangat tinggi.


Zhuting seketika panik, dia berdiri kembali dan mengambil pistol di selipan samping celananya. Dia menarik pelatuk, lalu mengangkat pistolnya lurus ke depan. Dia mengarahkan moncong pistol itu ke arah pintu gudang, saat pintu itu terbuka seketika dia terkejut.


Ternyata yang masuk adalah adik perempuannya Mayleen, kedua matanya menatap tak percaya.


"Mayleen... sedang apa kamu disini?" Tanya Zhuting kaget.


"Kak, menyerah lah. Lepaskan dia, dia sedang sakit. Kita juga sudah salah paham, ternyata ayah selama ini telah berbohong pada kita. Aku akan menjelaskannya nanti, jadi lepaskan dulu dia." Black Rose memohon.


Flashback 3 jam lalu ON.


Ketika mereka semua masih berunding merencanakan penyelamatan, tiba - tiba Black Rose maju.


"Tuan - tuan, bolehkah aku bicara. Ini menyangkut penculik Tuan Byan." Ucapnya.


Dion menatapnya terkejut. "Ada apa Jiang Yi?" Tanyanya.


"Aku ingin berbicara sebentar." Black Rose menatap Dion dengan tegas.


"Baik! Bicaralah!" Axel mengijinkannya.


Black Rose duduk, setelah dari tadi hanya berdiri dan diam.


"Pertama, aku ingin minta maaf pada Nyonya Kasya dan Tuan Axel juga Tuan Dion. Aku dari awal sudah berbohong pada kalian." Black Rose mulai bicara.


"Aku sebenarnya adalah anak dari marga Tang, musuh Anda. Aku adalah anak ketiga, dan juga adalah adik dari orang yang Anda bunuh." Black Rose berbicara pada Axel, menatapnya dengan berani.


Saat ucapannya selesai, semua orang menarik nafas mereka karena kaget, terutama Dion. Dion menatap tak percaya pada Black Rose.

__ADS_1


"Apakah Anda pernah mendengar nama Black Rose? Itu adalah nama panggilanku di dunia hitam. Nama asliku dalah Mayleen." Lanjutnya.


"Ya, aku pernah mendengar nama mu. Lalu, apa maksud dari kejujuranmu ini?" Tanya Axel bersikap tenang.


"Aku sebenarnya berbohong dan mendekati kalian, karena aku hanya ingin membalaskan dendam atas kematian kakakku. Tapi sepertinya ada kesalahpahaman disini, tapi aku juga tidak sepenuhnya percaya perkataan Anda."


"Dan alasanku jujur sekarang, karena aku hanya tidak ingin ada korban yang tidak bersalah seperti Tuan Byan. Bagaimana pun, aku juga pernah merasakan kehilangan seorang keluarga." Ucapnya lagi.


"Jadi, saat kalian pergi untuk menyelamatkan nya, ijinkan aku ikut. Aku akan berbicara baik - baik dengan kakakku." Black Rose menatap dengan berani kepada mereka semua.


Axel berpikir sejenak, dia tak bisa mempercayai nya sepenuhnya. Saat dia masih berpikir, Andi angkat bicara.


"Axel, sebenarnya apa yang dia katakan ada bagusnya. Itu akan meminimalisir resiko Byan terluka. Menurutku, kita harus mendengarkannya." Kata Andi.


Akhirnya semua orang setuju dan memberikan kesempatan pada Black Rose. Sedangkan Dion hanya terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan.


Flashback OFF.


"Tidak Mayleen, apa yang kamu katakan. Mereka adalah musuh kita, selamanya musuh kita!" Teriak Zhating tak percaya perkataan adiknya.


"Kakak, dengarkan aku. Kakak sudah dikepung dan hanya bisa menyerah. Jadi, dengarkan aku ya. Aku mohon..." Black Rose mendekati Kakaknya ia berjalan perlahan.


Zhuting terdiam, dia berpikir sangat keras. Tapi tetap saja, bayangan jasad kakaknya yang meninggal terbayang sangat jelas.


Black Rose membiarkannya, dia akan berbicara lagi dengan kakaknya nanti. Dia berlari keluar, memanggil semua orang disana yang ternyata sudah selesai melumpuhkan semua bawahan Zhuting.


Axel yang masuk lebih dulu, dia melihat keadaan Byan yang tergeletak di lantai. Dengan cepat dia berjalan menghampirinya, ia segera berjongkok. Axel terkejut merasakan suhu panas dari tubuh Byan, hatinya langsung mencelos.


Yang lainnya akhirnya juga masuk, mereka melihat ke arah Axel dan Byan.


"Dion! Cepat bantu aku membawa Byan. Badannya demam tinggi, dan sepertinya dia sudah tak sadarkan diri. Cepat!" Teriak Axel.


Semua orang bergerak cepat, mereka segera meninggalkan gudang penyekapan tersebut. Meninggal para pengawal Axel, yang sedang mengurus bawahan Zhuting yang sudah kalah.


***


Abyan sudah ditangani oleh para medis, setelah Dokter memeriksa nya, Dokter mengatakan keadaannya sedang kritis.


Dokter mengatakan kondisinya terlalu lemah, dan Byan terlambat dibawa ke Rumah Sakit. Jika ingin selamat, Byan membutuhkan donor ginjal baru secepatnya kalau tidak nyawanya akan sulit untuk diselamatkan.


Kasya sudah berada di ke Rumah Sakit, ia langsung terduduk lemas saat mendengar penuturan dari Dokter.


Dia tak bisa menahan kesedihannya, dan menangis dengan keras. "Kenapa?! Kenapa harus anakku? Kenapa dia? Apa salahnya? Hiks..." Kasya berteriak histeris.

__ADS_1


Axel langsung mendekatinya dan bersiap memeluknya. Tapi tatapan marah Kasya kepadanya mengurungkan niatnya.


"Jangan berani menyentuh ku! Pergi! Aku tak ingin melihat wajahmu!" Teriaknya.


"Sayang, maafkan aku. Tapi aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, walaupun kamu membunuhku sekalipun." Axel menolak untuk pergi.


"Pergi! Pergi! Tolong siapa saja, bawa pergi lelaki ini dari hadapan ku!" Kasya masih mengusirnya.


Denis merasa sangat kasihan pada Kasya, ia segera bergerak maju begitu juga Raka dan Nata. Mereka bertiga akhirnya menarik pergi Axel dari hadapan Kasya.


Dion hanya bisa diam dan tak membantu Bos nya, karena menurutnya Kasya memang berhak untuk marah. Tiba - tiba ponselnya berbunyi, dia melihat itu adalah bawahannya di Macau.


Dion segera pergi dari sana untuk mengangkat ponselnya, meninggalkan Kasya dan Marsya juga Black Rose disana.


Sedangkan Axel dan para Squad sedang berbicara diluar.


Mereka berlima sedang menasehati Axel. Lelaki itu mendengarkan mereka tanpa menjawab.


"Biarkan Kasya tenang dulu, kamu juga tahu bagaimana cerita hidupnya. Byan adalah segalanya baginya. Kasya selalu bilang, jika Byan tidak datang dalam hidupnya, mungkin dia sudah tak ada di dunia ini." Denis berkata.


"Ya, jika kamu benar - benar mencintainya. Bersabarlah dan tunggu." Timpal Nata.


"Kita harus fokus dulu pada Byan, jika Byan selamat dan sehat, pasti Kasya tak akan lama - lama marah padamu." Ucap Andi menyemangatinya.


Sedangkan Raka dan Raditya tak bicara, mereka hanya menjadi pendengar setia.


Axel memutuskan akan mendengarkan nasihat mereka, dia akan memberikan waktu pada Kasya. Dia berkata pada mereka, dia akan pergi dulu untuk mencari udara segar.


Axel hanya pergi sendiri, karena pengawalnya semua dia tinggalkan di gudang. Dia menuju mobilnya dan mengemudi sendiri. Mobilnya perlahan pergi dan meninggalkan pelataran parkir Rumah Sakit.


Axel tak menyadari jika ada mobil yang mengikutinya, pikirannya sedang tidak fokus dan melayang kemana - mana. Saat dia masih menyetir sambil melamun, tiba - tiba dari arah berlawananan ada mobil yang melaju kencang padanya.


Axel akhirnya tersadar, tapi semua itu sudah terlambat. Mobil dari arah berlawanan, dengan kecepatan penuh menabrakkan mobilnya.


Braaaaaaaaaakkkkkk..


Benturan antara dua mobil terdengar sangat keras, bagian depan mobil keduanya seketika hancur.


Kondisi Axel sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki berlumuran darah.


Begitu juga dengan penabraknya yang tak lain adalah Zhuting, kondisinya sama parahnya.


Sedangkan di Rumah Sakit Dion sedang mencari Bos nya, karena dia baru saja mendapatkan telepon dari bawahannya, kalau ada seorang pendonor yang cocok dan bersedia menjual satu ginjalnya.

__ADS_1


Dion sangat senang, karena sudah mencari pendonor dengan imbalan hadiah berupa uang. Dan itu memang tidak sia - sia, dia akhirnya mendapatkan pendonornya.


__ADS_2