Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 45


__ADS_3

Kasya sudah puas berbelanja, dia segera kembali ke hotelnya. Karena Perutnya sangat lapar, dia menelepon Axel.


"Sayang, kamu dimana? Aku lapar, ayo makan di Restoran hotel." Tanyanya pada Axel.


"Baiklah, kita bertemu langsung di Restoran." Jawabnya.


Mereka pun bertemu di Restoran. Tanpa memandang tempat, Axel langsung memeluknya.


"Kamu gak tau tempat banget, nanti kebiasaan." Keluh Kasya memukul dadanya pelan.


Axel hanya tertawa, lalu membawanya ke tempat duduk khusus untuk mereka.


"Yiyi, kamu juga duduk sini." Kasya memanggilnya.


"Tidak!" Axel menolak, dia hanya ingin makan romantis berdua dengan Kasya.


Kasya sekali lagi mengalah.


"Dion, duduk di meja sana. Kamu makan bareng sama Yiyi." Akhirnya Kasya menyuruh Dion.


"Baik, Nyonya." Dion patuh.


Mereka makan di dua meja. Setelah makanan datang, Dion dengan sigap memasukkan makanan itu pada piring Yiyi, mata Kasya tak sengaja melihatnya.


"Sayang lihat ke meja Dion, lalu perhatikan tapi jangan sampai kepergok." Kasya berbisik.


Axel kemudian memalingkan wajahnya dengan perlahan, memang benar Dion sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam piring wanita itu.


"Kamu lihat, kan? Apa ada sesuatu diantara mereka berdua. Kenapa aku merasa Dion terlalu perhatian pada Yiyi." Ucap Kasya.


"Kamu suka bergosip juga ya, haha." Axel menggelengkan kepalanya, tapi yang diucapkan Kasya ada benarnya, Dion memang terlalu perhatian pada wanita itu.


"Ah iya sayang, aku mau bertanya. Yiyi asli orang China, kenapa dia pintar bicara Indonesia?" Tanya Kasya, yang baru menyadarinya.


"Katanya, saat dia bekerja serabutan, dia pernah menjadi guru private anak keluarga Indonesia yang menetap di China. Dia bekerja selama 2 tahun." Axel mengangkat bahunya, tak ingin mempermasalahkannya.

__ADS_1


"Hem, aku akan bertanya lagi nanti padanya langsung." Ucap Kasya.


Selesai makan mereka segera pergi menuju ke kamar Kasya, lalu semua belanjaan dibagikan pada Dion dan juga pada Yiyi.


Setelahnya Dion dan Yigi pergi dari sana, Kasya langsung menyuruh Axel mencoba semua baju - baju itu.


"Cepat coba!" Kasya menyuruhnya.


Axel berkata akan mencobanya, tapi dia akan mandi dahulu. Dia berjalan ke dalam bathroom.


Selang berapa lama, ponsel Axel yang di taruh di atas ranjang berbunyi. Kasya mengambilnya dan berjalan ke bathroom.


"Sayang, ponselmu bunyi. Tapi hanya nomer doang, gak ada namanya." Teriak Kasya dari luar bathroom.


"Aku sudah basah dan sebentar lagi selesai, jangan diangkat sayang, mungkin itu panggilan iseng." Jawab Axel dari dalam bathroom.


Tapi Kasya takut itu adalah panggilan penting, dia akhirnya mengangkatnya. Tapi sebelum dia bersuara, terdengar suara seorang pria dari seberang sana.


"Axel, aku tau kamu sekarang mempunyai seorang wanita. Wanita itu juga mempunyai seorang putra, namanya Abyan dan sekarang berada di Amerika. Sekarang dia ada bersamaku, jika kamu ingin dia selamat, datang sendiri ke alamat yang aku kirimkan. Ini adalah balasan, karena telah berani merebut wilayah kasino ku, dan membunuh kakakku! Tut... tut... tut..." Panggilan berakhir.


Axel yang keluar dari bathroom, merasa aneh melihat wajah Kasya yang tegang. Dia segera mendekati Kasya.


"Sayang, ada apa?"


Kasya akhirnya berbalik menatap Axel, matanya terlihat menakutkan. Tangan yang memegang ponsel bergetar, dia menyodorkan ponsel itu pada Axel.


"Orang yang menelepon mu barusan bilang, jika anakku ingin selamat, kamu harus pergi ke tempat yang dia sebutkan. Lalu dia juga bilang kamu sudah membunuh Kakaknya, dan juga merebut kasino? Axel, apa maksudnya? Semua ini tidak benar, kan? Itu hanya telepon iseng seperti katamu kan! Jawab!" Kasya yang awalnya bertanya dengan perlahan, tapi akhirnya dia tak sabar dan berteriak.


Tubuh Axel seketika menegang, wajahnya berubah merah karena marah. Dia langsung mengambil ponselnya dan menelepon Dion.


"Kemarilah, segera!" Teriaknya.


Axel menatap Kasya lalu mendekatinya, tapi Kasya malah mundur menjauh.


"Jangan mendekatiku! Jawab pertanyaan ku! Sekarang!" Kasya mencoba menahan semua emosinya.

__ADS_1


***


Zhuting menutup ponselnya, dia menatap tubuh Byan yang terikat di kursi dan masih tak sadarkan diri.


Zhuting menepuk - nepuk pipi Byan untuk membangunkannya.


"Hei! Bangun!"


Byan masih tak merespon, sekali lagi Zhuting menepuk pipinya.


"Hei!."


Akhirnya bulu mata Byan dengan perlahan mengerjap, dia dengan perlahan membuka kedua matanya. Mata Byan memperhatikan sekeliling, akhirnya dia ingat kalau ada yang membiusnya dan dengan perlahan dia pun tak sadarkan diri.


Byan pun menatap wajah penculiknya.


"Siapa kamu? Apa aku pernah menyinggung mu?" Tanya Byan karena tidak mengerti.


"Kita sebenarnya tidak ada urusan, tapi calon ayah tirimu ada urusan denganku. Jadi jika tidak ingin terluka, diam lah dan menurut. Mengerti!" Ancam Zhuting.


Byan sebenarnya masih ingin bertanya, tapi dia mendengar nada ancaman dalam suara pria penculiknya. Jadi dia hanya bisa diam dan menunggu.


"Anak baik!" Zhuting merasa puas, lalu dia berjalan keluar dan menutup pintu gudang tersebut.


Diluar dia berbicara kepada anak buahnya, agar memperketat keamanan.


***


Emily sedang melihat satu persatu lembaran foto, di dalam foto terlihat Axel sedang memeluk seorang wanita dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia.


Emily meremas foto - foto itu dan melemparnya ke lantai.


"Hahaha, Axel. Kamu pikir aku akan membiarkanmu dimiliki oleh wanita lain! Aku selama ini selalu memperhatikanmu dan aku tau kalau kamu tidak pernah bersama seorang wanita." Ucapnya.


"Jadi selama ini aku selalu bersabar menunggu ayahmu mati, dan menunggu mu kembali padaku! Tapi apa? Beraninya kamu bersama wanita lain! Apa kamu pikir, kamu akan terlepas dariku! Jangan mimpi! Kamu milikku! Hanya milikku!" Raungnya marah, matanya terlihat menyeramkan dia tersenyum dingin.

__ADS_1


"Lihatlah apa yang akan aku lakukan! Hahahaha... hahahaha...!" Terdengar suara tawanya membuat semua bulu kuduk seketika berdiri.


__ADS_2