Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 50


__ADS_3

Jakarta, Indonesia.


Pulau Pribadi.


Seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi roda di halaman depan yang berada dekat dengan pantai, dia menatap indahnya Sunset yang terlukis indah di hadapannya. Terlihat olehnya bayangan wajah seorang wanita yang sedang tersenyum padanya. Wanita yang selama seminggu ini sangat dia rindukan.


Seminggu yang lalu dia baru saja terbangun dari komanya, dengan wajah dan tubuhnya yang sangat kurus dan dengan kedua kakinya yang cacat permanen karena patah tulang.


Saat dirinya terbangun, dia tak bisa menggerakkan kedua kakinya. Dan wanita iblis yang menculiknya itu mengatakan, jika kakinya sudah cacat permanen.


Saat mendengarnya, semua rasa bercampur aduk. Rasa rindu ingin segera bertemu kekasihnya, tapi tertutup oleh rasa tidak percaya dirinya dan juga rasa bersalahnya.


Axel masih ingat tatapan marah Kasya padanya, dan ucapannya agar dia pergi darinya. Apalagi saat Emily mengatakan jika Byan telat mendapatkan donor ginjalnya, hingga tak terselamatkan dan meninggal dunia.


"Sayang... maafkan aku. Semuanya gara - gara aku, kamu kehilangan anakmu. Apakah kecacatan kakiku ini adalah sebuah hukuman. Jika begitu biarkan aku dihukum, dan aku juga tak akan pernah muncul lagi di hadapan mu." Axel menatap bayangan Kasya dengan tatapan rindu.


Emily berada di belakang nya, dan mendengar semua ucapannya. Dia tersenyum puas, karena Axel mudah sekali dibohongi. Tidak sia - sia dia menjauhkan semua alat komunikasi, dan tak membiarkan Axel tau apa yang terjadi diluar pulau ini.


Dia juga tersenyum senang karena satu lagi kebohongannya tak bisa diketahui Axel, dia berbohong tentang cacat permanen kedua kakinya. Emily hanya menginginkan kedua kaki patah tulangnya, benar-benar menjadi cacat permanen.


Dia memang sengaja tidak mengobati Axel, dan membiarkan patah tulang kakinya tidak dapat menyatu lagi. Dan juga agar membuat saraf dan pembuluh darahnya menjadi rusak, sehingga Axel akan benar-benar akan menjadi cacat permanen.


Jika dia tidak bisa memiliki Axel dan membuat Axel tak bisa jatuh cinta lagi padanya, maka dia akan membuat Axel ada di sampingnya sampai akhir dan bukan berada di samping wanita lain.


"Axel, matahari sudah hampir tenggelam. Sebentar lagi malam, angin malam tidak baik untuk tubuhmu yang belum sehat." Ucap Emily lembut dan perhatian.


Axel tidak ingin mendengarnya ataupun menatapnya. Dia sangat benci mendengar suaranya, apalagi melihat wajahnya. Emily benar-benar sudah gila, sampai berani menculik dan menahannya.


Tapi mungkin ini juga adalah hukuman lain untuknya, karena telah menyakiti wanita yang dicintainya. Dia harus bersama wanita yang dibencinya, dia juga memang tak punya keinginan untuk pergi dari tempat Emily menahannya.


Kasya maafkan aku, aku tak punya keberanian menemuimu. Bahkan jika aku tidak cacat pun, aku tak punya nyali. Apalagi dengan keadaanku yang cacat seperti ini. Sayang, maafkan aku yang tak bisa kembali padamu. Batinnya sedih.


Tanpa ingin dibantu Emily, Axel menekan tombol kursi roda listrik elektrik otomatisnya. Dia menjalankan kursi roda itu masuk ke dalam, yang bagaikan neraka baginya. Tempat hati dan tubuhnya tersiksa, karena rasa sakitnya.

__ADS_1


Emily yang melihatnya pergi, hanya menatapnya datar. "Axel, ayo kita habiskan sisa hidup kita bersama disini. Tidak akan ada yang tahu kita berada disini, bahkan ayahmu. Karena dulu aku membeli pulau ini, dengan nama orang lain." Emily tersenyum senang.


***


Abyan dan Marsya sedang mengobrol dengan para tamu, tamu yang tak disukai Byan juga datang.


"Selamat, akhirnya kamu mendapatkan Marsya. Jaga dia, kalau kamu menyakitinya lagi, maka saat itu aku akan merebutnya darimu." Sammy berbisik ke telinga Byan.


Byan menahan amarahnya, dia pun membalas Sammy dengan berbisik.


"Jangan harap, selamanya Marsya adalah milikku. Tidak ada celah diantara kami yang bisa kamu masuki." Byan menepuk pundak Sammy, lalu tersenyum.


Sammy menatapnya dan akhirnya menghela nafasnya. Dia akan berhenti berharap pada Marsya, karena Marsya sudah menjadi milik lelaki lain.


"Tepati ucapanmu." Lalu Sammy melangkahkan kakinya menjauh.


"Kalian para lelaki saling berbisik apa?" Tanya Marsya sedikit penasaran.


"Ah, hanya basa-basi biasa." Byan mengangkat bahunya, lalu memeluk mesra wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Sammy sedang meminum segelas wine, tatapan matanya terlihat sendu. Dia memang sudah melepaskan Marsya, tapi bukan berarti hatinya tidak sakit.


"Haish, cowo ganteng, kamu masih belum bisa move on. Sudahlah! Kamu tau kan lagu L*sti Kejora. Kamu harus seperti lagunya 'Kulepas Dengan Ikhlas'." Ucap Adelin bercanda, sambil menyenggolnya.


"Haha, kamu tinggal di Amerika, tapi malah tau lagu - lagu Indonesia. Dangdut lagi." Sammy akhirnya tersenyum.


"Jangan salah, hobby ku adalah berselancar di internet. Dan karena darahku setengah Indonesia, aku juga bangga dengan lagu-lagu Indonesia. Semoga orang asli Indonesia, mencintai hasil karya orang-orang Indonesia itu sendiri. Jangan kalah sama aku, yang hanya setengah berdarah Indonesia." Ucap Adelin.


Sammy yang mendengarnya, menatap Adelin dengan pandangan baru. Ternyata meskipun usianya masih 17 tahun, tapi pola pikirnya ternyata sudah luar biasa.


"Gadis pintar." Sammy tersenyum memujinya.


"Apa kak Sammy hanya menganggapku hanya seorang gadis?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tidak! Tapi aku juga sudah menganggapmu seperti adik perempuanku sendiri." Jawabnya.


Lihat saja sampai kapan kamu masih tetap dengan pendirianmu kak Sam, contohnya ada di hadapan kita. Kak Byan juga awalnya seperti kamu, hanya menganggap kak Marsya sebagai adiknya. Tapi masa Depan tidak ada yang tahu kan? Batin Adelin bertekad.


Saat tengah malam, acara resepsi pun selesai. Mereka semua bersiap pergi dari hotel.


"Nyonya, ayo." Ucap Dion.


"Dion, aku bisa minta diantar Rama. Kamu pergilah istirahat." Tolak Kasya.


"Rama masih sedang sibuk mengurus semuanya, ayo." Ucapnya.


Kasya akhirnya hanya menurut, tubuhnya memang benar-benar sudah kelelahan dan ingin segera beristirahat.


Setelah Dion mengantarkan Kasya pulang ke rumahnya dengan selamat, dia segera pergi dari sana.


Meskipun sudah larut malam, Dion tetap melajukan mobilnya ke rumah keluarga Arkananta.


***


Ayah Axel sedang menatap sebuah laporan dari anak buahnya di ruang kerjanya. Setelah kepergian istrinya dari rumah dan istrinya itu menghilang, dia selama tiga bulan ini selalu mencarinya.


Apalagi dia juga mendapat kabar dari Dion kalau anaknya Axel juga ikut menghilang saat mengalami kecelakaan. Dia akhirnya menduga, sepertinya istrinya lah yang membawa pergi Axel.


Hari ini dia sedikit mendapatkan petunjuk tentang keberadaan istrinya, dengan cepat dia menelepon Dion.


"Tuan Besar, Tuan Dion sudah datang." Ucap kepala pelayan.


"Suruh dia masuk."


Tak berapa lama, Dion masuk dengan wajahnya yang penuh harapan.


"Tuan besar, bagaimana?" Tanya Dion tak sabar.

__ADS_1


Ayahnya Axel melempar sebuah map pada Dion, Dion segera mengambilnya lalu membukanya.


Mata Dion seketika sedikit berbinar, dia benar - benar berharap petunjuk di dalamnya akan membawanya pada keberadaan Bos nya.


__ADS_2