
Emily sedang mendengarkan penjelasan dari Dokter khusus yang dia bayar mahal, Dokter itu sedang menjelaskan kondisi Axel.
"Jadi kesimpulannya Nyonya, penyakit tuan Axel karena rasa kebencian yang teramat sangat pada seorang wanita yang pernah mengkhianatinya. Penyakit fobia wanita ini, terjadi sekitar 10% kepada lelaki di dunia. Dengan fobia yang bermacam-macam. Contohnya, ada lelaki yang karena dikhianati wanita, dan akhirnya menjadi fobia wanita, hingga lelaki tersebut menjadi g*y. Lelaki itu mematikan perasaannya pada semua wanita dan akhirnya mencintai sesama lelaki." Dokter itu menjelaskan.
"Sedangkan dalam kasus tuan Axel, akibat yang akan terjadi padanya adalah jika bersentuhan dengan wanita, Anda tadi sudah melihat sendiri bagaimana jadinya. Gejala pertama nya, kulitnya akan timbul ruam merah, lalu tubuhnya akan mengejang, kemudian dia akan sesak nafas dan akhirnya tak sadarkan diri. Dan paling berbahaya, itu akan berujung pada kematian." Dokter itu masih menjelaskannya.
"Lalu, apakah ada obatnya?" Tanya Emily penuh harap.
"Para ahli medis di kedokteran sudah menelitinya sejak lama, dan sudah berusaha mencoba membuat obatnya. Tapi sayang keberhasilannya hanya 60%, dan sisanya gagal. Jadi jawaban dari pertanyaan Anda, saat ini belum ada obatnya." Jawab sang Dokter.
Emily sedikit melamun, dia tak tahu jika selama ini kondisi Axel benar-benar sangat buruk setelah mereka berpisah. Dia hanya tau Axel sering pergi ke psikiater, karena mempunyai trauma. Dan dia juga tahu, jika traumanya itu sudah lama sembuh.
Setelah Dokter itu selesai menjelaskan, Emily menyuruh Dokter khusus itu pergi dari sana. Agar Dokter itu kembali ke rumah kecil di pulau itu, tempatnya tidur selama 3 bulan.
Emily lalu menatap bawahannya dengan tidak senang, dia marah karena dia tidak tahu penyakit Axel yang fobia wanita.
"Anton, kenapa penyakit fobia wanitanya kamu tidak laporkan kepadaku?!!" Bentaknya.
"Maaf Nyonya tapi saya tidak tau, sepertinya itu benar-benar dirahasiakan oleh tuan Axel." Balas Anton sambil menunduk.
"Kamu tahu itu sangat berbahaya, bagaimana jika dia tadi mati?!" Emily masih kesal.
Emily lalu mengingat kembali saat Axel baru saja terbangun dari komanya, saat itu dia ingin menyentuhnya. Tapi Axel malah mengambil dan melemparkan sebuah jam weker, yang ada di meja kecil samping tempat tidur ke arahnya.
Seketika darah merah segar mengalir dari dahinya. Emily menatap Axel dengan pandangan tak percaya, sambil tangannya mengusap darah yang mengucur ke sebelah matanya.
"Axel! Apa yang kamu lakukan!" Emily masih tak percaya dan menatapnya heran, dia hanya berpikir sebegitu bencikah Axel padanya.
"Wanita Jal*Ng! Jangan pernah berani menyentuhku! Menjauhlah! Kalau tidak, bukan hanya dahi mu yang berdarah. Tapi semua anggota tubuhmu akan aku hancurkan!" Teriaknya.
Sekarang Emily mengerti semua alasannya. Lalu dia mengingat kembali kejadian 1 jam lalu.
__ADS_1
Flashback 1 jam lalu ON.
Dia sedang memandangi tubuh kurus Axel, tapi terlihat jelas dimatanya otot-otot seksi yang tersisa di lengan dan perutnya.
Seketika darahnya menjadi panas, dia mengingat saat mereka masih menjadi suami istri dulu, tubuh Axel tak berotot seperti sekarang.
"Kalian pergilah!" Dia memerintahkan para bawahannya untuk segera pergi yang sedang membantu Axel berganti pakaian.
Axel lah yang meminta darinya saat dia tersadar, dia memintanya hanya para lelaki yang harus mengurusnya.
Kedua bawahannya pun pergi, meninggalkannya bersama Axel yang masih bertelanjang dada di tempat tidur.
"Emily, bukankah meskipun kamu wanita jal*ng. Setidaknya kamu harus lihat aku adalah pria cacat! Jadi jangan berbuat macam-macam padaku! Kalau tidak, kita akan mati bersama!"
"Ya, kamu benar. Kita akan mati bersama, tapi mati dalam kenikmatan." Ucapnya, sambil membuka ikatan gaun tidur luarannya.
Dia berjalan mendekati Axel hanya dengan memakai lingerie seksinya, lalu mendekati Axel di tempat tidur yang hanya memakai celananya.
Tapi dia tak ingin mendengar teriakan Axel, kini dia sudah naik ke tempat tidur. Dia mengulurkan tangannya menyentuh Axel, tapi Axel langsung mencekik lehernya dengan kedua tangannya, sekarang dadanya terasa sesak.
"Axel... lepas... kan..."
"Aku bilang kita akan mati bersama!!!"
Axel mencekik lehernya sampai dia benar-benar tak bisa bernafas. saat dia sudah pasrah, tiba-tiba kedua tangan Axel terlepas dari lehernya.
Dia secepatnya menarik nafas panjang, dadanya masih terasa sakit. saat nafasnya mulai tenang kembali, dia menatap pada Axel.
"Axelllll, tidak! Apa yang terjadi padamu?! Kenapa tubuhmu kejang-kejang. Tunggu! Anton! Beni! Cepat kemari!"
"Tidak Axel, tunggu aku akan segera memanggil Dokter. Aku mohon, jangan begini. Maafkan aku, Axel sadarkan dirimu!"
__ADS_1
Flashback OFF.
Emily menarik nafasnya, dia benar-benar merasa bersalah. Bagaimana pun dia hanya ingin Axel bersamanya, bukan ingin membunuhnya.
Dia melangkah kakinya menuju kamar tempat Axel berbaring, dia ingin melihat kondisinya sekarang. Dia membuka pintu kamarnya perlahan, dan terlihat olehnya wajah Axel yang terpasang alat pernapasan.
Emily melihat Axel masih tak sadarkan diri, dia berjalan masuk ke dalam kamar.
Dia berdiri di samping tempat tidurnya, tempat berbaring Axel selama tiga bulan ini.
"Axel maafkan aku, aku benar-benar tidak tau kalau kamu selama ini sangat menderita. Aku mengira kamu hanya punya trauma." Air matanya akhirnya berjatuhan.
"Cepatlah bangun, jika kamu bangun, aku akan segera mengembalikan mu pada kekasihmu. Apakah kamu tau? Kamu akan segera punya anak, bukankah dulu saat kita bersama, kamu terus saja memimpikan mempunyai seorang anak. Sampai aku menjadi stres, karena tak bisa jujur padamu. Bahwa aku tak pernah bisa hamil, karena Dokter sudah memvonis ku mandul." Isaknya.
"Tapi kamu hanya perduli pada keinginan mu sendiri, dan pada pekerjaan mu, kata-katamu yang selalu ingin cepat-cepat mempunyai anak, sampai aku merasa tak tahan lagi. Apalagi kamu selalu saja pergi mengurus bisnismu, sampai tak pulang selama berbulan-bulan. Aku juga seorang wanita normal, aku butuh belaian kasih sayang... aku hanya merasa kesepian dan tak bisa menahan nafsuku, lalu merayu ayahmu. Tapi itu hanya sekali, di malam kamu pulang dari dinas luar, lalu memergoki kami di tempat tidur." Ucapnya masih dengan tangisannya.
"Jadi Axel... aku..."
"Emily cukup.... Aku sudah mendengar, kau terlalu banyak bicara." Axel ternyata sudah membuka kedua matanya, lalu dia membuka alat pernapasannya.
"Axel, kamu bangun, huhuhu... maafkan aku, aku salah." Isaknya lagi.
"Emily, aku sudah mendengar semuanya dan kini aku sudah mengerti. Dalam pernikahan kita dulu, ternyata bukan hanya kamu yang bersalah tapi aku juga. Aku tidak tau kamu sangat kesepian dan menderita dalam pernikahan kita, dan selama ini aku mengira hanya aku lah yang tersakiti. Aku juga minta maaf... maafkan aku." Axel menatap Emily dengan penuh kata maaf.
"Axel, dulu kamu memang salah. Kamu benar-benar seperti bang Toyib, yang jarang pulang. Kamu memang pria paling menyebalkan! Haha." Akhirnya Emily tak bisa menahan tawanya, dia juga merasa lucu mendengar Axel ternyata bisa meminta maaf padanya.
"Axel, aku tetap bersalah dan akan meminta cerai dari ayahmu. Aku akan pergi dan menjalani hidupku sendiri, menikmati kebebasanku." Emily tersenyum hangat.
"Itu adalah keputusanmu, aku hanya mendoakan kamu bahagia dengan pilihanmu." Axel balas tersenyum.
"Ah! Kamu tadi bilang aku akan punya anak. Maksudmu anakku dengan Kasya?" Axel baru teringat, matanya menatap Emily dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1