Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 54


__ADS_3

Setelah mereka semua berpisah, Dion pulang ke apartemennya. Tapi saat mengingat Bos nya, dia langsung teringat Kasya.


Dion akhirnya mengambil kunci mobilnya, dan pergi dari sana. Dia mengendarai mobil Lamborghini Aventador miliknya dengan cepat.


Tak berapa lama akhirnya dia sampai, dia melihat Kasya sedang duduk di bangku taman, terlihat sedang melamun dengan tatapan mata sedihnya.


Dion mengepalkan kedua tangannya, dia semakin marah pada Bos nya.


"Kenapa Bos? Kenapa kamu dengan teganya ingin menyakiti wanita yang sangat mencintaimu! Kamu tau masa lalunya, kenapa sekarang malah kamu yang ingin menggoreskan luka di hatinya?!!" Geram Dion marah.


Dion berjalan mendekati Kasya, dia mencoba menarik nafas agar kembali tenang. Dion berhenti dan berdiri sekitar 1 meter jauhnya dari Kasya.


"Nyonya...."


Kasya berpaling padanya, dia menatap Dion dan menyadari jika Dion terlihat sedikit berbeda.


"Dion, ada apa? Wajahmu merah, apakah kamu sakit?" Kasya bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Dion.


Tangannya repleks terangkat ke arah dahi Dion, untuk mengecek suhu tubuhnya. Tapi belum juga sampai tangannya ditahan oleh Dion, Kasya seketika tersadar dan tersenyum padanya.


"Maaf Dion, aku hanya khawatir. Maafkan aku, tanganku hanya spontan." Ucap Kasya.


"Tidak apa-apa Nyonya. Dan saya tidak sakit, terimakasih. Ayo masuk, ada yang ingin saya bicarakan." Kata Dion.


Kasya menganggukkan kepalanya, dan berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam Rumah.


"Ada apa Dion?" Tanya Kasya sambil duduk.


"Ah, aku akan memanggil bi Yati dan membuatkanmu Jus alpukat agar segar. Wajahmu masih merah, kalau tidak sakit, pasti kamu baru pulang dari bekerja diluar kan?" Ucap Kasya, lalu memanggil pembantunya.


"Bi Yati... tolong kemari." Teriaknya.


"Iya Nyonya, ada apa?"


"Tolong buatkan Jus alpukat pakai susu sedikit, dan jus untukku seperti biasa ya." Pintanya.


"Baik, Nyonya." Jawabnya seraya pergi.


"Nyonya, Anda masih ingat jus kesukaan saya." Dion memandangnya penuh makna.


"Hahaha, Dion. Bagaimana aku tidak ingat, di Amerika setiap hari kamu buatkan aku jus jeruk, lalu kamu buat jus alpukat untukmu sendiri. Mataku tidak buta Dion dan bisa melihatnya." Kasya tersenyum.


Aku sudah senang dia ingat jus kesukaanku, eh ternyata! Batin Dion kecewa.


"Nyonya, boleh saya bicara sesuatu?" Dion memulai obrolannya.


"Tentu, ada apa sebenarnya Dion?" Kasya penasaran.


"Begini, itu..." Dion tiba-tiba merasa tak yakin mengatakannya.


Kasya masih terdiam melihat tingkahnya.


"Anu... I-itu...." Dion kebingungan.


"Dion?" Kasya merasa aneh.


Dion benar-benar ingin jujur tentang Bosnya, tapi dia teringat ucapan Denis. Matanya melirik ke arah perut Kasya, seketika hatinya mencelos.


"Tidak ada apa-apa." Dion akhirnya tak jadi mengatakannya.


Setelah mengobrol sebentar, Dion pun pamit ingin pergi. Tapi hatinya merasa ada yang mengganjal, akhirnya dia memberanikan diri bertanya pada Kasya.


"Nyonya, jika lelaki yang kamu cintai cacat kakinya. Apakah anda masih akan menerimanya dan masih bisa mencintainya?" Ucap Dion dengan nada serius.

__ADS_1


"Ada apa dengan pertanyaan mu? Dion, apakah kamu masih belum mengenalku? Tentu saja aku akan tetap mencintainya. Wanita seperti apa yang akan meninggalkan pria yang dicintainya, disaat pria itu seharusnya mendapatkan dukungan dan membutuhkannya. Jika aku seperti itu, bukankah aku adalah wanita yang tak punya hati?" Ucap Kasya menatap Dion dengan ketegasan di matanya.


Dion melihat ke dalam mata Kasya yang penuh dengan ketegasan, dia pun menghela nafasnya dan berjalan keluar dari rumah itu.


Kasya masih menatap kepergian Dion dengan kebingungan, dia benar-benar tak punya prasangka apapun.


Saat diluar dia menatap para pengawal Bos nya dulu, yang sekarang sudah dia tempatkan di kediaman Kasya. Dia membagi dua kelompok pengawal nya, separuh ikut dengannya.


Dion berjalan mendekati William.


"Will, selalu jaga keamanan yang benar. Jika ada apa-apa dengan Nyonya Kasya, telepon aku secepatnya." Setelah mengatakannya, Dion pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


Kemudian dia mengendarai mobilnya pulang ke apartemennya, dia segera memanggil Smith.


"Smith, kenapa semenjak kita pergi dari pulau itu, kamu diam saja dan tak berkata apapun padaku?" Dion bertanya padanya.


"Begini Tuan, sebenarnya saya merasa ada yang aneh dengan sikap Bos. Tapi saya juga tidak tau apa?" Smith menjawab dan mengangkat bahunya.


"Aku tadi sepertinya terlalu emosional, apakah kita melewatkan sesuatu tentang Bos? Pikiranku biasanya mengerti apa kemauan Bos, tapi tadi aku tidak bisa menilainya, karena pikiranku sudah termakan emosi. Menurut mu apa ada sesuatu dengan Bos kita?" Dion sekarang merasa bingung.


"Ya, biasanya Anda lah yang selalu tau apapun tentang Bos. Anda selalu bilang, anda adalah Avatar nya. Tapi mungkin emosi Anda tadi terlalu tinggi, jadi ada yang terlewatkan." Smith mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu kenapa kamu malah ikut pulang bersamaku, dan tidak diam disana menjaga Bos mu?" Dion baru tersadar.


"Mana bisa saya tinggal dengan Bos, Anda saja sudah diusir pergi, apalagi saya." Smith menggelengkan kepalanya.


Dion menghela nafasnya, sepertinya tadi dia terlalu emosional dan terburu-buru, sampai tak berpikir jernih, dan tidak menaruh pengawal di tempat Bos nya berada.


"Sudahlah! Nanti sore pergilah kesana dan bawa beberapa pengawal bersamamu. Jaga Bos disana, aku tidak terlalu memerlukan mu disini. Dan jika Bos mengusir kalian, jangan dengarkan. Kalian diam saja, mengerti." Perintah Dion.


"Ok."


Saat sore hari Smith pergi bersama beberapa pengawal, tapi setelah beberapa jam dan hampir tengah malam mereka malah kembali dengan tertunduk lesu.


"Smith! Kamu benar-benar sudah memeriksanya?! Setiap sudut ruangan, pasti ada sedikit jejak atau petunjuk! Kenapa kalian bekerja dengan tidak becus!" Dion marah, terutama pada dirinya sendiri.


"Argghhtt!!! Bos, kamu menghilang kemana lagi? Ada apa sebenarnya?!" Dion merasa frustasi.


"Besok, kita kesana lagi. Aku akan memeriksanya sendiri!" Ujarnya.


Keesokan harinya...


Pencarian di sekitar semua pulau di kepulauan seribu dilakukan, mereka memeriksa setiap sudut kepulauan seribu itu. Tapi hasilnya sama seperti saat pencarian di New York, Nihil. Bos mereka, sekali lagi menghilang tanpa jejak.


Semuanya kembali dengan tangan kosong. Dion menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dirinya harus seemosional itu pada Bos nya.


Saat pulang ke apartemennya, dia menelepon Denis dan menceritakan semuanya.


"Tuan Denis, saya harus bagaimana sekarang? Semuanya adalah kesalahan saya." Lirihnya.


"Dion, semuanya sudah terjadi. Penyesalan memang selalu datang terakhir, kita hanya bisa mencarinya lagi dari Nol. Tetap jangan menyerah." Ucap Denis.


"Yaaahh...." Balas Dion pasrah.


***


6 Bulan Kemudian.


Kasya sedang berbaring merasakan rasa sakit di perut bawahnya dan juga pinggang belakangnya yang terasa panas. Kasya tau, itu adalah kontraksi, dan semakin lama jarak waktu sakitnya semakin berdekatan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat nama putranya Byan muncul dilayar ponsel.


Kasya langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo, Byan."


"Mah, aku sudah membawa Marsya ke Rumah Sakit, perutnya sudah merasa kesakitan. Sekarang dia sudah di dalam ruang bersalin. Aku sendirian disini, tadi Ibu Ranti dan papah Denis sedang di acara ulang tahun temannya dan sekarang sedang dalam perjalanan kesini." Kata Byan di seberang telepon.


"Benarkah, syukurlah. Kamu harus masuk dan memberi dukungan pada Marsya. Melahirkan sangat berat nak, temani istrimu. Mm..." Ucap Kasya, sambil menahan suaranya agar sakit kontraksinya yang datang lagi, tidak terdengar Byan.


"Kenapa suara mama, apa mama sakit?"


"T-tidak... kamu fokus saja pada istrimu. Jangan jauh-jauh darinya, masuklah ke dalam." Kasya sudah tak bisa menahan rasa sakitnya, dan ingin segera mengakhiri teleponnya.


"Baiklah, mama tutup..." Setelahnya telepon dimatikan.


Kasya turun dengan perlahan dari ranjang, sambil tangannya memegang perut bawahnya. Tiba-tiba dia merasa air ketubannya pecah, dan perutnya kesakitan dengan sangat hebatnya.


"Bi! Bi... tolong aku... Bi... perutku sakit...." Teriaknya minta tolong.


Bi Yati masuk ke dalam kamar Kasya, dia kaget saat melihat majikannya sudah duduk dilantai, dan sedang menyender ke samping ranjang sambil memegang perutnya, dengan air ketuban yang sudah mengalir ke kakinya.


"Nyonya! Tunggu, saya akan meminta pengawal diluar segera membawa Nyonya." Bi Yati lalu berlari dengan sangat cepat keluar, tapi saat di depan pintu, untung saja Dion ternyata datang.


"Tuan Dion... Nyonyah... Nyonyah.... tolong..." Ucap Bi Yati tergagap.


Dion tak ingin mendengarkan nya lagi, dia langsung berlari ke kamar Kasya, lalu masuk dan mendekatinya.


Mata Dion langsung melihat cairan di sela kakinya, yang menggenang di lantai.


"Apakah sudah waktunya?" Tanyanya sambil berjongkok.


"Ya, bantu aku Dion... sakit sekali... Papah aku berjalan." Kasya berusaha mengangkat tubuhnya, sambil meringis kesakitan.


Dion tak tahan melihatnya, tanpa berkata apapun bahkan tak meminta ijin terlebih dulu, dia langsung mengangkat tubuh Kasya dan membopongnya berjalan keluar.


"Dion... turunkan aku... tubuhku berat.. ahhhh... perutku...." Suara Kasya terdengar lirih.


"William! Cepat minta ijin, dan kosongkan jalan! Nyonya akan segera melahirkan!" Perintahnya.


"Baik!" Semua pengawal segera berlari ke mobil mereka.


"Smith buka mobilnya."


"Dion... sakit... sakit..." Kasya mengeratkan pegangannya pada lengan kemeja Dion.


Dion menatap wajah Kasya dan berbicara padanya. "Tenanglah, aku bersamamu. Tidak akan pernah terjadi apapun padamu, percayalah padaku." Setelah mengatakannya, Dion masih sambil membopong Kasya masuk ke dalam mobil di bagian belakang.


"Smith cepat!"


Kemudian Smith segera melajukan mobilnya pergi, dengan mobil-mobil berwarna hitam para pengawal yang berada di depan mobil mereka.


Kasya terlihat semakin kehilangan kesadarannya, dia merasa sudah tak tahan lagi.


"Sa... kit... Axel... Axel... anak kita... Axel..."


Dion merasa ketakutan dan akhirnya dia panik, dia melihat kesadaran Kasya semakin sedikit.


"Tidak! Kasya! Buka matamu! Aku bilang buka matamu, aku tak mengijinkan kamu kenapa-napa. Bertahanlah, aku mohon... aku mohon..." Air mata Dion menetes terjatuh ke pipi Kasya.


Mata Kasya akhirnya terbuka kembali, tatapan tak fokusnya menatap Dion yang terlihat seperti sosok Axel.


"Sayang... jangan menangis. Anak... kita, akan... baik... baik... saja... aku akan bertahan... Aaaaaa...." Kasya menjerit kesakitan lagi, dia berusaha menarik nafas melalui hidung nya dan mengeluarkan lewat mulutnya.


"Smith! Lebih cepat!" Teriak Dion tak sabar.


Akhirnya mereka pun sampai di Rumah Sakit.

__ADS_1


__ADS_2