
Dion tadinya ingin masuk ke dalam kamar hotel sang Bos untuk melihat keadaan Bos-nya yang masih belum bangun karena minum - minum bersama Raka Dirga, setelah mereka berdua selesai bermain di Kasino semalam.
Tapi saat teringat kelakuannya barusan, dia merasa bersalah dan akhirnya masuk ke dalam kamar hotelnya sendiri.
Dion berjalan ke arah bathroom, dia membasuh wajahnya kasar dengan air. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, dengan tatapan matanya yang sangat tajam.
"Hei Dion! Ingat, kamu tidak akan seperti sekarang jika bukan karena Bos-mu! Bahkan dia sudah seperti kakakmu sendiri. Dia yang menolongmu ketika kesulitan, saat kamu lelah dengan hidup ini! Jika bukan karena dia, orang tuamu tidak bisa di operasi! Dia juga dulu yang menyekolahkan semua adikmu! Kamu gila, kamu brengsek!" Rutuk Dion memarahi dirinya sendiri, memandang pantulan dirinya di cermin.
"Hei! kamu mata! Kondisikan tatapanmu! Kamu menatap wajah siapa, dia calon Nyonya-mu! Hei Jantung, kamu jangan berdebar, sekalian saja jangan berdetak dan mati saja kalau masih berdebar! Hei Hati! Jangan merasakan perasaan apapun! Kalau masih merasakannya, kamu akan aku congkel keluar! Jadi, kalian para organ tubuhku, jika masih ingin hidup, menurutlah!" Dion berbicara sambil menunjuk satu - persatu organ tubuhnya yang dia marahi.
Dion akhirnya membuka shower dengan suhu paling dingin, agar pikirannya waras kembali.
***
Jam 9 pagi, Axel akhirnya terbangun. Kepalanya terasa sangat berat, karena semalaman dia diajak minum oleh Raka. Mereka terus saja bersaing, dengan menonjolkan kemampuan masing - masing.
Setelah bertarung minum sampai beberapa botol, akhirnya mereka berdua sama - sama tumbang.
"Arggghtt!" Axel yang berusaha membuka kedua matanya, memegang kepalanya yang sakit.
"Dion!" Teriaknya seperti biasanya.
Tapi anehnya, orang yang biasanya siap siaga, sekarang malah tak muncul.
"Dionnnn!!!" Sekali lagi Axel memanggilnya.
Akhirnya yang muncul adalah salah satu pengawalnya.
"Maaf Bos, Tuan Dion belum kembali sejak mengirimkan sarapan ke kamar Nyonya Kasya." Kata pengawal itu.
"Sejak kapan?" Axel bertanya.
"Sejak jam 8 pagi."
"Sekarang jam berapa? Apa aku bangun terlalu siang?" Tanya Axel.
__ADS_1
"Tidak terlalu siang Bos, ini jam 9." Jawab pengawal itu.
"Hem, aneh. Kemana bocah itu? Sudahlah! Ambilkan obat penghilang rasa mabukku!." Perintahnya.
Setelah Axel meminumnya, dia bangun dan beranjak ke kamar mandi. Dia ingin segera menemui Kasya karena sejak kemarin siang dia tak bertemu dengannya, hatinya sudah merindukannya.
"Kasya, padahal baru sebentar kita tak bertemu, tapi aku sudah rindu. Apa aku terlihat seperti remaja yang belum pernah berpacaran? Hahaha... terserah! Aku hanya tidak ingin menyia - nyiakan waktu setiap detik bersamamu yang sangat berharga." Axel tersenyum konyol benar - benar seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta.
Setelah Axel sudah bersiap dan akan menemui Kasya di kamar hotelnya. Barulah Dion muncul dengan wajah seperti biasanya.
"Dion, kamu! Haish, sudahlah. Aku akan menemui Kasya dulu, kamu berilah puluhan tangkai mawar, kalau perlu ratusan. Cepat sana!" Axel menyuruh Dion masih sambil dengan wajah yang berseri - seri.
Bos, apakah kamu sebahagia ini? Batin Dion.
Dion akhirnya pergi melaksanakan perintah Bos-nya.
Tok...tok...tok.
Axel mengetuk pintu kamar hotel Kasya.
Saat pintu terbuka, dia tersenyum lembut melihat penampilan Kasya yang sederhana hari ini, seperti wanita muda yang masih kuliah.
"Cantik sekali." Axel memujinya sambil tersenyum manis.
Kasya menunduk malu, Axel yang melihatnya merasa ingin menciumnya.
"Ekhem. Kamu gak nyuruh aku masuk." Ucapnya.
"Ah, maaf. Masuklah." Jawab Kasya.
Mereka berdua duduk, masih saling diam karena kegugupan mereka. Kasya yang akhirnya memulai obrolan.
"Bagaimana semalam dengan Raka, dia tidak merepotkanmu bukan?" Kasya tau Raka selalu jahil pada orang, apalagi pada orang baru.
"Tidak, dia baik dan sangat friendly." Jawab Axel, padahal dalam hatinya ingin memukulnya satu kali saja jika mengingat ucapannya semalam.
__ADS_1
"Gitu. Ah Axel, terima kasih sarapan pagi ini dan kartunya juga." Kasya tersenyum manis.
"Kasya, jika kamu mulai menerima pendekatan ku. Jangan katakan terima kasih dan maaf padaku, oke." Axel membalas senyumannya.
"Baiklah, Axel boleh aku mengatakan sesuatu?" Kasya menatapnya serius.
"Bicaralah."
"Axel, ayo kita bersama." Kata Kasya langsung.
Wajah Axel masih biasa saja, karena dia belum mengerti.
Kasya yang melihat respon dari Axel pun tersenyum.
"Axel, tidak perlu ada masa pendekatan lagi. Aku juga menyukaimu, jadi ayo kita menjadi pasangan kekasih." Ucap Kasya terlihat malu, dia menggigit bibirnya lalu menundukkan kepalanya.
Axel yang terkejut masih saja terdiam, karena dia sedang mencerna semua perkataan dari Kasya. Lalu ketika akhirnya dia mengerti, dia langsung berdiri dan menarik lembut tubuh Kasya agar berdiri bersamanya.
Kemudian tanpa aba - aba, Axel menggendong Kasya ala bridal, lalu memutar - mutar tubuh wanita yang dicintainya itu sambil tertawa lepas.
"Hahahaha, wnita berduri - ku, terima kasih. Aku berjanji akan menjagamu, akan semakin mencintaimu. Hanya kamu." Axel lalu menurunkan tubuh Kasya yang juga tertawa bahagia dari gendongannya.
Wajah mereka menghangat karena sangat bahagia, Axel menatap lembut bibir Kasya.
Kasya pun melihat arah tatapan mata Axel, lalu dia membelitkan kedua tangannya ke leher Axel dan menatap matanya.
"Axel, mulai sekarang jika ingin menciumku, tidak perlu meminta ijin dariku lagi. Kamu sekarang memiliki hak atas diriku." Kasya semakin menempelkan tubuh mereka berdua.
Axel tak berpikir lama, dia langsung menarik pinggang Kasya dengan sebelah tangannya, satu tangannya lagi menahan belakang kepala Kasya, lalu Axel mencium bibirnya dengan sangat bergairah.
Kasya membalas ciuman Axel dengan sama bergairah, mereka saling menikmati rasa yang mengalir diantara mereka. Axel mengangkat tubuh Kasya dengan tangan kuatnya, dan kaki Kasya melingkari pinggang Axel.
Axel menekan tubuh Kasya ke dinding kamar, dengan kaki Kasya yang masih melingkari pinggangnya.
Lengan berotot Axel melingkari tubuh Kasya dibarengi lengan Kasya melingkari kepala Axel. Mereka masih berciuman dengan begitu bergairahnya, sampai merasa hanya ada mereka berdua di dunia.
__ADS_1
Bahkan Dion yang mengetuk pintu berapa kali pun, mereka berdua tak mendengarnya.
Saat Dion yang tidak berpikiran macam - macam membuka pintunya, dia terperangah melihat adegan mesra di depan matanya. Tangannya yang sedang memegang puluhan tangkai mawar merah pun bergetar, sampai bunga - bunga itu berjatuhan satu persatu dari genggaman tangannya.