
Jakarta, Indonesia.
3 Bulan Kemudian.
"Mama, dimana jas ku?" Tanya Byan, mencari jas resepsinya.
"Ya ampun Byan, kenapa ribut sekali." Kasya mengomel sambil memberikan jas nya.
"Makasih my sweetheart, bagaimana kabar adikku hari ini di dalam sana?" Byan berjongkok dan berbicara pada perut ibunya.
"Baik kakak, aku hari ini sangat sehat." Balas Kasya menirukan suara anak kecil.
"Baiklah, karena ini hari resepsi pernikahan kakak, kamu harus nurut sama mama ya." Tangan Byan mengelus sayang perut ibunya, yang sedang hamil hampir 13 minggu.
"Sudah, nanti kita terlambat datang ke hotel." Ucap Kasya.
Hari ini adalah hari acara resepsi pernikahan Byan dan Marsya. Mereka menikah kemarin dan sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Apa Marsya dan orangtuanya sudah pergi ke hotel? Kamu sudah meneleponnya? Bagaimana dengan mual - mual paginya?" Kasya memberondong Byan dengan pertanyaan.
"Kenapa hamil Marsya dan hamil Mama beda banget? Mama gak muntah parah, tapi Marsya saking parahnya selalu lemas. Dia kasihan sekali." Byan sedih mengingat kehamilan Marsya yang sangat parah.
"Itu sudah wajar sayang. Saat mama mengandung kamu, sama banget kayak Marsya. Jadi jangan terlalu khawatir, mulai hari ini kalian akan tinggal bersama. Jadi, lebih perhatianlah pada istrimu, dan jangan buat dia marah." Kasya memberi nasihat pada putranya, yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Oke mah, ayo kita pergi."
Saat mereka keluar rumah, ternyata sudah ada 5 mobil Convertible ( atap terbuka ) berjejer termasuk kepunyaan Byan. Terlihat keempat Squad membawa mobil mereka masing - masing, mereka datang untuk mengiringi Kasya dan Byan. Para Squad tidak membawa istri dan anak - anak mereka, karena para istri serta anak - anak sudah berangkat duluan ke tempat acara.
__ADS_1
Kasya tersenyum melihat mereka berempat, yang terlihat tampan memakai pakaian formal untuk resepsi pernikahan berwarna putih. Terlihat olehnya Raka yang membawa mobil Lamborghini Aventador warna merahnya, heboh seperti orangnya.
Andi membawa Lamborghini Aventador warna Marrone apus. Nata membawa Lamborghini Aventador warna Blue, warna kesukaannya. Dan Raditya membawa Lamborghini Aventador warna Green. Sedangkan mobil Lamborghini Byan berwarna White.
Saat Kasya dan Byan akan naik ke mobil Lamborghini Aventador milik Byan, terdengar suara deru mobil datang. Kasya berhenti dan menatap ke arah sumber suara. Dia melihat ternyata itu adalah Dion yang datang, dengan mengemudi Lamborghini Aventador berwarna Arancio Argosnya.
Dion turun dari mobilnya dengan pakaian yang sama seperti keempat para Squad, dia berjalan menghampiri Kasya dan Byan.
"Nyonya Bos, maaf saya datang terlambat." Dion tersenyum.
"Dion, kenapa masih memanggilku Nyonya Bos." Balas Kasya dengan balik tersenyum.
"Meskipun Bos Axel tidak ada, tapi ada calon Bos kecil dalam perut Nyonya Bos. Jadi saya akan tetap memanggil Anda Nyonya Bos." Dion tetap dengan pendiriannya.
Kasya hanya tersenyum getir, mendengar nama kekasihnya. Kasya menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Demi anak di dalam perutnya yang adalah buah cintanya dengan Axel, dia harus tetap kuat dan tidak lemah.
Semua mobil Lamborghini Aventador pun segera melaju, dengan jalan yang saling beriringan. Begitu terlihat sangat mengagumkan dilihat oleh para pengendara lain di jalan raya, mobil-mobil mahal itu melewati jalanan dengan kemewahannya menuju hotel pribadi tempat resepsi pernikahan.
Saat mereka sampai, suasana di hotel seketika heboh. Para wartawan seketika merekam kejadian menghebohkan tersebut.
Resepsi pernikahan diadakan sangat mewah, acara pun segera dimulai. Semua tahapan acara satu persatu di lakukan, semua orang pun tertawa bahagia. Hanya Kasya yang pura - pura bahagia, dia hanya ingin di hari penting putranya, setidaknya tidak ada air mata.
Akhirnya sampai pada acara jamuan makan dan juga para tamu untuk bersantai. Kasya merasa sangat kelelahan dan dia melangkahkan kakinya untuk duduk di meja paling pojok, tempat dimana tidak terlalu terlihat oleh siapapun.
Tapi sosoknya tak bisa terlepas dari mata Dion, dia melihat Kasya yang seperti kelelahan berjalan pergi. Dia mengambil makanan dan minuman untuk wanita itu dan mengikutinya dari belakang.
Kasya sudah duduk dan sedang mengurut pergelangan kakinya yang terasa pegal, tiba - tiba sebuah tangan besar melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan kakinya.
__ADS_1
Tangan besar itu kini menggantikannya mengurut pergelangan kakinya, dengan sangat pelan dan hati - hati.
"Dion, tidak usah. aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Kasya.
"Tidak nyonya, saya melakukan ini hanya untuk calon bayi bos." Sekali lagi Dion memakai alasan yang sama.
"Dion, sudah tiga bulan ini kamu selalu memperhatikanku. Kamu juga sibuk dengan semua bisnis yang ditinggalkan Axel. Tapi kamu juga harus mempunyai kehidupan pribadimu sendiri." Kasya menasehati Dion, seperti sebelum - sebelumnya. Meskipun dia tahu selalu berakhir dengan penolakan dari Dion.
"Saya tidak ingin membicarakannya. Saat ini dalam hidup saya, calon bayi bos lebih penting dari segalanya." Dion masih kukuh dengan pendiriannya.
Kasya pun hanya menghela nafasnya. "Terimakasih, tapi sekarang pergelangan kakiku sudah lebih baik." Kasya melepaskan tangan Dion dari pergelangan kakinya.
Dion pun mengerti dan segera berdiri. "Saya bawakan sedikit makanan dan minuman untuk Anda, tolong makanlah. Kalau begitu saya permisi." Dion segera beranjak pergi.
Kasya melirik makanan di atas meja, itu adalah cake kesukaannya. Kasya akhirnya mengambil sesendok kecil cake dan memakannya. Tapi saat kue itu sudah berada di dalam mulutnya, setitik air mata jatuh di pipinya masuk ke dalam mulutnya.
Kasya segera menghapusnya, tapi mulutnya masih terasa asin. Dia akhirnya tak kuasa menahan tangisnya lagi.
"Hiks... hiks... Axel. Dimana kamu? Maafkan aku, tolong kembalilah... aku mohon..." Isaknya menangisi Axel.
Ternyata Dion tidak pergi jauh dan masih ada di dekat Kasya, ia mengepalkan tangannya agar tak menghampiri wanita yang sudah berhasil mengisi hatinya itu. Hatinya ikut merasakan sakit, dia menahan dirinya agar tak maju dan memeluknya.
Datanglah Ranti, yang memang sudah melihat Kasya yang menangis dari arah jauh. "Sya..." Ranti langsung memeluknya.
"Ran... kenapa ini terjadi lagi padaku? Hiks... hiks..." Kasya memeluk Ranti erat.
"Ya, kenapa kehidupan selalu mempermainkan mu. Saat kamu meneleponku dan memberitahu tentang Axel yang melamarmu, aku sangat bahagia. Tapi, ternyata sekarang malah jadi begini." Ucap Ranti.
__ADS_1
"Kamu sekali lagi hamil, tanpa ada seorang lelaki di sampingmu. Aku berharap Axel segera ketemu dan kembali lagi bersama mu. Aku berharap anak keduamu ini, bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah, tidak seperti saat kamu mengandung Byan dulu." Ranti menghela nafasnya.