Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 43


__ADS_3

Setelah Axel dibawa ke dalam, Denis dan Andi segera mengangkat tubuh Nata yang sudah meringis kesakitan di lantai kapal. Mereka membawanya ke dalam lalu membaringkannya di kamar lain.


Satu pengawal datang memberikan kotak obat, dan Denis yang memang seorang Dokter segera mengobati Nata.


Sedangkan Raka sedang bersama Kasya, ia terus berbicara padanya.


"Kasya, ini salahku. Marahi saja aku, aku memang brengsek. Aku yang merencanakan semuanya, aku hanya ingin mengerjainya. Maafkan aku." Raka memelas meminta maaf.


Kasya yang baru saja tersadar kembali, hanya berwajah tanpa berekspresi. Dia lalu mengangkat tubuhnya bangun, dia berjalan pergi masuk ke dalam.


Kasya melihat dulu keadaan Nata, untung saja lelaki itu hanya luka ringan. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar Axel berbaring. Dia melihat Dion sedang duduk di samping ranjangnya, seperti memeriksa denyut nadinya.


"Aku akan memeriksanya." Ucap Denis, yang ternyata ikut masuk ke dalam kamar Axel.


Denis segera memeriksa Axel yang masih tak sadarkan diri, dia mendengarkan jantung Axel dengan stetoskop - nya, jantung Axel berdetak terlalu cepat.


"Apakah dia selalu seperti ini?" Tanyanya pada Dion.


"Ini selalu terjadi jika tuan Axel bermimpi buruk, tapi ini sudah lama tidak terjadi. Dan juga sudah lama tuan Axel tidak pernah pergi ke psikiater lagi, jadi saya hanya mengganti obatnya setiap bulan." Jawab Dion.


"Apakah ini adalah suatu trauma?" Tanya Denis lagi.


"Ya, Ini adalah trauma yang didapat dari kejadian masa lalunya." Jawab Dion.


"Jika Anda ingin tau cerita keseluruhannya, silahkan bertanya saja pada Nyonya Kasya." Ucap Dion.


"Hem." Denis bergumam, dia selesai memeriksa Axel.


"Jika sedang kambuh, berapa kali dia harus disuntik? Atau mungkin minum obat?" Tanya Denis lagi.


"Hanya 2 butir, 2x minum. Jika suntikan jika keadaan seperti tadi terjadi." Jawab Dion kembali.


"Baiklah, jaga dia. Jika ada apa - apa, aku ada di kamar sebelah." Denis berjalan menuju keluar kamar, tapi dia berhenti di depan Kasya.

__ADS_1


"Maafkan kami." Denis berwajah sendu, lalu keluar dari sana.


Dion menatap wajah Kasya yang tanpa ekspresi, dia tau sepertinya Kasya masih merasa syok. Dion tidak menceritakan penyakit trauma Bos nya karena memang sudah lama tak pernah kambuh lagi, jadi dia hanya berpikir dia tidak perlu menceritakannya.


Dion menghela nafas berat, dia bangun dari samping ranjang sang Bos yang sedang berbaring. Dia melangkahkan kakinya ke arah jendela kamar, memberikan ruang bagi Bos dan calon istrinya itu.


Kasya lalu mendekati ranjang Axel, dia duduk di samping ranjangnya. Dengan tangan kirinya yang gemetar, Kasya menarik satu tangan Axel dan menyatukan kedua tangan mereka. Dengan satu tangannya lagi, dia mengelus lembut wajah Axel.


"Axel... bangunlah." Suara Kasya mulai bergetar.


"Bukankah kamu memintaku jangan memanggilmu Axel..." Kasya meneteskan air matanya.


"Baiklah, aku akan memanggilmu sayangku dan kekasih tertampanku. Bagaimana, kamu suka?" Kasya mulai terisak menangis.


"Hiks... hey tampan, ayo bangunlah. Apakah kamu ingin menempel padaku seperti gurita lagi? Baiklah, aku berjanji tidak akan marah lagi." Kasya kini memeluknya, dia memiringkan kepalanya di dada Axel, mendengarkan detak jantungnya.


"Sayang, seperti ini kah suara detak jantungmu. Apakah aku sudah pernah bilang kalau aku mencintaimu?" Air mata Kasya kini sudah mengalir.


"Aku mencintaimu, akan selamanya mencintaimu, kekasih tampanku. Kamu dengar itu, jadi bangunlah. Hu... hu..." Kasya menangis dengan sangat keras, sampai tubuhnya bergetar hebat.


Kasya mengangkat kepalanya, dengan wajahnya yang penuh dengan air mata dia menciumi setiap bagian wajah Axel.


"Hu... hu... hu..." Kasya masih terus menangis.


"Kamu benar - benar cengeng, ckck... haha" Axel malah menertawakannya.


Dion sudah tak terlihat di kamar lagi, ia sudah lama keluar kamar sejak melihat Bos nya itu tersadar.


"Maafkan aku, aku salah, aku tidak tau kamu punya trauma. Dan kamu sudah melarangku tidak boleh dekat dengan lelaki lain, tapi aku tak mendengarkan mu. Maafkan aku... hu... hu..."


"Sudah, sudah... kemarilah. Naik sini, peluk aku. Aku hanya butuh pelukan dan akan segera membaik." Axel menarik lembut tubuh Kasya, agar naik ke ranjang dan tidur bersamanya.


"Tidurlah... kita istirahat sejenak." Ucap Axel, lalu mencium dahinya lembut.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.


Dion sejak tadi berdipi diluar pintu, ia melihat dan juga mendengar semuanya karena memang pintunya sengaja tak ditutup rapat. Dia melihat Bos nya baik - baik saja dan bahkan bahagia, merasa hatinya lebih baik. Dia segera pergi dari sana.


Sedangkan di kamar, Nata sedang berbaring, mereka bertiga sedang mendengarkan cerita Denis yang menceritakan kondisi Axel pada mereka bertiga.


"Baiklah, karena semuanya sudah terjadi. Kita hanya bisa meminta maaf." Andi menghela nafasnya menyesal.


Nata hanya diam, karena masih kesakitan. Raka hanya menunduk karena merasa bersalah.


"Aku tidak tau bagaimana masa lalunya, tapi melihat dari trauma nya, sepertinya Axel sangat menderita." Ucap Denis.


Mereka semua benar-benar merasa menyesal, dan akan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran.


***


Abyan dan Marsya seperti tidak ingin terpisah, mereka setiap waktu bersama. Bahkan Marsya sangat memanjakan Byan, dia benar-benar takut kehilangannya.


"Sayang, kenapa aku merasa kamu berlebihan sekarang." Kata Byan sambil makan cake yang disuapkan Marsya padanya.


"Kenapa? Kamu tidak mau aku sayang-sayang?" Tanya Marsya dengan cemberut.


"Bukan begitu, aku hari ini terus saja kamu beri makan. Lihat perutku, kamu mau aku menjadi lelaki gendut." Byan menggelengkan kepalanya.


"Gapapa gendut juga, aku tetap masih akan mencintaimu." Marsya melembutkan suaranya.


"Ya ampun, manisnya. Tapi aku tetap tidak mau makan lagi, aku gak mau gendut." Ucap Byan menolak.


"Hahaha... baiklah. Ini juga sudah malam, ayo kita pulang." Ajak Marsya.


Mereka berdua segers meninggalkan cafe tongkrongan tersebut, masuk ke dalam mobilnya untuk segera pulang.


Byan dan Marsya tidak mengetahui jika di luar cafe tersebut, ada sebuah mobil dan seseorang di dalamnya yang sejak dari siang mengikuti mereka berdua. Kini mereka berdua menuju apartemen Marsya, mobil itu pun mengikuti mereka kembali.

__ADS_1


Setelah Byan dan Marsya masuk ke dalam apartemen, seseorang di dalam mobil itu mengambil ponselnya.


"Halo Bos, saya sudah menemukan putra dari wanita itu. Baik Bos, saya akan menunggu perintah Anda lagi." Dia menyimpan ponselnya kembali.


__ADS_2