
Axel datang ke Rumah sakit karena ayahnya sedang dirawat, tak disangka dia akan bertemu si wanita transgender lagi.
Sambil berjalan menyusuri tiap lorong Rumah sakit menuju kamar pria tua itu dirawat, bibirnya masih memperlihatkan senyuman karena mengingat kejadian tadi serta makian - makian dari wanita itu.
Tapi saat dia sudah berfokus kembali dan menghentikan senyuman bodohnya, pendengaran dia yang sensitif mendengar suara - suara yang tertahan dari belakangnya.
"Hmfth! hmfth."
Sontak saja langkah kakinya terhenti, Axel segera membalikkan badannya ke belakang. Terlihat olehnya semua pengawalnya seperti sedang berusaha menahan tawa mereka.
"Apa kalian sedang menertawakan ku?!" Tanyanya sambil menatap tajam semua pengawalnya satu persatu.
Dion segera bertindak cepat dan akhirnya menyelamatkan mereka.
"Bos, mereka masih berusaha menghormatimu. Mereka sebenarnya sudah ingin tertawa dari saat Bos dikerjai, tapi mereka sangat hebat bisa menahannya sampai sekarang. Jadi Bos, jangan memarahi mereka, ok." Dion berkata sambil menatap para pengawal agar berhenti tertawa.
"Baiklah aku akan melepaskan kalian kali ini, tapi jika sedikit saja terdengar kalian masih menertawai ku. Maka lihat saja, gaji kalian akan aku potong 50%, ah bukan! Tapi dipotong 49,99%. Jadi tutup mulut kalian sekarang juga!" Setelah mengatakannya Axel berbalik badan dan segera melanjutkan langkahnya kembali.
Mereka semua langsung saja terdiam dan segera bersikap kembali layaknya seorang pengawal yang dingin dan kejam. Padahal dalam hati, mereka masih ketakutan karena bagi mereka uang adalah segalanya.
Sambil berjalan pikiran Axel terus saja memikirkan wanita tadi, dia akhirnya tak bisa menahannya lagi.
"Dion, kamu mengerti yang aku mau kan?!" Axel berbicara tanpa menghentikan langkah kakinya.
Dion berusaha dengan keras menahan senyumannya dan bersikap biasa saja.
"Tentu, bos ingin tau tentang wanita tadi kan? Saya akan segera mendapatkan datanya." Dion pun menjawab dengan penuh keyakinan.
***
Saat Kasya kembali lagi ke ruang rawat anaknya, Byan terlihat sedang duduk bersandar. Sepertinya perawat pemeriksanya lah yang sudah membantunya untuk duduk.
"Sayang, kamu sudah bangun? Sekarang makan ya, kamu tiga hari ini hanya bisa makan bubur. Nanti kalau badanmu agak sehat, mama sendiri yang akan masak daging asam manis kesukaanmu." Kata Kasya dengan bawelnya sambil mengelus sayang kepala anaknya itu.
__ADS_1
"Mama, aku bukan anak kecil lagi. Kenapa mama selalu mengelus kepalaku! Aish, kalau di depan wanita yang aku cintai nanti jangan seperti ini." Byan menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini ya, mama kalau tidak mengelus kamu, terus mama harus ngelus siapa? Kucing bi Yati di rumah." Kasya tertawa sambil menyentil pelan dahi putranya.
"Nah itu mama tau, mama harus sering ngelus kucing. Tapi 'kucing besar' yang bisa mama gigit dan juga balas menggigit mama, hahahaha..." Byan berkata nakal sambil mengedipkan sebelah mata pada ibunya.
"Ada! Ada tuan muda, ada yang seperti itu. Aku baru saja melihatnya satu, tapi entah dia jomblo atau tidak." Rama ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua, karena mengingat si pria 'pemaki'.
Kasya yang mendengar Rama tentu saja tau siapa yang dia maksud, dia pun memutarkan bola matanya ke atas karena kekesalannya muncul lagi.
"Ya ampun Rama, diam! Jangan bicarakan pria menakutkan itu, aku liat matanya aja, ini bulu kuduk langsung berdiri semua. Kalau bukan untuk membalasnya, aku bahkan tidak mau bernafas satu tempat dengannya! Dasar pria galak! Pria dingin! Pria aneh!" Keluarlah kata-kata makian dari mulut Kasya.
Byan melongo mendengar ibunya memaki - maki seseorang, dia mengalihkan tatapannya pada Rama dan satu alisnya naik seakan dia bertanya, apa yang terjadi?
Rama menjawab tuan mudanya dengan hanya gerakan bibirnya tanpa bersuara. 'Nanti saya akan menceritakannya'. Arti dari gerakan bibir Rama.
'Oke'. Byan membalas balik Rama dengan cara gerakan bibir yang sama sambil tangannya membentuk kata oke.
"Pokoknya, jika aku bertemu lagi dengannya. Aku akan! Akan?" Kasya bingung melanjutkan kalimatnya.
"Akan apa mah?" Byan dengan sabar meladeni Ibunya yang masih kesal.
"Sudahlah! Lupakan. Mama nanti malah punya darting, ayo makan." Kasya pun akhirnya menghentikan kekesalannya.
Malam harinya sekitar jam 8 malam, Byan ijin pada ibunya untuk mencari udara segar sebentar di taman. Kasya pun mengijinkannya dan segera memakaikan sweter tebal pada putra kesayangannya itu.
"Baiklah, apa sudah hangat? Jangan lama-lama diluar, mama kasih waktu 1 jam. Beneran gak mau mama temenin?" Tanya Kasya untuk kesekian kalinya.
"Byan gak kemana-mana mah, cuma ke taman doang." Byan memeluk ibunya sayang.
"Baik, baik. Sana pergi, pelan-pelan jalannya." Ucap Kasya masih saja dengan kebawelan nya.
"Byan tau, meskipun mama bawel gini. Itu karena mama sayang sama Byan, jadi makasih. Love you mom." Byan mencium pipi ibunya lembut, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawatnya.
__ADS_1
Kasya melihat punggung putranya yang rapuh dari belakang sebenarnya ia sangat mengerti, meskipun anaknya itu berusaha terlihat tegar dan tersenyum tapi dalam hati putranya itu terdapat banyak kesedihan.
"Anakku, bersabarlah. Di dunia ini tak ada hal yang tetap sama, kamu tak akan selalu bahagia, tapi kamu juga tak akan bersedih untuk selamanya." Gumam Kasya dan sekali lagi untuk hari ini dia menghela nafasnya.
***
Byan berjalan dengan sangat perlahan, saat ia sudah sampai di taman dengan perlahan ia menginjakkan kakinya ke atas rumput. Ia lalu berjalan ke arah bangku - bangku taman yang panjang. Terlihat olehnya ada beberapa orang yang berada disana, ia pun berjalan ke arah bangku yang hanya ada satu orang pria duduk dan itu tak jauh dari dia berdiri saat ini.
Sekitar 2 meter di belakang pria itu, terlihat olehnya ada beberapa pria yang berpakaian jas hitam rapi dengan tubuh mereka yang tegap dan kekar.
Setelah sampai di bangku itu, sebelum ia duduk Abyan berbicara terlebih dulu. "Maaf tuan, boleh saya bergabung duduk dengan Anda di bangku ini?" Tanyanya kepada pria itu.
Axel menatapnya dengan tatapan datar. "Tentu saja." Jawabnya.
Setelah Byan duduk, mereka berdua hanya terdiam dan larut dengan pikiran mereka masing-masing.
Ketika Byan masih larut dalam pikirannya, memikirkan Marsya yang sedang berada di Amerika. Tiba-tiba sebuah suara akhirnya memecahkan keheningan diantara dia dan pria yang duduk di sebelahnya itu.
"Bos, ini adalah data tentang wanita tadi. Ternyata dia adalah Presdir dari Perusahaan Pramudita. Namanya Presdir Kasya Indira." Kata Dion seraya menyerahkan sebuah iPad ke tangan Bos nya.
Seketika kata - kata dari pria yang sepertinya bawahan dari pria yang duduk di sampingnya itu, membuat Byan menarik kembali pikirannya dari Marsya. Dia menatap heran kepada kedua pria di sampingnya karena sudah menyebut nama ibunya.
"Hmm, jadi dia adalah wanita pembisnis dan namanya juga sangat terkenal disini. Terlihat di semua berita ini dia adalah wanita yang sopan dan menawan. Apakah semua ini hanya rumor saja?! Kamu lihat kan tadi kelakuannya? Benar-benar tidak ada sopan-sopannya. Heh!" Axel mengejek tapi setelahnya dia tersenyum.
Tentu saja Byan menyaksikan semua perubahan dari pria yang duduk di sampingnya ini, dari wajah yang mengejek ibunya sampai bibirnya yang tersenyum. dia pun hanya terdiam dan menahan senyumannya, dia ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Bos, dari data yang saya dapatkan juga. Wanita ini lajang sama seperti anda, dia adalah seorang janda dan sudah berpuluh tahun. Bos, saya cuma mau bilang kepada anda. Dia wanita single dan kalian sama-sama lajang. Apalagi gejala anda tidak kambuh saat dekat dengannya, jadi kalian bis- . Aww!" Omongan Dion terhenti karena kepalanya digetok oleh Axel.
Terlihat Dion mengelus - ngelus kepalanya yang digetok Bos nya, bibirnya sedikit meringis.
"Diam! Tutup mulutmu! Siapa yang mau sama dia, aku hanya penasaran jadi ingin datanya. Dasar sok tau!" Axel lalu melihat kembali ke arah iPad di tangannya, terlihat sangat jelas perbedaan antara omongannya yang menyangkal dengan tatapan matanya yang bercahaya saat melihat iPad nya.
Huh! Memangnya aku siapa? Aku adalah Avatar mu Bos, tentu saja aku tau apa yang ada dalam pikiranmu sekarang. Haish dasar pria gengsian! Gerutu Dion dalam hatinya.
__ADS_1