
Axel berjalan menuju kamar calon istrinya dengan senyum bodoh di wajahnya, semua para pengawal nya berusaha menahan senyuman mereka.
OMG Bos, melihatmu tersenyum bodoh seperti itu. Tolong maafkan aku yang menertawakan mu dalam hati... hahaha! Batin Smith yang menertawakannya.
Saat Axel sudah sampai di kamar Kasya dan mengetuk pintunya, ternyata yang membukanya adalah Nata.
Axel seketika menatapnya tajam dan mengeluarkan aura permusuhan. Lalu dia berjalan melewatinya masuk, tanpa ada keinginan untuk menyapanya.
Nata hanya tersenyum, karena terlihat jelas raut wajah Axel yang tak suka padanya, mungkin ide Raka memang benar bagus.
"Kenapa kamu yang buka pintu? Kemana istriku? Lalu dimana yang lainnya?" Tanya Axel saat masuk, karena tidak melihat siapapun.
"Istri?" Nata menatapnya heran.
Tapi Axel hanya diam dan berwajah masam.
"Ah... yang lainnya sudah menunggu di lobby, aku datang menjemput kalian kesini. Kasya sedang di kamarnya, entah dia sedang apa." Nata mengangkat bahunya.
Axel menatap Nata tak suka. "Lalu kenapa kamu yang menjemput kesini?!" Suaranya terdengar dingin.
Nata merasa sedikit merinding. "Apa tidak boleh?" Nata mengangkat satu alisnya.
Ketika Axel akan menjawabnya, suara Kasya terdengar.
"Axel, kamu juga sudah datang. Kalau begitu ayo pergi." Kasya berbicara sambil mencari sepatu flat nya.
Kasya memakai pakaian kasual seperti kemarin, hanya memakai kaos dan celana jeans dengan rambutnya yang diikat ke belakang. Sehingga membuat leher jenjang cantiknya, terekspos dengan sangat jelas. Menambah aura kecantikan wajahnya, yang seperti wanita muda.
"Urai rambutmu, ah tidak! Pakai saja topi, kacamata dan masker. Tutupi wajahmu, itu semua milikku, aku tidak mau orang lain melihatnya." Axel berkata sambil mendekatinya, dan sengaja memeluk mesra Kasya di depan Nata.
"Hei, ada orang lain. Lepaskan tanganmu." Kasya memelototinya.
Axel hanya mengangkat bahu tak peduli. "Kamu adalah istriku, apa salahnya?" Axel mengerlingkan sebelah matanya nakal.
"Ralat! Aku masih calon istrimu, jadi jika kamu tidak mau aku melepas cincinnya, segera lepaskan tanganmu dari tubuhku..." Kasya mengancamnya, tapi dengan senyuman paling manis.
__ADS_1
Nata yang melihat interaksi mereka berdua, hanya tersenyum tipis. Dia tau sifat Kasya, jika dia sudah mengancam dengan ala senyuman manisnya itu bahkan lebih menakutkan.
Axel juga merasakannya, dia melihat Kasya tersenyum tapi sedikit merasa merinding. Dia pun segera melepaskan pelukannya, lalu hanya mengelus pipi calon istrinya itu.
"Baiklah, tapi pakai kacamata dan topi ya." Axel meminta dengan lembut.
Kasya menatapnya lalu menghela nafas. Dia berjalan pergi ke kamar tidurnya dan mencari topi juga kacamata hitamnya. Lalu dia mengurai rambutnya memakai kedua atribut tersebut menutupi sebagian wajahnya.
Setelah selesai Kasya berjalan keluar kamar tidur kembali. "Nah! Selesai. Tuan Axel yang terhormat, apakah sekarang Anda sudah puas?" Kasya memonyongkan bibirnya, mencibir Axel.
Axel tertawa kecil, melihat kelakuan Kasya yang mencibirnya. Tapi juga sangat puas, karena Kasya menurutinya.
"Oke, Sangat cantik." Ucapnya.
Mereka dengan cepat pergi dan segera bergabung bersama Squad yang lainnya.
Dion juga akhirnya sampai ke sana berbarengan. "Maaf Bos, aku ketiduran. Tapi semua persiapan untuk jalan - jalan sudah aku siapkan dari kemarin."
"Sudahlah, ayo kita segera berangkat." Perintahnya.
Para Squad dan Axel pun berjalan berjajar dari lobby hotel sampai keluar, dengan gaya gagah mereka masih terlihat tampan meskipun usia mereka yang sebentar lagi akan berkepala lima. Mereka berjalan dengan Kasya berada di tengah - tengah mereka.
Para Squad yang menaiki kapal Ferry itu hanya bersikap biasa saja, karena di Indonesia mereka juga memiliki Kapal Pesiar yang tak kalah mewahnya.
Perjalanan dimulai, terlihat para Squad dan Axel yang memakai pakaian santai mereka dan mereka berdiri di pagar kapal. Menikmati angin semilir sungai, tatapan mata mereka melihat bangunan - bangunan kota Macau yang ada di sisi kiri dan kanan mereka.
Nata mulai melancarkan aksinya, dia mencuri kesempatan untuk mendekati Kasya. Raka juga memberikan kode pada Nata, agar segera memulai aksinya.
"Kasya, aku mau curhat dikit tentang istriku. Kalian kan sama - sama wanita, jadi mungkin saja kamu bisa bantu." Nata mulai mengajak ngobrol Kasya.
Sedangkan Raka, Andi, dan Denis. Mereka sedang berpura - pura bertanya tentang kota Macau pada Axel. Axel belum menyadari permainan mereka, sedangkan Dion sedang pergi ke dalam kapal untuk menyiapkan makanan dan minuman.
"Ada apa Nat, ngomong aja. Kamu dulu selalu membantuku, sekarang giliran ku membalasmu." Balas Kasya.
Nata tersenyum dan memalingkan wajahnya menatap ke arah aliran sungai.
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Kamu tau dulu aku pernah menyukaimu, Rania juga tau. Tapi terkadang dia selalu mengungkitnya dan kami selalu bertengkar. Padahal itu semua hanyalah masa lalu, aku terkadang tertekan dengan semua kecemburuannya." Nata berwajah sedih.
Kasya juga memang percaya perkataan Nata, karena pernah beberapa kali, Rania menatapnya dengan cemburu.
"Haish! Itu kan masa lalu, aku pikir karena kalian selalu terlihat mesra, jadi tak pernah memikirkannya lagi. Lagipula, kehidupan kalian terlihat bahagia, kalian bahkan sudah dikaruniai 3 orang anak. Lalu, apa lagi yang kurang dalam rumah tangga kalian?" Ucap Kasya.
"Nat, sebenarnya aku juga seorang Wanita. Jadi aku tahu bagaimana perasaan Rania. Menurutku, Rania bukan hanya cemburu padaku, tapi usia pernikahan kalian sudah hampir menginjak usia 20 tahun. Mungkin Rania merasakan ada sedikit kebosanan." Lanjutnya.
"Nat, bagaimana jika kalian berdua meninggalkan segala rutinitas? Kalian bisa pergi berbulan madu lagi dan hanya kalian berdua. Tapi jangan nambah anak lagi ya, kasihan istrimu. Hihihi..." Kasya sedikit bercanda dan cekikikan, lalu menyenggol lengan Nata.
"Hahahaha..." Nata ikut tertawa. Dia memalingkan wajahnya dari arah sungai, lalu menatap lembut Kasya.
"Kasya, kamu tau bukan aku selalu mendoakan kebahagiaanmu." Nata menepuk lembut tangan Kasya yang bertengger di pagar kapal.
Kasya yang mendengar ucapan Nata, tersenyum penuh terima kasih. Tatapan mata kasya menatap Nata sama lembutnya.
Tiba - tiba tubuh Nata terpelanting ke belakang dan membentur besi penyangga kapal. Saat Nata baru saja ingin menyeimbangkan tubuhnya, kepalan tangan Axel memukul wajah dan perutnya hingga terjatuh.
"Kamu ingin mati! Beraninya memegang tangan istriku dan tersenyum padanya! Dia milikku! Mati saja! Mati!" Axel terus saja memukulnya berulang kali.
Semua orang terkejut termasuk para Squad. Mereka tidak menyangka akan berakhir seperti itu. Mereka segera menahan tubuh Axel yang menggila, tapi tenaga Axel sangat kuat.
Axel sekali lagi terlepas dari mereka, dan menendang tubuh Nata. Saat itu Dion keluar dari dalam kapal dan melihat kejadiannya.
Para pengawal yang melihatnya tak berani menahan Bos nya, mereka tahu bagaimana keadaan Bos nya sekarang. Axel sedang berada dalam keadaan gejala traumanya.
Hanya Dion lah yang biasanya selalu bisa menahannya. Dion pun segera menahan tubuh Bos nya lalu menjatuhkannya ke bawah sampai tertelungkup. Dion segera memiting kedua tangannya ke belakang tubuhnya.
"Smith, bawakan obat dan suntikannya!" Dion berteriak.
Smith segera berlari ke dalam dan mengambil sebuah suntikan dan sebotol cairan, dia segera memberikannya pada Dion.
"Lepaskan! Dia harus mati!" Axel berteriak sambil memberontak.
Tapi Dion tak menanggapi teriakannya, dia menyuntik tubuh sang Bos dengan paksa. Tak berapa lama, Axel pun terdiam dan tubuhnya seketika menjadi lemas.
__ADS_1
Kasya yang melihat dengan kedua matanya sendiri, semua kejadian yang baru saja terjadi ia hanya terduduk lemas bersandar pada pagar kapal. Tubuhnya bergetar terkena syok, bahkan dia sampai tak bisa mengeluarkan suaranya sedikit pun.
Dion dan Smith membawa tubuh lemas Axel ke dalam, membaringkan tubuh sang Bos di atas ranjang di dalam kamar kapal