
Saat Axel selesai menjelaskan kepada Dion, kepala lelaki itu menunduk, ia benar - benar merasa menyesal tidak pernah mendengarkan ucapan Mayleen. Sekarang wanita itu pergi sendiri untuk mencari tau dalang dibalik orang - orang yang ingin menyakitinya.
"Aku selalu kasar pada wanita itu, selalu berpura - pura tidak perduli dengan perhatiannya bahkan aku selalu menolaknya. Bagaimana ini... bagaimana jika sesuatu terjadi padanya." Dion sangat frustasi, di dalam mobil Axel hanya bisa menarik nafas tak ingin bicara dan malah akan menambah pikiran pada mantan asistennya itu.
"Agenku sudah berhasil mendapatkan kabar, Mayleen berhasil masuk ke dalam bangunan itu tapi dia dibawa masuk ke dalam sebuah mobil tapi tanpa perlawanan. Sepertinya Mayleen pergi dengan sukarela bersama orang-orang itu." Ucap Axel.
"Apa?!" Dion mengangkat wajahnya seketika terkejut.
"Wanita itu kuat dan pintar Dion, kau juga tau jejak rekamnya di Macau. Mayleen bukan wanita biasa, aku yakin dia bisa jaga diri. Kau harus optimis, Dion!"
Dion mengusap wajahnya kasar, ia menyesal telah menyakiti wanita itu.
***
Mayleen berjalan dengan santai saat memasuki sebuah rumah mewah, ia menatap sekeliling ruangan. Saat menyergap anak buah Fred, sebenarnya saat bertarung ia berpura - pura tertangkap. Saat ia sudah mendapatkan info siapa Bos besar dibalik semua, ia berniat kabur pergi karena sangat mudah mengalahkan mereka semua. Tapi saat anak buah Fred mengatakan majikan besar mereka adalah dari Macau, ia seketika mengurungkan niatnya untuk pergi kabur. Ia ingin bertemu langsung orang itu, tak disangka sang Bos besar mau menemuinya.
"Kau sudah datang, sayang?" sebuah suara pria tak asing masuk ke telinganya.
Mayleen berbalik ke arah suara itu berasal, "Chen?" matanya menyipit.
Lelaki itu merentangkan kedua tangannya, "Ya, ini aku. Pria satu - satunya yang sangat mencintaimu, tapi kau malah pergi mengejar lelaki tidak berguna itu. Bahkan yang aku dengar lelaki itu tidak menyukaimu sedikit pun, kenapa kau tidak kembali ke Macau dan datang padaku? Aku mempunyai segalanya, Black Rose. Kekayaan, ketenaran, kekuasaan dan cinta untukmu."
"Hahahaha... Astaga kau membuatku geli! Sudah sering aku menolakmu, tapi kau tidak bisa melupakanku dan apa? Kau berusaha meracuni Dion untuk membunuhnya? Apa kau tidak mengenalku, Chen?! Hanya seperti itu rencanamu, apa kau pikir aku bodoh dan tidak akan mengetahuinya? Cih!"
Plok! Plok! Plok!
"Hebat! Hebat! Kau memang pantas menjadi wanitaku, berdiri di sampingku. Itu lah yang membuatku sangat menyukaimu Black Rose, bagaimana aku bisa melupakanmu, sayang." Lelaki itu sudah berdiri di depan Mayleen.
"Mimpi sana!"
Chen tersenyum ia mengelus wajah cantik Mayleen, " Kau memang cantik dengan wajah feminim-mu ini sayang, tapi kau lebih cantik saat menjadi Black Rose. Ayo kita pulang ke Macau dan menikah."
"Cuih!" Mayleen meludahi wajah lelaki itu.
Chen hanya tersenyum lalu mengelap wajahnya dengan sapu tangan, "Wanitaku, kita akan bersama. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, aku akan membunuh siapapun lelaki yang bersamamu."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu mari kita buktikan sekarang siapa yang akan mati!" teriak Dion seraya berjalan mendekat.
"Kau! Bagaimana kau berhasil masuk?!" teriak Chen terkejut.
"Perhatikan sekelilingmu, anak buahmu sudah bertekuk lutut menyerah!" Dion semakin mendekat.
Chen melihat anak buahnya sedang terduduk di lantai dengan tangan mereka di atas kepala, seketika ia panik. Dengan cepat dia menarik Mayleen dan menodongkan pistol di kepalanya, "Berhenti disana!" teriaknya pada Dion.
Dion seketika menghentikan langkahnya, ia menatap wajah Mayleen, "Aku ada disini bersamamu. Maafkan aku sudah menyakitimu." lirihnya dalam bahasa Indonesia membuat wajah Chen tak suka karena tak mengerti bahasa mereka.
Mata Mayleen berair ia merasa terharu, dia bukan wanita biasa yang mudah ditindas, dengan cepat ia berteriak, " Dion! Menunduk!"
Seketika Dion menunduk.
Mayleen menyikut perut Chen dan berhasil berkelit lalu merebut pistolnya. "Angkat tanganmu, Chen!" seru Mayleen seraya menodongkan pistol yang sudah direbutnya dari tangan lelaki itu.
"Mayleen, kemarilah." Ucap Dion.
Tubuh Mayleen dengan perlahan mendekati Dion yang berada tak jauh darinya. Tangannya yang memegang pistol masih mengarah pada Chen, tiba - tiba ia melihat sesuatu pantulan menyilaukan matanya. Belati!
"Dion awas!" Mayleen menubruk tubuh Dion menghalangi belati menghujam tubuh lelaki itu.
"Sialan! Rasakan ini!" Dion menarik pelatuk tapi sudah terdengar suara tembakan sebelum ia sempat menembak.
Axel menembak Chen lebih dulu, "Bawa Mayleen pergi, belati mengenai pundaknya." Ucap Axel pada Dion.
Dion melihat punggung Mayleen yang penuh dengan darah, tanpa berpikir panjang ia mengangkat tubuh wanita itu berlari keluar membawanya ke Rumah sakit.
Sedangkan di lokasi, semua anak buah Axel meringkus anak buah Chen. Tadi Axel hanya menembak kaki penjahat itu, ia tidak ingin Dion menjadi seorang pembunuh dan menyesalinya di kemudian hari karena itu ia menembak lebih dulu.
***
"Astaga, Dion. Aku benar - benar sudah sembuh. Kenapa kau terus menyuapiku?!" Mayleen memutar matanya kesal.
"Ayo buka mulutmu, aku tidak akan membiarkanmu mengangkat sendok ini," Lelaki yang sedang jatuh cinta itu tak mau menyerah.
__ADS_1
"Kau harus memaklumi Dion, Mayleen. Dia sedang dibutakan cintanya padamu, ckckck..." ledek Kasya yang menengoknya di Rumah sakit di Inggris.
"Kenapa aku sekarang menyesal sudah mengejar-ngejarnya, kalau tau dia akan sebucin ini padaku lebih baik aku kabur sejak lama," canda Mayleen.
"Kau tega sekali," Dion cemberut.
"Uchh, kekasih siapa ini sangat menggemaskan saat cemberut," Mayleen terkekeh geli.
"Kekasihmu," Dion mengecup bibir Mayleen di depan semua orang.
"Astaga Dion!" sontak semua orang yang melihatnya.
"Cih! Jika kalian tak ingin melihatnya bubar sana!" Dion malah mengusir mereka.
Kasya dan Axel saling berpandangan dan akhirnya tertawa, Smith malah paling keras tertawa diantara mereka.
Mayleen menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
"Dia malu, kalian cepat pergi! Jangan ganggu kami!" usir Dion sekali lagi.
"Baik! Baik! Astaga! Ah iya, putri Amora sudah kami kembalikan pada Ibunya. Sekarang mereka aman, kau tidak usah khawatir lagi Mayleen." Ujar Axel.
"Iya, makasih Tuan."
"Aku yang harus berterima kasih. Terimakasih atas segalanya, Mayleen. Tolong jaga pria bodoh ini, dan kamu Dion jangan sakitin Mayleen!" Ucap Axel.
"Kami pergi, kabari kami dengan pernikahan kalian," pamit Kasya.
Mereka lalu keluar kamar rawat meninggalkan sepasang manusia yang sedang jatuh cinta itu.
.
.
.
__ADS_1
TAMAT.
Terimakasih ♡