
Selangkah demi selangkah Kasya berjalan, memaksakan kedua kakinya yang terasa sangat berat. Saat dia sudah sampai di depan pintu masuk-keluar Mall, dia melihat Axel dan wanita itu sudah berada diluar Mall.
"Apa kamu akan berangkat hari ini?" Tanya Axel pada Emily.
"Ya, aku sekarang kan sudah cerai dengan ayahmu. Aku juga sudah menceritakan keadaanmu disini padanya. Dan saat dia mendengarnya, dia berterima kasih padaku karena telah merawatmu dan akhirnya ayahmu bersedia melepaskanku." Jawab Emily.
"Axel, sekarang aku adalah wanita bebas. Aku ingin berkeliling dunia." Lanjutnya.
Axel tersenyum padanya. "Emily, sekali lagi terimakasih atas segalanya. Lupakan masa lalu kita, dan juga masa lalumu dengan ayahku. Emily, terbanglah dengan bebas, dan kepakkan sayapmu dengan lebar. Maaf, jika dulu aku terlalu protektif padamu." Axel menepuk pundaknya.
"Axel, kamu akan kembali besok bukan? Menurutmu bagaimana reaksi dari Kasya dan anakmu. Apalagi kalau mereka tau semua hadiah dari Ranti, di setiap ulang tahun mereka berdua adalah darimu, apakah mereka akan senang? Bahkan setiap bulan kamu mengirimkan mainan-mainan kesukaan anakmu itu."
"Entahlah, aku juga merasa gugup. Dalam hidupku, aku tak pernah segugup ini." Tapi Axel tersenyum membayangkan besok akan bertemu anaknya.
"Sudah seminggu ini kamu tidak mencari tau keadaan Kasya dan anakmu, apakah kamu tidak penasaran? Padahal setiap hari selama 4 tahun ini, kamu tidak pernah ingin ketinggalan kabar mereka." Kata Emily.
"Axel, kenapa kamu ingin menjadi pria sempurna untuk Kasya? Sebenarnya jika kamu mau, 2 bulan lalu saat kakimu sudah sembuh total, kamu bisa langsung pulang. Tapi kamu malah tetap bertahan disini, mengobati penyakit trauma dan penyakit fobia wanita mu. Tapi yahhhhh... semua itu memang tidak sia-sia. Akhirnya kamu sudah sembuh dari semua penyakitmu. Kamu sekarang adalah pria normal, pria sempurna. Selamat..."
"Aku bukan ingin menjadi pria sempurna, tapi hanya ingin menjadi pria yang lebih baik. Mungkin aku bisa sembuh dari traumaku, karena sudah berdamai denganmu, yang adalah penderitaan masa laluku. Jadi... mental ku akhirnya baik-baik saja, mungkin itu alasannya kenapa kita dipertemukan kembali, agar aku bisa memaafkanmu dan sembuh dari penyakitku."
"Kamu sepertinya benar, hidup manusia jika masih ada dendam dan kebencian pada masa lalu, hidupnya tak akan pernah damai. Jadi bisa dikatakan, sekarang hidup kita berdua sudah sangat damai, iya kan? Hehehe." Emily memukul pelan lengan Axel sambil tertawa ringan.
Axel balas tertawa, akhirnya mereka berdua tertawa lepas. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang sedang melihat kelakuan mereka berdua, meskipun obrolan mereka tidak terdengar oleh Kasya.
"Baiklah, kita berpisah disini. Aku tadi membeli kemeja untuk ayahmu, katakan padanya ini kado perpisahan dariku. Dan Axel... setelah kita berpisah sekarang, aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi." Ucap Emily lalu memberikan paper bag di tangannya kepada Axel.
Axel menerima paper bag itu, dia tersenyum mendengar ucapan dari Emily yang tak ingin bertemu lagi dengannya.
"Baiklah, kita jangan sampai bertemu lagi. Semoga kamu berbahagia, rencananya kemana kamu akan pergi?" Tanya Axel.
"Entahlah, mungkin Paris, kota romantis. Aku mungkin akan bertemu bule keren disana, yang lebih keren darimu, hahahaha..."
"Axel, aku harus pergi sekarang. Aku akan menjadi wanita biasa, yang naik penerbangan biasa tanpa ada jet pribadi lagi. Dan jaga semua anak buahku, aku tak bisa membawa mereka. Tolong perlakukan mereka seperti anak buahmu yang lain." Pintanya.
"Oke."
"Axel, bolehkah aku memelukmu sebentar? Anggap saja hadiah perpisahanmu untukku." Pinta Emily.
"Tentu saja."
Emily pun maju dan memeluk tubuh Axel, tapi Axel tak balas memeluknya, dia hanya menepuk-nepuk punggungnya.
"Sampai jumpa." Ucap Axel.
"Bukan sampai jumpa Axel, tapi selamat tinggal." Ucap Emily lalu melepaskan pelukannya.
"Ayo, aku antar ke mobilmu." Axel lalu berjalan ke arah parkiran mobil dan diikuti oleh Emily.
__ADS_1
Sedangkan Kasya yang melihat interaksi mereka berdua dari dalam Mall, terjatuh kembali ke lantai. Tatapannya seketika kosong, ia seperti orang yang linglung dan tak memperdulikan tatapan semua orang padanya.
William sudah menunggunya di parkiran mobil, tapi Nyonyanya tak datang juga. Ia akhirnya segera masuk kembali ke dalam Mall karena khawatir. Tapi saat ia mencari ke toilet dan Kasya tidak ada, ia segera mencari-carinya dengan panik.
Saat William menemukan dan melihat Kasya terduduk lemas di lantai, seperti orang yang sudah kehilangan nyawanya, dia semakin panik dan segera berlari menghampiri Kasya.
"Nyonyaaa! Nyonya, ada apa?" William menyadarkannya.
Tapi Kasya hanya diam, bahkan matanya tak berkedip sedikit pun.
William panik, lalu dia tak ingin berpikir lagi dan langsung mengangkat tubuh Kasya.
"Maaf Nyonya, saya sudah lancang menggendong anda." Ucapnya.
Tapi Kasya tetap terdiam, seperti sudah tidak perduli lagi dengan apapun.
William membawanya ke rumah sakit, ia segera menelepon Rama yang ada di hotel di tempat mereka menginap di Singapura.
Tak berapa lama, Rama datang ke alamat rumah sakit yang diberitahukan William.
"Will, ada apa sebenarnya? Sekarang dimana Bu Bos?" Tanya Rama saat dia sudah menemukan William.
"Nyonya sedang diperiksa Dokter, aku juga tidak tau ada apa." William merasa bersalah karena tadi sempat meninggalkannya.
"Apa maksudmu kamu tidak tau! Bukankah kamu selalu bersamanya?" Rama seketika kesal.
Saat Rama ingin berkata lagi, seorang Dokter wanita menghampiri mereka berdua.
"Apa kalian keluarganya?"
"Ya, Dokter. Bagaimana keadaannya?" Tanya Rama pada sang Dokter.
"Kondisinya sekarang sudah baik-baik saja, sepertinya tadi pasien terkena syok. Sekarang dia sudah boleh dibawa pulang, kalian boleh masuk dan melihatnya." Lalu sang dokter pergi dari sana.
Rama segera masuk ke dalam, terlihat Bos nya seperti sedang melamun dengan wajah sedihnya.
"Bu Bos?" Rama mendekatinya.
Kasya langsung merubah wajahnya seperti biasa lagi, dia berbalik menatap Rama.
"Aku tidak apa-apa, ayo kita pergi ke hotel dan bersiap pulang ke Indonesia." Kasya turun dari ranjang berjalan dengan tegar, dia tidak ingin terlihat lemah oleh siapapun.
Saat Kasya keluar ruangan, dia menatap William.
"William, jangan bicarakan kejadian ini pada siapapun, termasuk Dion. Mengerti?!" Kasya berkata dengan tegas.
Lalu dia menatap Rama, Rama hanya mengangguk yang mengartikan dia juga mengerti.
__ADS_1
Akhirnya sore itu mereka terbang pulang kembali ke tanah air mereka.
***
Saat pulang Kasya melihat anaknya sudah tertidur, dengan Dion yang memeluknya. Kasya mengepalkan kedua tangannya, hatinya seketika terasa sakit kembali.
Dia berjalan ke arah kamarnya, lalu setelah masuk dia mengunci pintunya.
"Pengkhianat! Axel! Kamu pengkhianat! Sakit! Axel... Hatiku sakit... hikss... hikss... sakit..." Kasya menjatuhkan dirinya ke lantai, dia membaringkan tubuhnya disana sambil menangisi sakit hatinya.
Saat pagi hari, kesibukan bi Yati yang menyiapkan sarapan diluar kamarnya sudah terlihat. Tapi Kasya masih terbaring di lantai karpet masih dengan matanya yang terbuka. Dia hanya menangis dan menangis semalaman, bahkan dia sama sekali tak menutup kedua matanya untuk tidur.
Bi Yati masuk ke dalam kamar Dean, bersiap membangunkannya.
"Tuan Dion mau mengantar Tuan muda Dean lagi?" Tanya bi Yati pada Dion, saat melihatnya sudah bangun.
"Iya bi."
"Loh, bukannya Nyonya semalam sudah pulang."
"Benarkah bi? Tapi kenapa dia belum kesini? Apa dia kecapean dan masih tidur ya?" Ucap Dion sambil menatap ke arah luar kamar.
"Mama udah pulang, beneran? Yeayyy... Dean mau ketemu mama." Ucap Dean yang baru saja terbangun.
Lalu dengan kegesitan dan kelincahannya, kedua kaki kecilnya itu turun dari ranjang. Dia segera berlari ke arah kamar ibunya, diikuti oleh Dion.
Kasya tak pernah mengunci kamarnya, karena itu Dean segera menarik pegangan pintu, lalu mendorong pintu kamar ibunya itu. Tapi ternyata pintunya terkunci dan tidak bisa dibuka. Dean merasa heran, lalu dia menatap Dion.
"Pah, biasanya kamar mama tak pernah terkunci." Dean mengerjapkan bulu matanya karena bingung.
Dion juga memang tau jika kamar Kasya tak pernah terkunci, dia juga akhirnya ikut kebingungan.
Tok! Tok! Tok!
Dion mencoba mengetuk pintunya, tapi masih belum terdengar ada pergerakan dari dalam.
"Nyonya! Nyonya!" Teriak Dion karena merasa cemas.
"Mah... Mama... ini Dean... Mama." Timpal Dean.
Tapi tetap tak ada jawaban.
Sedangkan di dalam kamar saat suara anaknya terdengar, Kasya langsung tersadar dan segera bangun dari baringannya di lantai. Dia segera berlari dan masuk ke dalam bathroom, lalu mencuci wajahnya. Saat dia melihat cermin, dia langsung merasa gugup, karena takut anaknya melihat mata bengkaknya.
Tapi ketukan diluar semakin keras, akhirnya Kasya pasrah dan berjalan untuk membuka pintu.
Saat pintu sudah terbuka, Dion dan Dean segera menatap ke arah wajahnya, Kasya langsung memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan, jika anaknya yang pintar itu bertanya tentang mata bengkaknya.
__ADS_1