
Beberapa hari kemudian Kasya sudah di ijinkan keluar dari rumah sakit, sekarang ia sudah berada kembali di rumahnya.
Semua orang datang ke kediaman Pramudita, tanpa terkecuali semua keluarga Raditya juga datang dari Amerika.
Kediaman Pramudita seketika ramai, bayangkan saja dari keluarga para Squad juga datang. Kini para istri sedang berkumpul di dalam kamar Kasya, sedang mengobrol dan menggendong 2 Newborn baby boy.
Sedangkan para suami sedang mengobrol dan mengasuh anak mereka. Hanya Raka dan Dion yang masih setia dengan ke-jombloan mereka dan hanya ikut mengobrol.
Sedangkan Andi sedang mengasuh cucunya yang berusia 3thn, Nata mengasuh anak ketiga nya yang berusia 5thn, dan Raditya juga sedang mengasuh anak ketiganya yang berusia hampir 1thn. Sedangkan Denis dan Byan ikut nimbrung dan membantu menjaga bocil-bocil itu.
Di dalam kamar Kasya sedang menangis terharu, meskipun dia tak ditemani Axel, masih ada mereka semua yang menemaninya.
"Terimakasih semuanya, kalian benar-benar luar biasa."
"Kasya, aku yang berterimakasih. Kata Nata, kamu yang memberikan saran padanya untuk membawaku bulan madu lagi. Dan itu sangat berharga untukku, aku bisa menikmati waktu yang hanya berdua dengan suamiku. Maafkan aku, jika selama ini aku masih selalu cemburu padamu." Ucap Rania sambil menepuk lengannya.
Kasya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang, apakah kamu sudah mempunyai nama untuk bayi mu?" Tanya istri bule Raditya yang sudah lancar berbahasa Indonesia.
"Belum, aku sebenarnya masih menunggu Axel kembali dan membiarkan dia yang memberikannya nama. Tapi, entahlah..." Ucap Kasya sedih.
"Hey, kamu sedih lagi. Sudah, sudah." Ranti segera berbicara.
Saat Ranti ingin melanjutkan lagi perkataannya, dia mengingat obrolan suaminya dan dirinya saat tadi malam.
Flashback ON.
Dia dan suaminya baru saja bertempur di tempat tidur, suami yang berhasil merayunya untuk membebaskannya dari hukuman.
"Sayang, terima kasih kamu sudah membebaskanku dari hukuman, aku hanya dihukum pisah kamar darimu selama 2 malam. Aku semakin mencintaimu." Denis bermanja padanya.
"Huh! Kalau kamu tidak merayuku dan berpura-pura sakit lagi, seperti saat kamu dulu berbohong saat memintaku jadi kekasihmu, aku gak bakalan mengijinkanmu masuk ke kamar ini." Ucapnya.
Suaminya itu malah tersenyum.
"Tapi kamu suka kan, bukan hanya aku yang gak bisa tahan. Sayang... kita sama-sama tau, kalau kita berdua itu berlibido tinggi. Jadi kamu gak bakalan lama-lama bisa berjauhan dariku, hahaha..." Suaminya itu malah dengan puas tertawa.
"Oh iya, sayang. Aku tak mau lagi berbohong, tapi karena aku juga sudah janji, jadi setelah mendengarnya kamu tak boleh katakan pada siapapun lagi."
"Ada apa"
"Begini..." Suaminya menceritakan semua kejadian saat Axel datang menemuinya, bahwa Axel telah menemui Kasya saat operasi juga saat Axel memintanya memberikan nama untuk anaknya.
Dirinya seketika marah, tapi saat dirinya ingin marah-marah juga percuma karena Axel tidak ada di hadapannya.
__ADS_1
"Istriku kamu jangan marah, aku sudah jujur padamu bukan." Suaminya merayunya lagi.
Dirinya hanya bisa menghela nafas, dirinya harus membantu suaminya itu berbohong.
Flashback OFF.
"Sya, kalau belum ada namanya boleh aku kasih saran buat namanya?" Ranti mencobanya.
"Hey Ran, tentu saja. Siapa namanya menurutmu?" Kasya balik bertanya.
"Ayahnya kan dari keluarga Arkananta. Jadi aku ingin kasih nama dia, juga kepanjangannya dengan nama keluarga Axel. Dean Arkananta, nah gimana?" Ucap Ranti.
Axel! Kamu berhutang pada kami berdua! Geram Ranti dalam hati.
Kasya memikirkannya sejenak. "Ran, nama Dean bagus. Tapi menurutku, karena aku belum menikah dengan Axel, jadi aku tidak mau memakai nama keluarganya." Kasya menggeleng.
"Ya, itu terserah kamu. Jadi apa kepanjangannya?" Tanya Ranti lagi.
Kasya lalu teringat Dion yang telah menyelamatkan dia dan bayinya, jadi dia memutuskan akan meminta Dion memberikan nama kepanjangannya.
"Aku akan bertanya pada Dion, tolong panggilkan dia, Ran."
Ranti segera berjalan keluar kamar, dia memanggil Dion dan menyuruhnya masuk.
"Sayang, kenapa aku tidak dipanggil." Seru Denis pada istrinya.
Sontak saja Denis tertawa dan juga yang lainnya. "Istrimu sudah jadi nenek, masih saja gak berubah, dimana pun tempatnya selalu saja genit padamu. Hahaha..." Andi tertawa.
"Yah benar... apa kalian ingat saat kak Denis hujan-hujanan menunggu di bawah rumahnya, saat kak Denis menunjukkan cintanya, lalu memintanya menjadi kekasihnya. Hahaha... aku merasa menonton film India... hahaha." Raka ikut menertawakannya.
"Dan meskipun Denis sudah habis-habisan, tapi cintanya masih saja ditolak. Hahaha... akhirnya karena Denis pura-pura sakit parah dan bilang umurnya tak lama lagi. Ranti baru mau menerima cintanya. Dan aku tak menyangka, jika cinta kalian bisa melewati amukan badai dari ibu dan juga ayahmu. Aku salut pada perjuanganmu mendapatkan cintamu." Timpal Nata masih sambil tertawa.
"Nata, apakah kamu tidak malu menertawakanku. Cintamu yang ditolak Kasya, bahkan lebih sadis dariku. Hahaha..." Akhirnya mereka semua saling ledek dan bergurau.
Sedangkan di dalam kamar, Dion mendekati Kasya. "Ada apa nyonya?"
"Dion, aku hanya ingin memintamu memberikan nama untuk anakku. Bisakah? Anggap saja itu adalah bentuk terimakasih ku padamu." Ucap Kasya.
"Iya Dion, tadi aku sudah ikut memberikan namanya. Namanya Dean, dan kamu tinggal menambahkan kepanjangannya." Timpal Ranti.
Dion menatap bayi Kasya yang sedang digendong istri Raditya. Dion menatapnya dengan teliti, wajah bayi itu sangat mirip sekali dengan Bos nya. Dion sedikit ragu, tapi melihat wajah Kasya yang penuh harap, akhirnya dia memutuskan memberikan bayi itu nama.
"Bagaimana jika nama belakangnya Ivander. Jadi namanya adalah Dean Ivander." Kata Dion.
Semua para ibu-ibu disana bersorak, karena menyukai namanya.
__ADS_1
"Kasya, namanya bagus. Sudah itu saja." Ucap Rania.
"Benar, aku setuju." Timpal Istri Andi yang lebih tua dari mereka.
"Ibu Kasya, aku juga setuju." Marsya menimpali mereka.
Akhirnya Kasya mengangguk.
"Lalu nama cucuku, kamu sudah dapat." Tanyanya pada Marsya.
"Belum, nanti saja, Byan masih mencari-cari, biarkan saja dia yang memberikan namanya. Hihi..." Marsya merasa lucu kalau ingat suaminya mencari-cari di internet dan merasa semua nama sangat jelek.
"Bagus, baiklah... sekarang nama anakku sudah ditentukan. Nak, nama kamu adalah Dean Ivander." Ucap Kasya pada anaknya sambil tersenyum.
Akhirnya semua keseruan dan kehebohan di kediaman Pramudita telah selesai, saat malam tiba mereka semua bubar dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Kecuali Dion, dia tak tega meninggalkan Kasya yang hanya ditemani Bi Yati dan para pengawal diluar.
Kasya tak berkata apapun, karena dia juga merasa aman dan nyaman jika ada Dion di rumahnya.
"Sekali lagi terimakasih Dion, aku merasa tidak enak padamu." Ucap Kasya.
"Ini sudah kewajiban saya nyonya, bayi nyonya adalah tuan muda saya. Anak dari Bos saya, jadi anda tidak perlu merasa tidak enak." Balasnya sambil menggeleng.
Akhirnya Dion selalu tinggal di rumah Kasya selama 3 kali seminggu, selain jika dia memang harus pergi untuk mengurusi bisnisnya.
***
3 Tahun Kemudian.
Kasya melangkahkan kakinya menuju ke kamar anaknya, dia mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ternyata benar dugaannya, anaknya itu masih belum tertidur. Dia baru saja pulang bekerja dan pergi ke kamarnya sebentar, untuk mandi dan berganti dengan pakaian tidur. Setelah selesai, dia langsung menuju ke kamar anaknya.
Kasya lalu membuka pintu kamar anaknya dan masuk ke dalam.
"Bayi kecilku, kenapa belum tidur? Apa kamu nungguin mama pulang? Maaf sayang, mama ada pertemuan dadakan dengan orang yang kerja sama mama." Kasya berkata sambil mendekati ranjang anaknya itu.
Setelah sampai di ranjang, Kasya naik ke tempat tidur anaknya yang sedang berbaring, dan mencium wajahnya.
"Sayang, kok gak jawab? Mama kan lagi nanya kamu." Kasya lalu menggelitiki tubuh anaknya.
"Hi...hi...hi... geli mama, ampun. Ok, Dean bicara." Setelahnya dia merengut tak suka pada ibunya itu.
"Loh, malah jadi marah sama mama. Emang mama salah apa coba?" Kasya merasa bingung.
"Mama bilang, papa akan pulang kemarin. Tapi papa belum pulang juga. Dean tadi udah telepon, tapi telepon Dean gak diangkat sama papa. Dean gak suka! Dean marah. Dean marah sama mama dan papa. Sekarang jangan ganggu Dean, Dean mau tidur." Ucap anaknya panjang lebar, masih sambil dengan wajahnya yang merengut, lalu dia benar-benar menutup kedua matanya untuk tidur.
__ADS_1
Kasya langsung terdiam, dia tau betul sifat anaknya yang satu ini. Sifatnya mirip sekali dengan Axel, yang keras kepala dan selalu menuntut ingin segalanya dipenuhi. Tapi kepintaran ayahnya juga menurun padanya.
Kasya menghela nafasnya, dia akhirnya memeluk tubuh anaknya dan ikut tertidur bersamanya.