
Sehari telah berlalu setelah kejadian di kapal Ferry, para Squad sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Axel. Mereka juga berkata sangat merasa menyesal, Axel meskipun masih merasa marah tapi akhirnya ia memaafkan mereka.
Para Squad berencana besok pagi akan pulang ke Indonesia kembali, hari ini mereka akan menghabiskan waktu mereka melihat - lihat kasino tanpa bermain.
***
"Sayang, aku akan memasak untukmu nanti. Setiap hari setelah kita menikah, aku pasti akan selalu memasak untukmu." Axel menaruh kepalanya di perut polos Kasya, ia membelainya sayang. Mereka baru saja menyelesaikan pertarungan sengit mereka, yang berakhir dengan hasil skor dua - satu.
Sayang, aku ingin punya anak darimu. Jadi maafkan aku yang sudah menipumu dengan merusak pengamannya. Batin Axel.
"Hem." Kasya hanya bergumam, karena merasa kelelahan mengimbangi stamina Axel.
"Kenapa hanya bergumam, kamu masih ingin lagi? Aww, sakit." Perut telanjang Axel dicubit.
"Diam, mulutmu dan otakmu selalu mesum. Bukannya kamu sudah menang 2 kali, kenapa masih belum puas. Huh! Cari sana wanita muda yang bisa mengimbangi mu! Aku nyerah." Kasya cemberut.
"Hahaha... maaf sayang, jangan marah. Kalau kamu menyuruhku bersama wanita lain, itu artinya kamu menyuruh ku mati. Aku akan ma-." Mulut Axel tertutup telapak tangan Kasya.
"Axel! Sekali lagi kamu menyebut kata mati, aku akan meninggalkan mu!" Kasya tidak suka, jika membahas tentang kematian.
Axel melepaskan tangan Kasya yang menutup mulutnya, ia mengecup telapak tangan kekasihnya.
"Maaf." Ucap Axel.
Lalu terdengar ketukan di pintu.
"Mungkin itu Dion, aku menyuruh membawa seseorang untukmu. Kamu sebentar lagi akan menjadi Nyonya Axel, jadi harus ada yang melayanimu dan tentu saja dia harus seorang wanita." Kata Axel sambil beranjak bangun dari ranjang dan memakai pakaiannya.
"Tapi aku tidak butuh. Axel, maksudku sayang, aku bisa melakukan semuanya sendiri." Tolak Kasya, karena dia adalah tipe wanita yang tidak suka manja dan selalu mandiri.
"Tidak ada tapi, aku tidak ingin kamu kelelahan, meskipun hanya sekedar mengangkat sendok untuk makan." Axel dengan cepat keluar kamar.
"Apa dia se - protektif itu, ya ampun. Aku sepertinya benar - benar akan mengubah semua kebiasaan ku. Haish! Biarlah, bukankah kami harus menerima kekurangan dan kelebihan masing - masing jika ingin bersama." Kasya menghela nafasnya pasrah.
Axel segera membuka pintu kamar hotel, benar saja itu adalah Dion yang membawa seorang wanita muda.
"Masuklah." Perintahnya.
Mereka bertiga duduk, Axel mulai bertanya.
"Dion, masalah Byan sudah kamu urus?" Tanya Axel.
__ADS_1
"Beres Bos, aku sudah memerintahkan semua anak buah kita di setiap pelosok Macau ini." Jawabnya.
"Bagus! Jadi, dia wanita yang aku minta?" Tanya Axel lagi.
"Iya Bos, namanya Jiang Yi." Dion memperkenalkannya.
"Halo tuan, nama saya Jiang Yi. Usia saya 24 tahun, saya akan bekerja dengan baik." Ucap Jiang Yi sangat sopan.
Axel melihat dengan tajam dan penuh dengan ketelitian, dia melihat wajah yang lugu dan polos tapi juga terlihat pintar. Wanita itu juga memakai pakaian rapi, dengan setelah jas seperti pekerja kantor.
"Dion, apa kamu yakin? Kamu tau kan resikonya, kepercayaan dan kesetiaan nomer satu. apa dia bisa dipercaya?" Axel menatap tajam pada Dion.
"Yakin Bos, aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri. Jika dia berkhianat, maka aku akan mati." Jawab Dion yakin.
Degh!
Jantung Black Rose berdetak dengan sangat cepat, dia menatap wajah Dion.
Dia benar-benar orang gila! Kenapa dia menjadi penjamin ku! Aku benar-benar akan berkhianat, aku hanya ingin membalas dendam! Ah, bagaimana ini? Batin Black Rose, ia tiba - tiba merasa bimbang.
"Baiklah, karena ini adalah kamu, aku percaya." Ucap Axel.
"Aku akan memanggil istriku dulu." Katanya lagi.
"Sayang, mandinya cepetan. Ada hal penting." Ucap Axel di depan pintu bathroom yang tertutup.
"Oke."
Axel pun berjalan ke arah lemari pakaian Kasya, dia mencari pakaian yang sesuai keinginannya.
Dia menemukan dress berlengan pendek dengan panjang dress dibawah lutut, bagian dadanya tertutup. Sekali lagi Axel melihatnya dan merasa puas.
Saat Kasya selesai mandi dan keluar, dia melihat Axel yang mengangkat sebuah dress dan memandanginya. Kasya langsung mengerti, tapi dia hanya bisa mengalah.
"Sini dress - nya, biar aku pakai." Ucap Kasya.
Axel langsung tersenyum senang dalam hati dia sangat puas, karena sekarang tanpa disuruh, Kasya mau menurutinya.
Kasya yang melihat senyumannya, menggelengkan kepalanya.
Akhirnya setelah pengenalan, Black Rose langsung mulai bekerja. Dia menjadi asisten Kasya, yang menyiapkan semua keperluannya.
__ADS_1
"Baiklah, sayang. Karena sekarang ada yang menemanimu, karena aku juga ada sedikit pekerjaan, jadi aku harus pergi dulu." Kata Axel pamit.
"Ya, pergilah." Balasnya.
Setelah Axel dan Dion pergi, Kasya menatap ke arah wajah Black Rose.
"Jadi namamu Jiang Yi? Cantik sekali. Kamu bilang tidak punya ibu sejak dari lahir dan ayahmu menikah lagi, jadi kamu selama ini tinggal di panti asuhan." Kata Kasya memulai percakapan mereka.
"Iya nyonya, tapi karena saya bekerja keras, saya berhasil sekolah sampai menengah atas. Saya berangkat ke kota, ingin mencari pekerjaan yang lebih baik, tapi akhirnya malah bekerja menemani tamu minum." Balas Black Rose.
"Kamu seperti aku dulu, selalu bekerja keras dan ingin maju. Jadi jangan menyerah, tetaplah menjadi dirimu." Kasya tersenyum lembut, dan mengambil satu tangan sang asisten barunya dan mengelusnya sayang.
Hati Balck Rose semakin gelisah, dia merasa mereka semua adalah orang yang hangat.
"Karena usia kamu hampir sama dengan anakku, dan juga katamu sejak lahir tak mempunyai seorang ibu. Jadi, kamu bisa menganggapku ibumu, aku juga akan memanggilmu Yiyi." Ucap Kasya lembut.
"T-terima kasih, nyonya." Jawab Black Rose, dia menjadi sedikit gugup.
"Baiklah, bagaimana jika sekarang kita shopping. Sejak aku datang kesini, aku belum belanja apa - apa. Sebentar aku akan menelpon kekasihku dulu." Kasya lalu mengambil ponselnya dan menelepon Axel.
Setelah telepon tersambung, terdengar suara berat dari Axel. "Ya ampun sayang, serindu inikah kamu padaku. Padahal aku baru saja pergi, hatiku sangat bahagia." Canda Axel di sebrang telepon sana.
"Ish! Dasar kepedean... hihihi. Aku hanya ingin minta ijin, aku akan pergi dengan Yiyi belanja, bolehkan?" Tanya Kasya.
"Yiyi?"
"Itu panggilanku untuk Jiang Yi, jadi bolehkah?" Sekali lagi Kasya bertanya.
"Baiklah, tapi pakai pakaian yang tertutup... ingat itu. Diluar pintu kamar hotelmu ada 5 pengawal, jadi pergilah tapi hati - hati." Ucap Axel mengijinkan.
Sambungan telepon terputus. Axel segera menelepon pengawalnya, yang dia tempatkan untuk keamanan Kasya.
"William, lebih perketat keamanan, nyonya mu akan pergi keluar!" Perintahnya.
"Ok, Bos." jawabnya.
Kasya akhirnya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di sekitaran hotel. Dia berbelanja beberapa pakaian untuknya dan separuhnya untuk Axel.
Kasya juga membelikan pakaian untuk Dion, dia juga membelikan dress cantik untuk asisten barunya itu.
"Yiyi, coba dress ini. Warna peach nya sangat cocok dengan kulit putih mu, pasti kamu akan terlihat luar biasa cantik. Ayo sana coba." Kasya menjejalkan dress ke tangan wanita muda itu dengan cepat, Karena melihat Yiyi sepertinya akan menolaknya.
__ADS_1
Akhirnya Black Rose berjalan pergi, ia mencoba dress itu. Terrnyata benar, dress itu dipakai olehnya memang terlihat cantik dia juga terlihat sangat anggun. Dia tersenyum melihat dirinya sendiri di depan cermin ruang ganti. Karena biasanya untuk penyamarannya di kasino, dia memakai gaun terbuka dan seksi, gaun yang sangat norak.