
Suasana di ruang tamu kamar hotel Kasya kini terasa menegangkan, semua orang saling menatap dengan tajam.
Axel yang kalah jumlah, tak membuatnya takut sedikitpun. Dia duduk dengan santai menyilangkan kakinya, dengan sebelah tangannya menggenggam tangan Kasya.
Axel berbalik menatap Kasya yang duduk di samping kirinya, Kasya menatap balik Axel. Axel tersenyum padanya menenangkan.
"Ekhem! Jadi, sejak kapan kalian sudah saling kenal?" Tanya Denis yang duduk berhadapan dengannya.
Axel berbalik menatap Denis yang bertanya padanya.
"Entahlah, aku lupa. Tapi yang pasti, aku merasa sudah mengenalnya sejak lama." Jawab Axel santai.
"Kasya, bukankah beberapa minggu lalu saat kamu ulang tahun, kamu tidak bilang apa - apa pada kami?" Denis bertanya lagi.
"Kak Denis, waktu itu aku memang belum kenal Axel. Tapi mungkin saja Axel memang sudah dikirim Tuhan padaku dari saat itu. Kalian masih ingat bukan doa dari Byan? Dia berdoa agar aku mendapatkan jodohku. Jadi, aku berharap Axel memang jodohku yang dikirim oleh Tuhan." Kasya tersenyum lembut pada Axel, terlihat wajahnya yang sangat bahagia.
Axel membalas senyumannya, mereka saling bertatapan dengan penuh arti dengan tangan mereka saling bertautan.
Mata keempat lelaki itu saling melirik, mereka melihat rona kebahagian di wajah Kasya. Mereka pun berpikir satu frekuensi, Kasya sedang jatuh cinta.
"Ekhem!" Nata berdehem.
Kasya dan Axel pun menarik tatapan mereka, Axel menatap ke arah Nata.
Kemarin malam sebelum dia pergi menemui Raka Dirga, dia sudah mengetahui semua informasi semua orang di sekitar Kasya.
Jadi saat tadi Axel melihat mereka di depan pintu, dia hanya terkejut atas kedatangan mereka karena dia sudah tau siapa mereka berempat.
Kini tatapan matanya menatap tajam ke arah Nata, karena dari info yang dia dapat Nata pernah menyukai Kasya, apalagi Nata pernah ada saat Kasya sedang kesulitan.
Rasa cemburu menyeruak kembali dari dalam hatinya, dia bukan cemburu karena Nata pernah menyukai Kasya tapi dia cemburu karena Nata pernah mempunyai kesempatan membantu Kasya saat itu.
Andaikan dari dulu dia sudah bertemu dengan Kasya, dia pasti akan menjadi orang pertama yang selalu ada di sampingnya.
Tepat saat itu lah pikirannya teringat pada Byan.
__ADS_1
"Ohya sayang, aku lupa meminta Dion mencari donor ginjal untuk Byan." Kata Axel yang benar - benar baru teringat.
Sontak saja ketiga lelaki disana terkejut karena perkataannya, kecuali Denis karena memang dia sudah tau.
"Apa?!!" Teriak mereka bertiga.
Kasya menatap Axel dengan tatapan sedikit memarahi, tapi Axel hanya balas menatapnya seperti mengatakan 'mana aku tahu'.
Kasya menghela nafasnya pasrah.
"Ya itu benar, Byan sakit lagi dan perlu donor ginjal baru. Jika ginjalnya tidak segera diganti, hidupnya hanya tersisa beberapa tahun lagi." Suara Kasya terdengar bergetar menahan tangis.
Sebelah lengan Axel segera merangkulnya dari belakang, dia mengusap - ngusap lembut pundak Kasya.
"Sayang, ada aku. Aku bilang akan melakukan segalanya untukmu, sekalipun itu nyawaku." Axel berkata dengan sangat serius.
Sekali lagi tatapan mata keempat lelaki itu saling melirik, mereka sekali lagi berpikir hal yang sama. Lelaki ini tulus mencintai Kasya.
Andi, Denis dan Nata melotot ke arah Raka. Sebab kemarin di telepon, Raka bilang kalau lelaki yang bernama Axel terlalu mencurigakan. Bahkan di telepon Raka juga bilang, kalau Kasya juga menyukai Axel dan mereka harus segera mencegahnya.
Raka yang dipelototi hanya nyengir cengengesan, dia juga sebenarnya hanya ingin mengetes saja.
Apakah aku salah?? Tanya Raka pada mereka bertiga, dengan gerakan tangannya tanpa bicara.
Kamu Pantas Mati!! Jawab mereka bertiga serentak, dengan hanya gerakan tangan tanpa bicara mereka menggerakkan tangannya ke leher seakan memenggal kepalanya.
"Hiyyyyyy..." Raka tanpa sadar bergidik.
"Baiklah, karena tuan Axel bersedia mencari donor ginjalnya. Ijinkan kami semua berterima kasih kepada Anda." Andi yang sedari awal tak bersuara, dia pun berbicara dengan sopan.
"Tidak perlu berterima kasih, karena Kasya adalah wanitaku otomatis Abyan juga adalah putraku. Jadi ini sudah kewajiban ku." Axel membalas dengan sama sopannya.
Saat Kasya mendengarnya dia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Axel, seakan dia berkata terima kasih.
Axel hanya tersenyum padanya, dia pun menatap ke arah keempat lelaki di depannya lagi.
__ADS_1
"Jadi, karena kalian sudah datang kesini. Bagaimana jika aku membawa kalian berkeliling Macau?" Tawar Axel.
"Tentu saja, tapi karena kami baru saja datang dan langsung kesini, kami akan istirahat dulu." Kata Denis.
"Ah, tuan Axel. Apakah pria - pria Inggris diluar pintu adalah para bodyguard mu?" Tanya Nata penasaran.
"Ya, mereka pengawal ku."
"Maaf jika aku tidak sopan, tapi kalau boleh tau pekerjaan Anda apa, hingga membutuhkan pengawal?" Tanya Andi yang memang pensiunan militer.
Axel terdiam, dia benar - benar tidak ingin berbohong. Tapi sekarang ada Kasya, dia masih belum bisa jujur karena takut dia tidak akan bisa menerimanya.
Axel merasa berat hati untuk jujur, karena pernah suatu kali tangannya berlumuran darah dan menghilangkan nyawa seseorang meskipun itu hanya untuk melindungi ayah angkatnya.
Tapi tetap saja karena tangannya pernah menghilangkan nyawa seseorang, dia tak bisa dimaafkan begitu saja. Nyawa yang dia hilangkan adalah anak dari seseorang, juga adalah kakak dari seseorang.
Dulu Axel tidak akan ketakutan, jika ada yang berniat balas dendam padanya. Tapi sekarang setelah dia ingin memulai hidup barunya, hatinya sebenarnya sangat merasa ketakutan.
Axel menatap kembali ke arah Andi, dia akhirnya hanya bisa berbohong.
"Hem, aku sebenarnya hanya Pembisnis biasa. Tapi karena saingan dalam pekerjaan ku banyak, aku hanya berhati - hati. Bukankah berjaga - jaga lebih baik daripada nantinya akan menyesal?" Bohong Axel lancar.
Andi pun menerima jawabannya, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka berempat akhirnya pamit dari sana, mereka semua berjanji akan segera berkeliling Kota Macau.
***
Kediaman Musuh Axel di Macau.
Seorang wanita berusia sekitar 27 tahun, sedang menatap foto lelaki yang saat masih hidup berusia 26 tahun. Lelaki di dalam foto itu adalah kakak laki - lakinya, yang mati dalam perebutan beberapa wilayah kasino 5 tahun lalu.
"Kapan janjimu padaku akan ditepati? Kamu selalu bilang akan membalas dendam atas kematian kakakmu?" Suara seorang pria tua bertanya padanya.
"Ayah, tunggu saja. Aku sudah menyiapkannya sejak lama. Dia terlalu sulit aku kalahkan. Hampir semua anak buahnya disini menyebar, dia terlalu kuat." Geramnya.
__ADS_1
"Tapi aku baru mendapatkan kabar dari informan ku, sekarang dia mempunyai seorang wanita. Aku sedang menunggu lagi kabar darinya. Tunggulah Ayah, tidak akan lama lagi kematian kakak akan segera terbalaskan." Suaranya terdengar sangat dingin dan kejam.