
Nata segera menyusul Dion saat melihatnya marah dan pergi dari sana, dia segera menyusulnya keluar, ingin mencoba menenangkannya.
Sedangkan di dalam ruangan itu tinggal keempat Squad dan Axel juga Emily.
Emily mendekati mereka berempat, dan meminta waktu untuk menjelaskan semuanya.
Tapi Axel malah menjalankan kursi rodanya masuk ke dalam dan pergi dari ruangan, tanpa ada keinginan menyapa mereka berempat.
"Silahkan, kalian duduklah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya." Kemudian Emily mulai menceritakannya dari awal sampai akhir.
Para Squad hanya mendengarkannya tanpa ada yang bicara.
"Jadi seperti itu, aku juga tidak tau dia kenapa. Padahal semalam Axel sepertinya sangat bahagia, karena akan segera bertemu Kasya. Tapi saat tadi kami sedang makan, dia bilang kalau dia berubah pikiran dan tak ingin kembali. Maaf, tapi aku juga tidak tau." Ucap Emily, karena dia juga bingung dengan tingkah Axel. Dia pikir pasti ada yang terjadi padanya
"Begini saja, bagaimana jika kalian kembali besok kesini. Aku akan mencoba membujuk nya dan mencari tau ada apa dengannya. Tolong berikan waktu padanya, kalian juga laki-laki, pasti pernah merasakan tidak percaya diri menghadapi wanita kan?" Lanjut Emily.
"Baiklah, kabari kami secepatnya." Jawab Denis.
Keempat Squad itu pun segera keluar dari sana, dan saat sampai di private jet nya, ternyata Dion belum pergi dan sedang berbicara dengan Nata.
"Ayo kita pergi dulu, kita bicarakan lagi di Rumah. Kita akan menunggu kabar dari wanita yang bersama Axel itu." Ucap Andi.
"Aku pikir sebelum Axel kembali bersama kita, rahasiakan dulu keberadaannya dari Kasya. Ingat, Kasya sedang hamil, dan kehamilannya masih dalam usia yang rentan. Dia tidak boleh terlalu banyak pikiran, kalian mengerti." Timpal Denis.
"Tentu saja kami mengerti, Kasya tidak boleh terluka. Aku tidak bisa terima." Ucap Raditya.
"Hem...ya. Kasya harus bahagia." Timpal Nata.
"Hey! Ada maksud tersirat dari perkataan kalian berdua. Apa kalian masih ada rasa padanya?!" Raka si mulut ember, spontan saja bicara.
"Dasar gila! Mati saja! Ayo, ada laut di depan. Aku akan melempar mu ke laut!" Raditya langsung menarik kerahnya.
"Hey! Just kidding." Raka meminta ampun.
Dion hanya terdiam, dan tatapan matanya sedang menatap laut biru yang begitu indah, entah apa yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
Mereka pun segera pergi dari sana, meninggalkan pulau pribadi itu.
Emily melihat private jet mereka sudah terbang pergi dan menjauh. Dia lalu berjalan ke kamar tidur Axel.
Saat Emily mengetuk pintu kamarnya, pintunya ternyata tidak dikunci, dia pun membuka pintunya dan masuk ke dalam.
Dia melihat Axel sedang menatap keluar jendela kamar, dengan tatapan nanar.
Emily mendekatinya, dan ketika dia ingin berbicara, Axel lebih dulu berbicara padanya.
"Emily, kenapa kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Axel, masih menatap ke arah luar jendelanya. Raut wajahnya terlihat murung.
"Jujur apa Axel, aku sudah mengatakan semuanya." Tapi suara Emily sedikit bergetar, karena dia sepertinya sekarang bisa menebak perkataan Axel.
"Benarkah? Sudah semuanya?" Axel tidak marah, dia hanya terlihat pasrah.
"Axel, apa kamu pergi ke kamarku tadi pagi? Saat aku sedang mandi?" Emily benar-benar sudah bisa menebak permalasahan nya, kenapa Axel bersikap seperti sekarang. Itu lah yang dikhawatirkannya, jadi dia tak mengatakan semuanya.
Axel yang mendengar pertanyaan dari Emily hanya terdiam, tangan besarnya mengelus kedua kakinya yang cacat.
"Axelllll, tidak! Sebentar aku akan mengambil sesuatu untuk mengobati tanganmu. Axel, kamu dengar aku! Jangan begini, kamu harus optimis. Itu lah alasannya kenapa aku tidak mengatakannya semalaman, aku takut kamu pesimis seperti ini. Axel, yakinlah kamu bisa sembuh." Ucap Emily, lalu pergi dari kamarnya mengambil kotak p3K.
Saat Emily sudah pergi, akhirnya Axel menangis, kedua tangannya memeluk kepalanya. Dia menangis tanpa bersuara, lalu tangannya memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit.
"Sayang, kekasih ku, wanita berduriku. Ibu dari anakku, maafkan aku. Aku ingin segera berlari memelukmu, bersama mu dan anak kita. Tapi... kehidupan sedang mempermainkanku, sakit. hatiku sakit.... sayang... Sakit." Axel masih menangisi takdirnya.
Emily sudah kembali, iamendengar ucapannya. Dia merasa menyesal, semua adalah akibat ulahnya. Andai saja dia tidak egois dan gila, dan langsung mengobati patah tulang kaki Axel. Mungkin saja, tidak akan ada komplikasi pada patah tulangnya.
Dari pemeriksaan Dokter, Axel mengalami infeksi pada tulang yang disebut Osteomielitis akut. Akibatnya Axel kehilangan berat badan, dia akan selalu merasa gelisah dan cepat kelelahan. Kemudian nantinya Axel akan sakit pada tulang belakang, yang disertai bengkak dan memar pada kulitnya.
Axel bisa sembuh, tapi karena kasus Axel yang telat diobati, dia harus segera mendapatkan Operasi untuk mengangkat tulang dan jaringan yang terkena infeksi. Dan jalan yang paling ekstrim, Axel harus diamputasi tungkainya.
Emily benar-benar merasa menyesal. "Kamu wanita jahat Emily, kamu sudah merusak masa depan orang lain." Ucapnya sedih.
Emily mendekati Axel dan Anton di belakangnya ikut maju.
__ADS_1
"Anton, obati yang benar." Kata Emily.
"Ya, nyonya."
Axel pun sudah berhenti menangis, sejak mendengar suara langkah kaki. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain.
Setelah selesai, Emily menyuruh Anton pergi.
"Axel, kita harus bicara." Pintanya.
"Apa lagi yang harus dibicarakan, biarkan aku mati saja. Emily, aku sudah tak ingin hidup lagi." Axel menghela nafasnya panjang.
"Axel, aku bilang semua akan baik-baik saja. Kamu bisa cepat diobati sekarang, meskipun memang sudah terlambat karena patah tulang kakimu sudah kena infeksi. Tapi, Axel... aku yakin kamu bisa sembuh jika mendapatkan Operasi. Bahkan jika kamu harus merelakan kedua kakimu, dengan amputasi. Tapi bukankah itu lebih baik daripada kamu menyerah dan tidak berusaha." Emily mencoba memotivasinya.
"Axel, aku yakin kamu adalah orang yang kuat. Kamu bisa mengobatinya sekarang, dan kamu pasti bisa normal kembali jika mempunyai kemauan yang sangat kuat. Aku mohon, kuatlah Axel demi kekasih dan anakmu...." Emily melembutkan suaranya.
Axel termenung memikirkan semua perkataan Emily.
Sayang.... apakah aku harus berjuang dengan sekuat tenaga, agar bisa kembali lagi padamu? Lalu, jika aku sudah berjuang dan masih tidak bisa sembuh... apakah kamu akan tetap mencintaiku? Batin Axel kacau.
"Axel...?"
"Emily, jika aku mencoba untuk berjuang agar kakiku bisa sembuh dan tak perlu amputasi. Apakah kamu bisa membantuku?" Kata Axel sedikit bertekad.
"Tentu saja, apa saja. Aku akan membantumu sampai batas kemampuanku. Karena semua ini juga adalah kesalahanku, anggap saja aku sedang membayar semua dosaku padamu." Ucap Emily yakin.
"Kalau begitu, bawa pergi aku dari sini. Carikan tempat pengobatan tulang terbaik. Aku tidak bisa kembali pada Kasya sekarang, karena aku takut harapan sembuhku kecil, bahkan aku saja belum tau keberhasilannya. Aku tidak ingin menjadi orang cacat seumur hidupku, dan menyusahkan Kasya. Aku tidak ingin Kasya harus menderita seumur hidupnya, harus mengurus orang cacat sepertiku." Ucap Axel padanya.
Emily menatap Axel, terlihat di wajah lelaki itu suatu tekad dan harapan untuk sembuh dari sakitnya. Emily pun akhirnya menyetujuinya.
"Aku akan segera mempersiapkan semuanya." Balasnya.
"Emily, aku ingin secepatnya. Kalau bisa hari ini juga, terserah pergi kemanapun. Nanti baru pikirkan kembali tempat untuk pengobatan ku." Ucap Axel penuh ketegasan.
Emily pun segera berjalan keluar kamar Axel, dan segera mengumpulkan anak buahnya.
__ADS_1