Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 72


__ADS_3

Dion berbalik ke arah Mayleen, "Kemarilah, bantu wanita ini."


Mayleen berjalan mendekat, ia menatap dari atas sampai bawah keadaan menyedihkan wanita yang sedang duduk di kursi, " Siapa dia? Ada apa dengannya?" tanyanya.


"Aku tidak tau siapa dia, aku belum menanyakan namanya. Saat tadi aku berjalan melewati ruangan ini, wanita ini sedang disiksa para pria di dalam ruangan sebelah. Aku tak bisa melihat mereka menyiksanya, lalu aku masuk dan membawa wanita ini keluar," Dion menjelaskan.


"Kenapa kau dan wanita ini bisa lolos?" tanya Mayleen heran tapi terlebih situasi ini ia merasa pernah mengalaminya. Bukankah saat ia menjalankan misi untuk mendekati Dion dulu juga kurang lebih seperti wanita ini, berpura - pura menderita?


"Kebetulan aku mengenal Bos di ruangan itu, kami melakukan tawar - menawar. Tenang saja, aku tidak berkelahi dengan mereka." Jawab Dion.


"Tidak berkelahi? Jadi, berapa yang kau bayar untuk wanita ini?" selidik Mayleen.


"Tidak banyak, baiklah sekarang kau urus dia. Kalian sama - sama wanita," Dion bangun tapi lagi - lagi wanita itu mencekalnya. Kali ini wanita itu mencekal lengannya.


"Tuan, aku takut. Jangan tinggalkan aku... aku mohon... " wanita itu menatapnya dengan tatapan yang sangat menyedihkan.


Degh!

__ADS_1


Tiba - tiba kilas adegan ketika Kasya menjerit kesakitan saat akan melahirkan terlintas di benaknya, Dion seketika mematung.


"Dion! Hei!" Mayleen menepuk pundaknya.


Dion seketika tersadar, ia menatap kasihan pada wanita yang tengah memohon padanya. "Dia adalah temanku, kau akan baik - baik saja diurus olehnya. Namaku Dion dan namanya Mayleen, lelaki disana bernama Smith, kau akan aman bersama kami." Akhirnya Dion berdiri dan melepaskan cekalan wanita itu dengan lembut.


"Smith, cari kotak obat!" ucap Mayleen seraya duduk di dekat wanita itu.


"Siapa namamu, Nona?" tanya Mayleen.


"Amora..."


Amora menggeleng, ia menunduk. Kedua tangannya bergetar hebat di atas pahanya. Mayleen adalah seorang ahli, ia mulai mendeteksi kebohongan atau kepura - puraan dalam ucapan dan tindak tanduk wanita yang bernama Amora itu.


Melihat tubuh dan tangan gemetarnya, Mayleen yakin wanita itu benar - benar sedang ketakutan dan kesakitan. Sepertinya itu bukan sandiwara, tapi hanya ada satu kemungkinan jika wanita di depannya ini bersandiwara berarti wanita ini adalah seorang ahli profesional lebih darinya.


"Hm."

__ADS_1


Dion duduk bersandar di ujung sofa melingkar, ia hanya memperhatikan interaksi antara Mayleen dan wanita yang bernama Amora itu. Ia juga pernah sekali ditipu oleh Mayleen waktu itu, jadi sebenarnya ia tidak serta merta mempercayai ucapan Amora. Hanya saja ketika tadi wanita itu mengatakan bahwa dia mempunyai seorang anak, Dion langsung terpikirkan akan Kasya dan Dean.


Dion menghela nafas pelan, "Bagaimana kabar kalian?" gumamnya.


***


"Hatciwwww!" Kasya menggosok hidungnya yang tiba - tiba saja gatal.


"Kamu sakit, sayang? Mau pergi ke Dokter?" Axel langsung berdiri dari duduknya di lantai, ia sedang bermain bersama Dean. Setelah di depan istrinya, ia menaruh punggung tangannya di kening Kasya memeriksa suhu tubuhnya.


"Gak panas," Axel memeriksa keningnya sendiri dan suhu mereka berdua normal.


"Hihi, kamu tuh. Ya gak selamanya bersin itu sakit, sayang. Ahya, kapan kamu akan bawa Dean ke Perusahaan? Dean bawel terus, dulu kalo sama Dion-" Kasya merasa salah bicara, ia menghentikan ucapannya.


"Kamu merindukan Dion?" selidik Axel, ia menatap intens mata istrinya.


"Gak, maksudku kalau kamu bawa Dean ke Perusahaan jangan lupa bawa mainan - mainan anak kita ya. Biar entar dia gak rewel dan anteng disana." Kasya langsung merangkulkan tangannya pada leher suaminya, ia mengecup bibir suaminya lembut.

__ADS_1


Axel menghela nafas lagi, entah kenapa akhir - akhir ini ia sering merasa kesal saat Kasya selalu tak sengaja menyebut nama Dion. Untung saja kesabarannya kini benar - benar sangat tak terbatas.


__ADS_2