
Davina yang baru tersadar akan keadaannya sekarang, melirik ke kiri dan ke kanan takut ada orang yang melihatnya yang 'semi' telanjang.
"Hei! Berikan baju ku!" Teriak Davina dari luar dengan menggedor pintu.
Pintu apartemen terbuka kembali dan Marsya melemparkan baju Davina ke wajahnya dengan kasar.
"Sekarang Pergi! Jika tidak, bukan hanya rambutmu yang aku sakiti tapi wajahmu yang kamu jual sebagai artis itu, entah apa yang akan aku lakukan padanya! Pergi!" Usir Marsya lalu dia menutup kembali pintu apartemen dengan keras di depan wajah Davina yang masih melongo.
Davina segera memakai pakaiannya dengan cepat, untung saja tidak ada orang di sekitarnya. Lalu dia teringat kalau tas dan topi serta barang lainnya masih ada di dalam, tapi akhirnya dia pergi karena takut akan ancaman dari Marsya.
Marsya kemudian beranjak ke kamar Byan karena terdengar suara erangan kesakitan dari dalam. Ia berjalan ke dalam kamar sambil menutup matanya, dengan cepat dia menutup tubuh telanjang Byan dengan selimut.
Tapi saat tangannya sedang menyelimuti tubuh Byan, Byan menarik tangannya dengan kasar dan tubuhnya langsung tertarik jatuh ke atas tubuh lelaki terangsang itu.
Baru saja Marsya ingin bangkit dari atas tubuhnya, tapi Byan yang setengah sadar langsung membalikkan tubuh mereka dan kini tubuh polos Byan berada di atas tubuh Marsya.
"Byan jangan seperti ini, lihatlah ini aku. Aku akan membawamu ke rumah sakit, kamu pasti sudah diberikan obat oleh wanita ****** itu!" Marsya memberontak berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Byan.
Tapi sayang apapun perkataan yang keluar dari mulut Marsya, Byan tak menghiraukannya. Dengan ganasnya ia mencium bibir Marsya bahkan menggigit bibirnya hingga Marsya melenguh kesakitan.
Tangan besar lelaki berotot itu menerobos masuk ke dalam baju Marsya, tangan Byan dengan kasar menjelajahi tubuh Marsya sambil bibinya menelusuri leher Marsya.
Byan sudah tak sabar dia lalu menarik sampai merobek gaun Marsya dengan kekuatannya yang sudah seperti kerasukan setan, nafasnya memburunya penuh dengan nafsu.
Setelah tubuh mereka berdua polos, Byan dengan kasar memasukan senjata kerasnya yang sudah siap bertempur sejak awal.
__ADS_1
Marsya berteriak kesakitan karena ini adalah pertama kali untuknya, ia terisak menangis dengan kedua tangannya mencengkram erat seprai.
Byan yang sudah buta oleh nafsunya dengan tanpa ampun terus menerus memaksakan senjatanya ke dalam tubuh Marsya, bahkan tidak ada sedikitpun kelembutan.
Setelah Marsya terus - menerus menangis berpikir semuanya tak akan pernah berakhir, tiba-tiba tubuh Byan bergetar hebat dan terdengar er4ngan kepuasan dari bibir lelaki itu.
Setelahnya tubuh Byan ambruk di atas tubuh Marsya dengan nafas beratnya lalu matanya perlahan tertutup.
Marsya yang masih berada di bawah tubuhnya, menggigit bibirnya lalu dengan sisa kekuatannya dia mendorong tubuh Byan ke samping.
Setelah berhasil Marsya segera duduk, tatapan matanya melihat ke arah Byan menyiratkan kesedihan. Dia memang mencintai Byan tapi tidak harus seperti ini. Dia tak bisa menerima perlakuan Byan padanya meskipun dia tau Byan juga adalah seorang korban.
"Byan, Byan... aaku harus bagaimana? Hiks..." Marsya masih menangisi keadaan mereka berdua.
Sebelum Marsya pergi, dia menyelimuti tubuh Byan yang sudah tak sadarkan diri lalu mengecup dahinya lembut.
"Byan, aku mencintaimu." Setelah mengatakannya Marsya pergi dari sana dengan berjalan tertatih - tatih karena kesakitan.
****
Keesokan harinya, Byan mengerjapkan matanya yang masih menutup. Sinar matahari menerobos masuk menyilaukan matanya menyusup dari celah tirai jendela.
Saat Byan berusaha membuka kedua matanya seketika kepalanya sakit, dengan perlahan ia memaksakan tubuhnya untuk duduk.
Saat matanya terbuka penuh, pikirannya belum tersadar sepenuhnya. Dia melihat keadaanya yang telanjang tertutupi sebuah selimut.
__ADS_1
Byan segera mengerutkan keningnya, matanya langsung menatap berkeliling. Saat tatapan matanya jatuh di atas seprai kasur putih di sampingnya yang terdapat bercak darah, seketika ingatannya diserbu gambaran - gambaran yang tak jelas tentang tadi malam.
Dia mengingat kalau dia sedang mengantar Davina pulang, lalu tiba-tiba di perjalanan tubuhnya menjadi sangat panas. Lalu mereka berdua masuk ke dalam apartemen dan Davina menciumnya bahkan melepas satu - persatu pakaiannya.
Setelah itu apa? Ingatan Byan terhenti disana.
"Apa yang terjadi setelahnya? Tidak! Jangan katakan kami sudah tidur bersama! T-tapi darah di seprai?!" Byan bergumam bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Dia kemudian segera bangun dengan melilitkan selimut pada tubuhnya. Dia berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Davina dan tatapan matanya jatuh pada barang-barang Davina di sofa.
"Sial! Apa aku benar-benar sudah melakukannya dengan Davina? Tidak! Bagaimana ini? A-ku... padahal aku baru saja menyadari perasaanku pada Marsya dan ingin mengungkapkannya. Sekarang aku harus bagaimana?!!" Byan berteriak frustasi, dia menonjokkan kepalan tangannya ke dinding dengan keras.
"Marsya..." Lirihnya sedih.
Setelah beberapa saat Byan menenangkan dirinya, dia segera mengambil ponselnya dan menelepon Davina.
Drrrtt.
Drrrtt.
Byan berbalik ke arah sofa ia mendengar getaran dari dalam tas Davina, ternyata ponsel Davina ada di dalamnya.
Byan pun segera mematikan teleponnya sendiri, dia menghela nafas frustasi.
"Sepertinya aku harus segera menjernihkan semuanya dan berbicara dengan Davina." Setelah mengatakannya Byan segera bersiap untuk pergi ke Apartemen Davina.
__ADS_1