Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter18


__ADS_3

Setelah berjaga semalaman, saat dini hari Kasya akhirnya tak kuat menahan kantuknya. Setelah tak berapa lama dia tertidur, ponselnya berdering dan membangunkan nya.


Kasya mengocek mata lelahnya, ia meraba lalu mengambil ponselnya terlihat di layar ponsel tertera nama Ranti.


Tapi saat dia akan mengangkatnya, tiba-tiba suara yang sudah akrab terdengar memanggilnya.


"Mah..." Suara lemah Byan memanggilnya.


Sontak saja ponsel yang ia pegang pun dia taruh kembali. "Sayang, kamu sadar. Akhirnya!" air mata Kasya tumpah kembali, ia mengelus sayang kepala putra kesayangannya sambil menciumi wajah Byan.


Kemudian Kasya menekan tombol nurse call bel, tak selang berapa lama perawat dan Dokter yang menangani Byan berdatangan.


Kasya bergerak menyingkir untuk memberikan ruang pada para staf medis itu untuk memeriksa kondisi Byan.


Kemudian akhirnya semua pemeriksaan selesai, sebelum pergi Dokter itu mengatakan Byan harus benar-benar istirahat total dan dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Pasien tidak boleh stres dan kondisi psikisnya juga harus tenang.


"Terimakasih, Dok."


Kemudian Dokter dan para perawat pergi meninggalkan Ibu dan anak berdua.


"M-mah..." Sekali lagi Byan memanggil ibunya.

__ADS_1


Kasya segera mendekatinya lalu duduk di sebelah ranjangnya lagi.


"Apa yang kamu rasakan sekarang? Katakan sama mama. Kamu butuh sesuatu?" Kasya berbicara sambil mengelus sayang kepala anaknya.


"Byan sakit apa? Tadi Dokter bilang Byan harus dirawat." Tanyanya.


"Sayang, kamu-" Ucapan Kasya terhenti karena tak sanggup melanjutkannya, air mata kembali mengalir di pipinya.


Kasya menangis kembali dengan begitu menyedihkan, air mata yang selalu menjadi saksi bisu bahwa sebenarnya di juga hanya wanita biasa yang terkadang sangat rapuh.


Ia berpikir semalaman, sepertinya ia tak akan pernah sanggup jika harus kehilangan anaknya. Mungkin jika sesuatu terjadi pada anaknya, ia juga akan 'pergi' bersamanya.


Mentalnya saat ini benar-benar sedang berada ditahap paling bawah, dia memikirkan semua perkataan Dokter dan sekarang anaknya bertanya padanya. Lalu apa yang harus dia jawab?


"Mah, aku gak apa-apa. Aku bisa menerimanya kok, apa aku sakit parah?" Tanyanya sekali lagi pada ibunya.


"Byan, mama akan jujur. Tapi kamu harus tenang dan juga harus tetap tegar ya sayang." Kasya menatap anaknya dengan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.


Kasya pun menceritakan semuanya dari saat ia menemukan anaknya itu yang sudah tak sadarkan diri, lalu semua perkataan dari Dokter tentang kemungkian hidupnya yang hanya bisa bertahan beberapa tahun jika tak mengganti ginjalnya yang rusak lagi.


Setelah Ibunya selesai berbicara, Byan hanya terdiam dan tak mengatakan apapun. Pria sakit itu hanya menatap kosong.

__ADS_1


Kasya yang melihat putra kesayangannya seperti itu merasakan sakit di hatinya, kenapa semua ini terjadi lagi padanya?!


"Sayang, jangan begini. Bicaralah, hmm."


Byan akhirnya menatap wajah ibunya, ibu yang selalu merasakan kesusahan demi ia sejak ia dilahirkan. Ibu yang dulu mencari nafkah dengan begitu sulitnya, Ibu yang bekerja tanpa mengenal lelah hanya untuk menghidupi dan mengobati penyakitnya.


Semua itu hanya untuknya, pengorbanan ibunya dari dulu hingga sekarang hanya untuknya. Lalu saat ini melihat ibunya harus bersedih lagi karenanya, bukankah ia tidak mencintai ibunya?


"Mah, Byan akan kuat. Byan akan berusaha untuk sembuh, jadi bisakah mama jangan bersedih lagi? Hati Byan sangat sakit melihatnya." Byan mengulurkan tangannya menghapus air mata ibunya.


"Hiks...ya sayang. Mama akan berhenti menangis, mama gak akan bersedih lagi. Lihatlah bibir mama, sudah bisa tersenyum bukan?" Kasya pun tersenyum lebar meskipun yang terlihat adalah senyuman yang menyedihkan.


"Mah, apakah Byan pernah bilang sama mama, kalau mama adalah Ibu terhebat dan tercantik di dunia ini?" Ucap Byan menatap ibunya dengan tatapan memuja dan sayang.


"Aish, kamu ini. Mulutmu yang selalu manis itu, lama - lama akan membuat mama kena diabetes." Akhirnya Kasya sedikit tersenyum, ia bisa sedikit melepaskan rasa sesak di dadanya.


"Oh ya sayang, mama ingin memberitahumu sesuatu tentang kejadian malam kemarin dan juga semua tentang Davina." Kasya berbicara dengan tatapannya yang seakan ingin membunuh seseorang.


Byan yang melihat tatapan ibunya tentu saja kaget, ia baru kali ini melihat ibunya lagi seperti ini setelah sekian lama.


"Sayang, mama tau kamu menyukai Davina. Tapi maaf, mama sudah memasukannya ke dalam jeruji besi. Bukalah map ini dan buka juga fail yang tersimpan di dalam iPad ini." Kasya memberikan map dan iPad - nya.

__ADS_1


Byan tak banyak bertanya dan langsung menuruti perkataan ibunya, ia membuka map terlebih dulu dan saat membukanya ia tak percaya apa yang ia lihat di dalam map. Semua data serta foto-foto Davina di dalamnya, itu adalah tentang masa lalu kelam wanita itu.


__ADS_2