Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 36


__ADS_3

Bibir Axel kini turun ke leher jenjang Kasya, memberikan kecupan - kecupan di sana. Jari- jari cantik Kasya menyelusup ke rambut Axel seakan memberinya semangat.


Tapi saat kepala Axel akan turun semakin ke bawah, Kasya membuka matanya ia seketika terkejut lalu berteriak histeris.


"Aaaaaaaaaa....." Kasya langsung turun dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axel.


Suara teriakan Kasya ditimpali dengan suara dari Dion.


"Maaf Bos. Aku gak liat apa - apa, mataku lagi buta. Lagian aku lelaki polos, aku gak ngerti apa - apa Bos." Dion nyerocos sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan kirinya.


Axel sedang mengatur nafas memburunya agar kembali normal, matanya menatap Kasya yang menyembunyikan wajahnya di dadanya. Dia seketika tersenyum, merasa Kasya sangat manis sekali.


"Aku pergi Bos, lanjutin Bos." Dion bersiap pergi dan membalikkan badannya.


"Dion! Diam di tempat!" Axel menghentikannya.


Seketika Dion berdiri tegak di tempat, dia berdiri dengan sangat kaku.


"Kasya sayang, jangan malu. Aku akan memberikan pelajaran padanya, biar ke depannya kejadian seperti ini gak akan terulang lagi. Jadi angkat wajahmu." Axel mengangkat wajah Kasya dengan telapak tangannya.


Kasya pun mengangkat wajahnya yang sudah dihiasi rona merah karena malu, dia menatap ke arah Dion dan sekali lagi dia menjerit.


"Aaaaaaaaaa......" Jeritan keduanya terdengar di ruangan tamu kamar itu.


"Sayang, ada apa lagi? Kenapa menjerit?" Axel menatap heran padanya.


"D-darah, Dion... ta-tangannya." Kasya tergagap sambil menunjuk tangan Dion.


Akhirnya Axel membalikkan badannya menghadap Dion, benar saja telapak tangan kanannya berdarah dan darahnya menetes ke lantai.


"Dion! Tanganmu?!" Axel sama terkejutnya.


Dion akhirnya tersadar, dia melihat ke arah telapak tangannya. Sepertinya tadi tergores oleh duri duri dari tangkai mawar, yang pembungkusnya terbuka saat mawar itu berjatuhan.


"Hehe, gak apa - apa kok Bos. Cuma tergores duri sedikit." Bohongnya karena terlihat dia meringis.


Hei tangan! Kau mau protes padaku karena berdarah, iya kan? Atau kau sedang menertawakan ku? Ini akibatnya bukan, jika aku berani berpikiran menggenggam mawar berduri milik orang lain! Batin Dion menggurui dirinya sendiri.


"Sini aku lihat." Kasya menghampiri Dion, dia ingin menarik tangan lelaki itu.


"STOP!" Axel mencegahnya.


Tangan Kasya yang ingin memeriksa telapak tangan Dion, mengambang di udara.

__ADS_1


Dion juga mengerti, Bos - nya tidak suka wanitanya menyentuh lelaki lain.


"Tapi, tangan Dion-" Mata Kasya seolah bertanya kenapa pada Axel.


"Nyonya, biar aku mengobati diriku sendiri." Dion menghela nafasnya, kenapa pikiran Kasya kurang peka.


"Sayang, setiap inci dari seluruh tubuhmu adalah milikku. Jadi, kamu tidak di ijinkan menyentuh lelaki lain." Axel berkata sambil berjalan mendekatinya dan memeluk pinggang Kasya mesra.


Dion melihat tangan sang Bos yang bertengger di pinggang Kasya, dia pun mengalihkan pandangan matanya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu Bos. Mawar - mawar di lantai ini, biar aku memanggil pelayanan Hotel." Setelahnya Dion pergi keluar dengan menutup pintu kamarnya.


"Sayang, lain kali ingatlah. tanganmu hanya untuk mengelusku, jangan menyentuh lelaki lain. Aku akan cemburu." Axel berbisik di telinga Kasya, membuatnya seketika bergidik.


"Sayang, ayo lanjutkan yang tadi. Aku masih belum makan dengan puas." Gigi Axel menggigiti lembut daun telinganya.


Darah Kasya mengalir dengan deras, tubuhnya memanas, dia pun tak bisa menahan desahannya.


"Ahhhh~" ******* lolos dari bibirnya.


Axel segera mengambil kesempatan, dia segera mengangkat tubuh Kasya ke kamar tidur. Axel membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan lembut, dia mencium bibir Kasya kembali dengan penuh gairah dengan satu tangannya berusaha membuka kancing kemejanya sendiri.


Axel melepaskan pagutannya dari bibir Kasya dan menarik kemejanya lepas, terpampang dada bidang dan perut six pack-nya. Kasya memandangnya dengan penuh kekaguman di matanya.


Tangan Kasya pun bergerilya dengan liar, dan Axel sangat menikmatinya.


"Sayang, bolehkah?" Pintanya, karena dia sudah tak bisa menahan gairahnya lagi.


Kasya menatap mata Axel dengan dalam, dia pun menganggukkan kepalanya. Axel tersenyum senang, tangannya kini beralih ke kaos Kasya untuk membukanya. Saat dia sudah berhasil membukanya, terpampanglah kedua gunung kembar putih mulus di depan matanya.


Axel menurunkan kepalanya ke gunung kembar Kasya dan menciuminya dengan sangat rakus. Tangannya beralih ke belakang tubuh Kasya, untuk membuka kaitan bra. Saat Axel masih berusaha membuka kaitan bra-nya, tiba - tiba sebuah ketukan di pintu menghentikan adegan panas mereka berdua.


Axel mengangkat kepalanya dari gundukkan gunung kembar yang sedang dia nikmati yang memang sudah meminta untuk dilahap itu.


"Mungkin itu hanya pelayanan hotel, yang dipanggil Dion. Biarkan saja, ayo kita lanjutkan." Kata Axel, langsung melanjutkan aksinya kembali.


"Um..." Kasya yang sudah terbakar api gairah, hanya bergumam.


Tapi sekarang yang terdengar bukan ketukan lagi, tapi gedoran yang sangat keras.


Seketika keduanya menghentikan kembali aksi mereka berdua, pikiran Axel dan Kasya seketika langsung jernih.


"Sepertinya itu bukan pelayan atau Dion, mereka tidak akan berani." Ucap Axel.

__ADS_1


Kasya pun segera mendorong tubuh Axel dan segera bangun, dia membenarkan kaitan bra-nya dan memakai kaosnya kembali.


"Aku akan membuka dan melihatnya." Kasya lalu turun dari ranjang, dia berjalan keluar kamar tidur.


Saat dia membuka pintu kamar hotelnya, matanya seketika melebar dengan mulut yang menganga sama lebarnya.


"Kalian!!!" Kasya tak percaya dengan apa yang dia lihat di depan pintu.


"Kami dataaaaaaaaaaaang......." Seru salah seorang lelaki yang tak lain adalah Denis.


"Yuhuuu......." Andi melambaikan tangannya.


"Hai, Ratu es - ku. Bagaimana kejutanku?" Tanya Raka dengan tersenyum senang.


"Sepertinya kejutannya berhasil, lihatlah wajahnya sangat terkejut, seperti baru saja melihat hantu, Hahaha." Ucap Nata yang juga ikut datang.


Baru saja ucapan Nata keluar, dari arah belakang Axel berjalan menghampiri Kasya dengan bertelanjang dada masih belum memakai kemejanya kembali.


"Sayang, siapa?" Tanya Axel, belum tersadar akan situasinya.


Tapi saat dia sudah mendekati Kasya, matanya bertatapan dengan mata keempat lelaki yang ada di depan pintu membuat Axel seketika mundur ke belakang karena terkejut.


Keempat lelaki yang berada di ambang pintu sama terkejutnya melihat keadaan Kasya dan Axel. Mereka baru tersadar dan langsung memerhatikan rambut Kasya yang berantakan dan beralih ke Axel yang bertelanjang dada.


"Kasya! Kamu 'tidur' dengannya?! Lihat, bibirmu bengkak!" Sahut Raka lebih dulu, seperti biasanya mulutnya tak bisa di rem.


Kasya semakin melebarkan matanya, dia sangat malu sekali.


"Oh, tidak !!!!!!" Teriak Denis, Andi dan Nata berbarengan.


"Kasya, jangan bilang yang dikatakan Raka benar?" Selidik Denis.


"A-aku... aku-" Kasya kebingungan.


Axel yang menyadari situasi mereka membuat Kasya tak nyaman, dia langsung bertindak.


"Tuan - tuan, sebaiknya kalian masuk dulu. Kita bicara di dalam." Axel berkata dengan suara tajamnya, juga dengan tatapan mata dinginnya memandang pada mereka.


"Sayang, suruh mereka masuk. Aku akan mengambil kemejaku dulu di kamar." Setelahnya Axel berjalan masuk ke dalam kamar tidur.


"Kalian masuklah, aku akan menjelaskannya." Kasya menundukkan kepalanya, sedikit malu terpergok dengan situasi seperti itu.


Ya ampun, kenapa mereka berempat datang sih? Huh! Dasar kerjaan si tukang gosip! Hanya kurang satu orang yang tidak datang, Raditya! Lengkap deh ini Squad! Gerutu Kasya dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2