
"Ah! kamu tadi bilang aku akan punya anak. Maksudmu anakku dengan Kasya?" Axel baru teringat, matanya menatap Emily dengan penuh pertanyaan.
"Lah, kamu nanya aku, kamu ngerasa tanam benih gak di lahannya? Kalau ngerasa, berarti itu anak kamu." Emily tak tahan mengerjainya.
"Emily, kamu! Jangan muter-muter. Jawab!" Axel tak sabar.
"Axel, sifat kamu dari dulu masih sama. Gak sabaran, egois, terlalu perfeksionis, terlalu protektif. Ah... apa lagi ya? Apa kamu masih gak bisa romantis? Dulu saat kamu bilang aku cantik, dari kita pacaran sampai menikah, itu bisa dihitung dengan jari tangan. Ckckck... aku kasihan pada kekasih mu itu." Emily masih mengejeknya.
"Emily! Diam!" Axel memolotinya.
"Axel, ayolah... lamu bukan pria sempurna, banyak sekali kekuranganmu. Aku hanya ingin memberimu nasihat, agar kamu nanti bisa bersikap lebih baik pada kekasihmu." Emily mengangkat bahunya.
Axel langsung memikirkan sikapnya selama ini kepada Kasya, dirinya memang seperti apa yang dikatakan oleh Emily.
"Baik cukup, aku mengerti. Terimakasih... sekarang katakan tentang anak, yang tadi kamu katakan." Ucapnya.
"Kasya sudah hamil 3 bulan." Kata Emily.
"Benarkah, kamu tidak bohong." Seketika matanya berbinar.
"Ya, tapi jika dipikir-pikir. Bagaimana kamu bisa bersentuhan dengan Kasya? Bukankah tidak ada obat untuk fobia mu?" Emily menatap Axel heran.
"Kamu heran, aku juga lebih heran. Aku memikirkan semua kemungkinannya, dan hanya ada 2 jawaban. Kesatu, mungkin karena kami sama-sama pernah dikhianati dan ikatan batin kami bisa terjalin dengan sangat kuat. Yang kedua, mungkin ini adalah keajaiban dari Tuhan." Kata Axel, lalu tersenyum penuh syukur.
"Malah senyum-senyum. Apa kamu begitu mencintainya, melebihi cintamu padaku dulu?" Tanya Emily.
"Emily, setiap cinta ada takarannya masing-masing. Tidak akan pernah bisa dibanding-bandingkan. Tapi yang pasti, aku sangat mencintainya." Axel tersenyum lagi, saat membayangkan wajah Kasya.
"Baiklah, sudah-sudah pria bucin. Aku tak mau melihatnya. Sekarang aku akan mengatakan 2 hal kebohongan ku padamu." Emily tiba-tiba mundur menjauh darinya, karena takut kena amukan Axel.
"Kenapa kamu mundur?" Tanya Axel heran.
"Itu aku, anu... aku sudah bohong padamu. Aku minta maaf lebih dulu. Jadi, jangan marah. Oke." Emily tak berani menatapnya.
"Pertama, Byan sudah sehat. Dia tidak meninggal, bahkan hari ini adalah hari pernikahannya." Emily menggigit bibirnya, merasa bersalah.
Axel menatap Emily tak percaya.
"Tunggu! Jangan marah dulu. Aku belum selesai." Ucapnya.
"Kedua, kakimu sebenarnya masih bisa diobati dan kembali normal. Aku bohong soal cacat permanen mu." Emily menghela nafasnya.
Seketika Axel menahan amarahnya, dia benar-benar ingin menarik Emily jika bisa berjalan dan mencekiknya lagi.
"Kamu!!!" Axel hanya bisa meraung marah.
"Sudah, aku akan segera mengembalikan mu besok siang. Jadi, kita cukupkan perbincangan kita sampai disini. Aku pergi... Hiyyyy." Emily kabur dari sana dengan secepatnya.
"Emilyyyyy!!! Kembali kesini, aku belum selesai bertanya! Hey!" Axel berteriak marah-marah, merasa belum puas.
__ADS_1
Tapi Emily sudah tak terlihat lagi.
"Kalau aku bisa berjalan, kamu sudah habis Emily!" Gerutunya.
Dia pun mengingat Kasya. "Kasya Sayang, tunggu aku kembali. Aku mencintaimu." Axel merasa Sangat bahagia, akan segera bertemu wanitanya.
***
Kasya yang sedang tertidur pulas, terbangun tiba-tiba. matanya seketika berkeliling menatap setiap sudut ruangan kamar tidurnya.
Dirinya merasa ada seseorang yang memanggil namanya, suara pria yang sangat dirindukannya.
"Sayang, kamu kah itu?" Dia bertanya masih dengan matanya melihat berkeliling.
"Axel....?"
Kasya turun dari ranjangnya, dia berjalan ke arah jendela kamarnya. Dia membuka sedikit tirai jendela, dan melihat ke arah luar. Tapi, tidak ada apa-apa diluar sana.
"Sayang... kapan kamu kembali? Jangan membuatku lama menunggu mu, aku dan anak kita sangat membutuhkan mu. Aku merindukanmu, aku benar-benar merindukan mu." Ucapnya sambil terisak, dengan satu tangannya mengelus perutnya.
***
Dion terlihat sedang sibuk dengan bawahannya, menyambungkan semua petunjuk-petunjuk. Sampai jam 5 pagi mereka masih berusaha menyatukan semuanya, dan akhirnya mereka berhasil menemukan Bos mereka.
"Ahh! Akhirnya kami menemukanmu. Bos, kami datang!" Ucap Dion senang.
***
3 Private Jet mahal datang ke sebuah pulau Pribadi, yang terletak di Kepulauan Seribu di Kota Jakarta itu. Private Jet sudah berhasil mendarat dengan mulus disana.
Para Squad semuanya ikut, karena mereka langsung dikabari oleh Dion. 2 Private Jet adalah milik Raka dan Denis, dan satunya lagi adalah milik Axel.
Semua orang-orang di dalam private jet itu sedang bersiap, mereka sedang menerka-nerka berapa jumlah pihak dari lawan.
"Mereka pasti sudah mendengar dan melihat jet kita, lawan kita pasti sedang bersiap dengan senjata-senjatanya." Ucap Andi.
"Kalian sudah pakai rompi anti peluru dariku?" Tanyanya lagi.
"Kami siap." Semua orang menjawab.
***
"Axel, sepertinya semua sudah datang menjemput mu. Huh! Hebat juga anak buahmu, bisa tahu kita berada disini." Emily sedang mengobrol santai dengan Axel, sambil memakan sarapan mereka di meja makan.
"Hem." Axel hanya bergumam.
"Axel, cepat keluar. Temui mereka, pasti mereka semua heboh. Dan semua anak buahku, sudah aku suruh ngumpul di dalam kamar mereka." Emily sedikit kesal, melihat santainya Axel.
"Aku sebenarnya berubah pikiran, aku tidak ingin kembali." Axel mengangkat bahunya acuh.
__ADS_1
"Haaaah?" Emily kaget.
"Aku hanya sedikit tak percaya diri menghadapi Kasya, dengan kedua kakiku yang cacat ini. Aku merasa bukan lelaki sempurna untuknya." Lanjutnya.
"Axel, tapi semua akan baik-baik saja." Ucap Emily.
Tepat saat mereka masih bicara, tiba-tiba pintu depan terbuka karena sebuah tendangan.
Brak!
Axel masih dengan tenang memakan sarapannya, sedangkan mata Emily menatap ke arah pintu yang sudah terbuka.
Semua orang yang masuk tercengang melihat suasana yang teramat sangat sunyi, sangat tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Terlihat semua tangan mereka yang sedang memegang senjata api legal, mengarahkannya dengan lurus ke depan ruangan kosong yang luas itu, yang hanya terlihat Axel dan Emily.
Dion yang tersadar lebih dulu, dia menjatuhkan tangannya ke bawah bersama senjata api yang masih dipegangnya. Dia melangkah maju, mendekati Bos nya yang sedang duduk di kursi rodanya.
"B-bos... kamu..." Suaranya bergetar melihat keadaan kaki Axel.
"Dion, kamu sudah datang." Katanya cuek.
"Ya, aku sudah datang. Mari kita kembali, Nyonya Kasya sedang menunggumu." Ucapnya.
Seketika tubuh Axel menegang, saat mendengar Dion menyebutkan nama Kasya.
"Pergilah, aku akan tetap disini." Balasnya.
"Bos, ada apa? Kita kembali dulu, jika ada apa-apa, nanti kita selesaikan." Kata Dion terkejut.
"Dion! Aku bilang pergi, berarti pergi! Sejak kapan kamu membantahku!" Teriak Axel sambil menatapnya tajam.
"Bos!!! Ada apa denganmu?! Nyonya sedang menunggumu, apa kamu tidak kasihan padanya?! Dia menangisimu setiap hari! Memanggil namamu setiap waktu! Apa kamu akan bersikap seperti ini!" Dion balas berteriak.
Semua orang yang sedang menonton adegan antara Bos dan bawahannya itu menarik nafas mereka.
Emily akhirnya melerai mereka berdua.
"Dion, Axel bilang... dia hanya tidak percaya diri bertemu dengan Kasya. Kamu lihat kakinya, kakinya patah tulang dan cacat. Tapi, aku sudah membujuknya karena itu masih bisa diobati. Maafkan aku, aku lah yang selama ini tak mengobatinya." Ucap Emily menyesal.
Dion mendengar ucapan Emily, dan seketika mengerti, Bos nya hanya tidak ingin terlihat lemah dan ingin terlihat sempurna di mata wanitanya.
"Emily! Tutup mulutmu! Biarkan saja dia, beraninya sudah membentakku!" Axel menatap tajam pada Dion.
"Ya! Aku membentakmu! Kenapa?! Kamu akan memecatku! Jika kamu masih bersikap seperti ini, tidak perlu memecatku, aku akan mengundurkan diri! Dasar Pria tak punya hati, wanita mu sedang mengandung anakmu! Tapi apa? Kamu tidak percaya diri, kamu merasa tidak sempurna! Begitu! Dasar Pria egois!! Paling egois sedunia!" Dion masih membentaknya.
"Baiklah! Kalau begitu jangan kembali! Nyonya Kasya tidak membutuhkan lelaki yang egois sepertimu! Lelaki yang tidak benar-benar mencintainya! Lelaki yang pengecut! Biarkan Nyonya Kasya mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu, dia sangat cantik dan wanita yang luar biasa , lelaki manapun pasti ingin mendapatkannya!" Ucap Dion panjang lebar, lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Akan banyak lelaki yang mencintainya, termasuk aku! Batin Dion.
__ADS_1