
Para Squad sedang sarapan bersama di dalam kamar Raka, mereka masih mendiskusikan tentang Kasya dan Axel.
Semalam tubuh Raka babak belur, karena diserang Denis. Sedangkan Nata tidak berani, karena bagaimanapun Raka adalah kakak iparnya.
Sedangkan Andi, sebenarnya setelah mendengar perkataan dari Axel tentang para pengawalnya, dia sedikit mencurigai sesuatu tentang Axel dan membenarkan kecurigaan Raka.
Pagi ini saat bangun, tubuh Raka terasa hancur. "Kak Denis benar-benar ingin membunuhku, aku kan juga hanya ingin mengetesnya." Raka cemberut sambil mengelus-ngelus pinggangnya.
"Raka, terkadang mulutmu selalu berlebihan. Aku lihat dengan kedua mataku sendiri, Axel adalah pria baik." Ucap Denis.
"Kak Denis tidak tau, saat aku pertama kali bertemu dengannya dan menantangnya. Seketika Aura dia menyeramkan, aku dapat merasakannya." Raka berdecak kesal dan membela dirinya sendiri.
"Sebenarnya aku juga merasakan ada sesuatu yang disembunyikan olehnya, tapi aku menghargai Kasya yang berada disana, jadi aku kemarin hanya menganggukkan kepalaku." Andi angkat bicara.
"Dan kenapa aku berpikir begitu, kalian tau aku bertahun-tahun sudah terjun dalam bahaya dan mengintai musuh. Jadi aku tau, ada yang disembunyikan Axel dari kita semua, termasuk dari Kasya." Mata Andi terlihat menajam, dia berpikir keras semalaman tapi belum mendapatkan jawabannya.
"Benarkan, nah lihat! Apa aku akan berbicara omong kosong, sekarang Kak Andi juga merasakannya. Hahaha... aku hebat bukan." Akhirnya Raka bangga pada dirinya sendiri dan tertawa.
Nata hanya menggelengkan kepalanya, melihat kakak iparnya yang tidak pernah berubah, masih seperti anak kecil.
Tiba-tiba Raka mempunyai ide, dia menatap ke arah Nata.
"Nata, menurutmu Axel tau tidak kamu pernah naksir Kasya?" Tanya Raka sambil tersenyum penuh teka-teki.
"Melihat tatapan tajamnya padaku, sepertinya dia tau. Kenapa?" Nata balik bertanya.
"Ah Bravo! Semuanya dengarkan, aku punya ide." Raka pun menceritakan rencananya pada mereka.
"Tidak! Kamu gila! Kamu kakak macam apa, yang membiarkan suami adiknya untuk merayu wanita lain!" Nata seketika marah.
"Hei, dengarkan aku dulu. Itu semua cuma pura-pura. Aku sedikit tau sifat Axel, dia tidak bisa menahan kecemburuannya. Aku pernah menantangnya, dan dia mengeluarkan kemarahannya. Bukankah itu sifat aslinya?" Raka masih mengeluarkan ide-ide nya.
"Lalu, kenapa tidak kamu lagi yang merayu Kasya dan membuat Axel cemburu?" Tanya Denis heran.
"Axel cemburu padaku, karena saat itu dia belum tau kalau aku hanya teman biasa Kasya. Aku pernah mencoba menjahilinya, agar dia berkata jujur saat mabuk. Eh, aku malah ikut mabuk, dia sangat kuat sekali minum. Aku menyerah." Raka bergidik saat mengingat adu minum dengan Axel.
__ADS_1
Nata, Denis dan Andi saling bertatapan. Mereka berpikir ide dari Raka.
"Tetap saja, aku takut sama istriku. Kamu seperti tidak tau adikmu saja kalau sudah marah." Nata menggelengkan kepalanya.
"Nanti aku yang akan berbicara padanya, kamu akan aman." Ucap Raka meyakinkan.
Akhirnya mereka sepakat dengan rencana mereka, karena sebentar lagi Axel menjanjikan akan membawa mereka berkeliling Macau.
***
Kasya sedang mengeluarkan semua kesabarannya, dia merasa Axel seperti Byan saat dia berumur 3 tahun, yang tidak mau berjauhan darinya.
Sebenarnya tadi pagi Rama meneleponnya, bahwa relasi bisnisnya yang di Macau meneleponnya ingin bertemu. Tapi Axel melarangnya, karena hari ini mereka sudah ada janji dengan para squad.
Kasya pun akhirnya membatalkan janji temu dengan relasi bisnisnya itu lagi, dan menjadwalkan waktu yang selanjutnya.
Sekarang dia menyesal, harusnya dia pergi saja. Bagaimana tidak menyesal? Axel menempel seperti gurita padanya, lelaki itu tak mau melepaskannya.
Dari bangun tidur, sarapan, bahkan saat dia ingin 'pup' Axel masih ingin mengikutinya, jika saja dia tidak mengancamnya dengan melepaskan cincin dari jarinya lelaki itu pasti akan masuk juga ke dalam toilet.
Dan sekarang Kasya baru saja ingin mandi, sekali lagi Axel menempel padanya. Kedua mata Axel seketika berbinar melihat Kasya mulai melepas bajunya.
Tapi Axel sekali lagi pura-pura tidak mendengarnya, dia sibuk menatap makanan segar di depan matanya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Axel, Lepaskan pelukanmu. Aku benar-benar gerah, ingin mandi!" Kasya sangat kesal.
"Ayo mandi bareng." Axel berkata sambil menciumi tengkuk Kasya.
"Axel, ingat umur kita. Jangan terlalu berlebihan, kasihan tubuh kita. Aku tau kamu begini karena terlalu lama sendiri, tapi kamu juga harus jaga tubuhmu. Jadi sekarang lepaskan tanganmu." Kasya melembutkan suaranya, karena biasanya Byan akan menurut padanya jika suaranya melembut.
Benar saja, Axel melepaskannya. Meskipun wajahnya merajuk, seperti seorang anak kecil yang mainan kesayangannya diambil.
Apa aku harus mempunyai bayi diumurku sekarang? Apalagi bayi besar! Batinnya menggerutu.
Lalu dia teringat sesuatu dan menatap Axel dengan tatapan gelisah. "Axel, aku baru ingat semalam kamu tidak memakai pengaman, benar bukan?" Kasya gugup.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Axel.
"Oh tidak! Aku tamat, aku tamat!"Kasya menatap perutnya.
Axel melihat arah tatapan Kasya, dia seketika mengerti. Dia tersenyum senang, karena meskipun umurnya sudah terbilang terlalu tua untuk punya anak, tapi dia sangat mengharapkan anaknya dengan Kasya.
"Aku sepertinya harus pergi ke Dokter, dan meminta pil pencegah kehamilan agar tidak hamil." Kasya akhirnya membuat keputusan.
Axel yang mendengarnya Kasya berbicara seperti itu langsung merencanakan sesuatu, karena sepertinya Kasya bertekad tidak ingin mempunyai anak. Karena dia sudah mempunyai ide, ia tersenyum mencurigakan.
Kasya tidak melihat senyuman mencurigakan dari Axel, dia masih dengan kegelisahannya.
"Sayang, tenanglah. Besok-besok lagi aku tidak akan lupa, jika perlu aku bahkan akan membeli perusahaan alat pengamannya. Oke." Axel memeluknya sayang, dan menciumnya.
Kasya melepas ciumannya, memutarkan bola matanya ke atas mendengarnya.
"Kamu arogan banget, tapi kamu gak bohong bukan, nanti beneran beli?" Kasya menatapnya tak percaya.
"Ya, jadi sekarang kamu mau mandi sendiri atau mau aku temani? Sebentar lagi sepertinya pasukanmu datang. Hiss!" Axel memanyunkan bibirnya karena mengingat mereka.
"Hei, kondisikan wajahmu. Mereka yang selama ini menjagaku, jadi hormati mereka." Kasya sedikit memarahinya.
"Oke, oke, dengarkan kamu sayang. Oh ya, kenapa kamu masih memanggilku Axel, sangat tak enak di dengar. Ganti." Keluhnya.
"Kamu mau dipanggil apa?" Tanya Kasya.
"Baby, suamiku, sayangku, gantengku, Cintaku, umm." Mulut Axel ditutup tangan Kasya.
"Cukup! Otak kamu itu ya. Sudahlah, aku mau mandi." Kasya melepaskan diri dari pelukan Axel dan berjalan menuju bathroom.
"Oh ya sayang, aku lupa bertanya." Perkataan Axel menghentikan langkah Kasya, dia berbalik kembali ke arah Axel.
"Apa lagi?" Kasya menahan kesabarannya.
"Saat kamu pernah mengerjaiku, kamu bilang 'bendaku kecil'. Jadi Nyonya Kasya Indira, setelah melihat dan merasakannya langsung, apakah masih terasa kecil?"Axel mengerlingkan matanya nakal, sambil bibirnya menahan senyum.
__ADS_1
Seketika wajah Kasya merona merah karena malu. "Kamu! Huh!" Kasya segera kabur, tapi masih terdengar suara Axel di belakang yang masih terus meledeknya.
"Karena mendengar kamu menjerit kesenangan semalam, sepertinya 'benda kecil' milikku sangat memuaskannmu! Hahaha..." Axel benar-benar tertawa dengan sangat puas sampai perutnya sakit.