
Kasya segera membungkus tubuhnya dengan handuk yang diberikan lelaki di depannya, ia mengenali pria itu adalah si pria pemaki. Dengan tatatapan tajam Kasya melotot pada lelaki itu.
"Keluar!" bentak Kasya
Axel menuruti perkataan Kasya, dia mengerti jika Kasya sedang merasa malu dan juga pasti merasa canggung.
"Aku akan menjelaskan semuanya, jadi aku akan menunggumu di ruang tamu." Setelah mengatakannya Axel pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.
Wajah Kasya sudah memerah, ia segera bangkit berdiri dan segera memakai jubah mandinya lalu ia keluar menuju kamar tidur.
Kasya dengan cepat mengambil pakaiannya dari dalam koper dan segera memakainya, dia juga sengaja memakai pakaian yang serba tertutup.
"Kenapa dia ada di kamar hotelku? Lagian kenapa kami selalu bertemu sih? Huh!" Gerutunya sambil memakai baju.
Setelah selesai Kasya segera keluar dari kamar tidur, dia berjalan mendekati lelaki itu dengan tatapan seperti ingin mencakar wajah pria itu.
Saat Axel melihat tatapan mata Kasya, dia merasa merinding padahal ia adalah seorang Bos dunia hitam - putih. Baru kali ini dia merasakan ketidaknyamanan di dalam hatinya, sampai dia duduk tapi tak bisa diam karena sangat gugup.
Kalau semua bawahan ku tau, aku takut oleh seorang wanita. Mau ditaruh dimana wajahku, sial! Gerutu Axel dalam hati.
Kasya langsung duduk berhadapan dengan Axel, masih tetap dengan tatapannya yang tajam sangat menusuk.
"Oke, apa yang ingin kamu jelaskan?" Kasya sedikit meninggikan volume suaranya.
Ketika wanita di hadapannya berbicara, tatapan Axel malah mengarah ke arah bibir Kasya yang ranum. Seketika ingatannya kembali saat tadi dia memberikan pernafasan buatan untuk Kasya di kamar mandi.
Setelah dua puluh satu tahun dia menjadi pertapa, akhirnya dia bisa merasakan sedikit daging kenyal. Bahkan daging yang sangat segar, Axel pun menelan salivanya.
"A-nu apakah ada air?" Tenggorokan nya seketika kembali kehausan, ternyata itu terjadi jika dia berada dekat - dekat dengan Kasya, sama seperti ketika dia berada di Rumah sakit.
"Ada banyak, tuh di kamar mandi!" Kasya menjawab ketus.
"Hish! Judes amat, tapi itu yang aku suka dari kamu." Axel memulai gombalannya, tapi dia sendiri juga terkejut ternyata dia bisa juga ngegombal.
"Are you crazy?! Otakmu ada yang salah? Hey, kita bahkan belum kenal! Main ngomong suka - suka aja!" Kasya menatapnya seolah-olah Axel memang gila.
"Wow, ternyata selain kamu adalah wanita berduri yang mempesona, ternyata kamu juga wanita yang luar biasa pintar. Ya, aku memang gila. Aku sudah tergila - gila padamu, wanita berduri - ku." Jawab Axel sambil tersenyum mengeluarkan semua pesonanya.
"Apa?! Jadi, kamu?" Kasya terkejut.
"Kamu si penguntit itu? Orang yang setiap hari selalu mengirim bunga dan juga kartu. Huh! Ya ampun, aku yakin saat kamu sekolah, kamu gak pernah dapet titel ya. Jadi sekarang kamu ngeborong semuanya! Aku sebutin titel kamu satu-satu ya, si tukang pemaki, si penguntit, si pria gak tau malu, si tukang nyelonong masuk, si pria terburuk!" Kata makian Kasya untuk Axel masih sama, tapi tetap sama Axel hanya tersenyum mendengarnya.
"Dasar laki - laki gila, aku maki - maki malah tersenyum. Sudah cepetan ngomong yang tadi tertunda dan juga jelaskan arti dari bunga - bunga itu!" Kasya akhirnya merasa capek sendiri.
__ADS_1
" Jadi, gini..." Axel kemudian menjelaskan dari saat dia salah masuk kamar, yang memang itu adalah rencana dari asistennya tanpa dia tau, sampai dia yang hanya membantu Kasya saat tenggelam di bathtub.
"Ekhem, jadi gitu." Kasya merasa tak enak sudah memaki penolongnya, coba kalau lelaki itu tidak datang ke kamarnya, mungkin di dunia ini sekarang hanya tinggal nama dia.
"Baiklah, aku minta maaf dan juga terima kasih atas pertolonganmu tadi. Lalu arti bunga-bunga itu?" Kasya mengelus - ngelus hidungnya karena gugup, itu adalah kebiasaannya yang tidak bisa dihilangkan jika dia sedang merasa nervous.
Axel sudah menonton video - video Kasya di internet, misalnya video Kasya yang sedang konferensi pers. Ia jadi tau jika sekarang Kasya sedang merasa gugup. Dia tersenyum, tak ingin menghilangkan kesempatan.
"Apa kamu tidak pernah menerima bunga atau kartu cinta?" Axel bertanya karena memang sedikit penasaran tentang masa muda Kasya.
"Aku gak mau jawab, jadi langsung saja." Kasya berkata sambil matanya melirik ke arah lain.
"Katamu kita bahkan belum berkenalan, jadi perkenalkan namaku Axel. Aku sudah tau namamu, Kasya Indira. Kasya, namamu sangat enak untuk diucapkan dan juga secantik wajahmu." Gombal Axel kembali, kalau Dion mendengarnya sepertinya asitennya itu tidak akan percaya kalau Bos - nya sedang menggombali wanita.
Blush! Wajah Kasya memerah malu.
Ya ampun Kasya, apa kamu juga ikutan gila. Masa hanya cuma kata-kata gombalan seperti itu, kamu merasa malu! Aish. Gerutunya dalam hati.
"Lalu tentang arti bunga - bunga itu, aku adalah orang yang sangat to the point dan tidak suka bertele - tele. Jadi, jujur saja bunga itu tanda dariku jika aku sangat menyukaimu." Axel berkata dengan wajah paling serius.
Kali ini wajah Kasya semakin memerah, padahal banyak lelaki yang menyatakan rasa sukanya tapi entah kenapa sekarang jantungnya berdebar kencang.
"Ekhem... I-tu... aku." Kasya kebingungan menjawab.
"Kasya, bolehkan aku memanggil hanya dengan namamu itu?" Tanyanya.
"Kasya, aku sudah tau semua masa lalumu. Masa laluku hampir sama seperti kamu, pernah gagal dalam pernikahan karena pengkhianatan. Jadi aku paham dan paling mengerti rasa sakit dan juga penderitaan mu." Axel menatap Kasya dengan tatapan paling lembut.
"Kasya, aku sudah berada dalam usia dimana jika menjalin hubungan bukan untuk bermain - main lagi. Apalagi dengan semua masa laluku, aku tidak akan pernah menyakiti seorang wanita." Axel mengatakannya dengan penuh ketegasan.
"Jadi, beri aku kesempatan untuk bisa mengambil hatimu dan juga agar kamu bisa mengenaliku lebih jauh. Jadi, bolehkah mulai sekarang aku mendekatimu?" Tanya Axel penuh harap.
Kasya menatap Axel dengan penuh pertimbangan, sebenarnya luka hatinya memang sudah sembuh sejak lama. Bahkan 'kebahagian' akan kesendiriannya selama ini, sekarang terasa olehnya ada suatu kekosongan dalam hatinya.
Dan jujur saja, saat menerima bunga dan kartu ucapan itu hatinya memang tergerak. Apalagi sekarang dia juga mendengar kehidupan Axel yang pernah disakiti sama dengannya.
Bukankah jika pernah merasakan rasa sakit karena pengkhianatan, lelaki ini akan lebih menghargai wanita?
"Hem, baiklah. Aku akan mencoba membuka diri atas pendekatan mu, untuk ucapan terima kasih karena sudah menolongku, ayo kita makan siang besok." Kasya berbicara dengan tulus.
Seketika mata Axel berbinar karena senang, dia pun tersenyum sangat lebar.
Kamu dengar itu Dion! Baiklah, meskipun kamu mengerjaiku lagi, tapi karena rencananya berhasil maka aku akan memaafkanmu! Axel berkata sangat senang dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah, besok jam 11 siang. Aku akan menjemputmu, kita makan di Restoran di hotel ini saja. Bagaimana?" Axel memberi saran.
"Boleh, ok kalau begitu. Sampai jumpa besok." Kasya seketika berdiri untuk mengakhiri pembicaraan mereka berdua.
"Oke." Axel pun ikut berdiri, dia juga mengerti Kasya ingin dia pergi dari kamarnya.
Axel melangkahkan kakinya menuju keluar, dan saat dia membuka pintu ternyata sekarang pintunya tidak terkunci.
Ia membuka pintu, kumudian Axel segera berjalan keluar kamar. Tapi dia membalikkan badannya kembali menghadap Kasya, karena dia tiba - tiba mengingat sesuatu.
"Kasya, kamu belum bilang kenapa kamu bisa tenggelam di bathtub?" Terdengar kecemasan dari suaranya.
"Oh, aku tidak apa - apa hanya sakit kepala. Sudah dua hari ini begini, tapi sekarang aku akan segera minum obat." Kasya menjawabnya.
"Kamu bilang tidak apa - apa, tapi hampir tenggelam. Tidak bisa! Aku harus memanggil Dokter untuk memeriksamu." Ucap Axel sedikit memaksa karena cemas.
Kasya ingin mengatakan sesuatu tapi Axel keburu berbicara pada seseorang. Dia berjalan mendekati Axel diluar kamar.
"Dion kemari! Aku tau kamu ada di dekat sini." Panggil Axel.
Tentu saja Dion memang ada disana, bahkan bukan hanya ada dia tapi juga Rama.
Mereka berdua keluar dari tempat persembunyian dengan cengengesan.
"Bos memanggilku? Hehe..." Dion masih saja cengengesan.
Axel hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan asistennya itu. Tapi bagaimanapun juga, dia akui jika Dion hanya ingin dirinya lebih berani kepada Kasya.
"Jemput Dokter pribadiku, bilang padanya keadaanku sedang kritis. Cepat!"
"Tapi Bos sangat bugar? Apa gejala alergi Bos kambuh?" tanya Dion cemas.
"Bukan aku, tapi Kasya! Cepat! Jangan banyak tanya!"
"Siap! Bos." Dion pergi dengan setengah berlari.
Tinggal Rama yang masih berdiri tegak seperti murid sekolah yang kepergok melakukan kesalahan, dia menatap memohon kepada Axel untuk menolongnya dari amukan Presdirnya.
Axel pun mengerti, karena ini salahnya juga. Tapi sepertinya sekarang bukan bagiannya, dia juga takut kalau Kasya belum apa - apa sudah ilfeel padanya karena ikut campur.
"Rama! Kamu juga ikut rencana ini?" Tatapan tak percaya Kasya tertuju pada Rama.
"Itu, Bu Bos. Tuan muda Byan yang menyuruhku. Aku hanya seseorang yang tak berdosa, yang hanya ikut dijerat oleh konspirasi tingkat dewa." Suara Rama terdengar memelas.
__ADS_1
"Apa?! Byan juga, j-jadi kalian semua yang? Ya, ampun." Kasya menepuk jidatnya sendiri, benar - benar tak mempercayainya.
Axel tak bisa menahan tawanya, sedangkan Rama tak berani tertawa dan hanya bisa menelan tawanya ketika Kasya masih melotot marah padanya.