
Esoknya Mayleen kembali ceria, seperti biasa ia akan menyiapkan pakaian kemeja jas serta dasi untuk Dion pergi ke kantor. Ia menggedor pintu kamar Dion, pintu itu ternyata terbuka tak terkunci.
Mayleen melangkah masuk ke dalam kamar Dion, ia melihat Dion sudah tak ada di ranjangnya. Ia mendengar suara alir mengalir, "Dia masih mandi," gumamnya.
Mayleen berjalan ke arah lemari tapi seketika langkahnya terhenti, Amora sedang berdiri disana tangannya sedang memilih kemeja Dion di dalam gantungan lemari. "Sedang apa kau?"
Wajah wanita itu berbalik ke arahnya dan menghentikan kegiatannya, "S-saya sedang menyiapkan pakaian untuk Tuan Dion."
"Siapa yang menyuruhmu? Keluar!" bentak Mayleen.
"Kau yang keluar, aku yang menyuruhnya menyiapkan pakaian ku mulai sekarang." Ujar Dion berjalan keluar dari kamar mandi.
"Dion..." Mayleen menatap Dion tak mengerti.
"Apa kau tidak dengar? Keluar!" Dion membentak Mayleen kembali.
Dengan perasaan sakit hati Mayleen pergi keluar dari kamar Dion, diluar kamar ia menonjok dinding sampai tangannya memar.
__ADS_1
Smith menatap Mayleen yang sedang marah, ia mengambil salep dari kotak obat lalu menghampiri wanita itu dan mulai mengolesi tangan memarnya.
"Aku tau selama ini kau sudah berusaha mengambil hati Tuan Dion, aku juga tau jika Tuan Dion belum bisa membuka hatinya untukmu dan melupakan Nyonya Kasya. Aku juga tau sekarang kenapa Tuan Dion tidak ingin diurus olehmu lagi, karena dia tidak ingin terus memberi harapan padamu. Dia ingin kau menyerah, Mayleen. Jangan sakiti dirimu seperti ini," ucap Smith.
"Aku tau, aku hanya tidak bisa mengendalikan tubuhku saat aku kesal. Sudah, aku tidak apa - apa." Mayleen menarik tangannya yang sedang diolesi salep.
Tak lama Amora keluar, Diikuti Dion setelahnya. Mereka semua sarapan dalam diam, hanya sesekali terdengar obrolan Amora dan putranya.
"Apa anakmu belum sekolah?" Akhirnya Dion membuka mulutnya bertanya pada Amora.
"Belum, mungkin tahun depan jika ada biaya nya." Jawab Amora.
"Cih!" umpat Mayleen.
Amora menatap Mayleen yang sedang menggerutu.
"Apa?!" bentak Mayleen pada wanita itu.
__ADS_1
Mayleen bangun dari kursinya, berjalan keluar untuk pergi bekerja bersama Dion.
Suasana meeting di ruangan rapat sangat suram, Mayleen yang biasanya ceria di setiap waktu hari ini wanita itu hanya terdiam dengan wajah galaknya. Dion masih bersikap seperti biasa, tapi ia juga merasakan perubahan dari wanita yang sedang merajuk itu.
"Oke, kita akhiri pertemuan hari ini!" ucap Dion.
Mayleen dengan cepat berdiri, tanpa sepatah kata pun ia meninggalkan ruangan rapat lebih dulu. Semua orang saling menatap ke arah atasan mereka lalu menatap ke arah punggung Mayleen asisten atasan mereka yang biasanya akur.
"Mayleen ke ruanganku, bawa laporan rapat tadi!" Perintah Dion dari interkom meja kantornya.
Mayleen tidak menggubris perintah Dion, ia menyuruh sekertaris Dion membawanya masuk.
Kening Dion berkerut saat melihat bukan wanita itu yang masuk dan malah sekertarisnya. "Dimana Mayleen?"
"Dia barusan pergi, Bos. Katanya ada kepentingan pribadi yang harus dia lakukan."
"Ok, pergilah." Mata Dion seketika muram, ia tidak tau harus bersikap bagaimana lagi pada wanita yang selalu mengejarnya itu.
__ADS_1
***
Mayleen mengunyah permen karetnya, sesekali meniup permen karet dimulutnya membuat gelembung balon. Matanya melirik ke arah meja yang terhalang 3 meja di depannya. Ia memakai wig palsu dan kacamata min tebal. Dia mengganti pakaian kantornya dengan pakaian kasual kaos dan celana denim. Dia sengaja menyamarkan wajah dan penampilannya, dia mendapat chat dari Tuan Axel jika Amora wanita itu akan bertemu seseorang. Agen Tuan Axel yang berada di Negara ini, sudah berhasil mendapatkan identitas wanita itu.