
Tatapan mata Dion tertuju ke arah pakaian robek wanita yang sedang disiksa, ia menatap para pria disana yang ditemani beberapa wanita cantik.
Salah satu lelaki menghampirinya, ia menyipitkan matanya merasa mengenal lelaki yang sedang berjalan ke arahnya.
"Wah! Wah! Lihat anak - anak, siapa yang ada disini?" ucap lelaki itu, ucapannya tertuju pada anak buahnya.
"Apa kabar, Bos Fred?" Dion menunduk memberi hormat.
"Hm, sudah lama aku tak melihatmu. Dimana Bos besarmu, apa dia tau sebelah tanganku di amputasi gara - gara dia?" Fred menepuk pundak Dion.
"Bos Axel juga sama seperti Anda, dia mengalami kecelakaan yang membuat kedua kakinya cedera. Baru beberapa minggu lalu di sembuh, jadi bisakah Bos Fred melupakan kejadian dulu." Dion masih melembutkan suaranya.
"Menurutmu aku akan melupakan perbuatan kalian?" tanya Fred.
"Bagaimana pun dulu Anda berusaha menipu kami, tapi karena dari pihak kita masing - masing tidak ada yang mau mengalah akhirnya Anda mengalami cedera tapi dari pihak kami pun kami mengalami kerugian yang sangat besar."
Fred menatap Dion, ia tiba - tiba tertawa keras. " Hahaha... ternyata kau masih menjadi anjing setia Axel! Baiklah, apa kita bisa melakukan bisnis sekarang untuk perdamaian?"
__ADS_1
"Tentu, jika Bos Fred ingin kita bekerja sama sebaiknya kita bisa mengobrol dengan tenang. Jadi, bisakah wanita itu Anda lepaskan Bos?" Dion melirik ke arah wanita yang rambutnya bahkan sudah kusut menutupi wajahnya.
Fred melirik ke arah si wanita, ia tersenyum penuh arti. "Droff! Lepaskan wanita itu, jangan siksa lagi!"
Lelaki yang dipanggil Droff segera melepaskan tangannya dari rambut wanita yang tengah disiksanya.
"Baiklah, ini adalah kartu namaku. Kebetulan aku mempunyai bisnis sendiri, jika Bos Fred berkenan datanglah ke kantorku. Kalau begitu aku pergi, permisi." Dion mengangguk memberi hormat kembali ke Bos Fred, ia berbalik untuk keluar.
Tiba - tiba kakinya dicekal seseorang, " Tolong, Tuan. Jangan tinggalkan saya disini, saya tidak ingin mati! Saya punya seorang anak Tuan, jika saya mati anak saya juga akan mati kelaparan di rumah! Tolong, Tuan.. tolong..." wanita yang disiksa tadi berlutut pada Dion, memohon untuk dibawa pergi.
Dion menatap Bos Fred, "Apa Anda bisa melepaskannya, Bos?" pintanya.
Dion menatap ke bawah ke arah wajah wanita yang terlihat sangat kasihan, ada darah mengucur dari keningnya bahkan bibir wanita itu sudah sobek. "Baiklah, Bos. Berapa harganya? Aku akan bayar kembali."
"Kau yakin? Dia bukan wanita bersih!" Bos Fred menaikan sebelah alisnya.
"Yakin, berapa?" tanya Dion kembali.
__ADS_1
"10 ribu dolar!" Jawab Bos Fred.
"Oke, sebentar." Dion mengeluarkan sebuah cek, ia menulis 50 ribu dolar. "Ini, Bos. Aku bayar 5x lipat."
Fred melihat selembar cek di tangan Dion, akhirnya ia mengambilnya, "Oke, ambilah!"
Dion membuka jaket hitam yang dipilihkan Mayleen untuknya, ia membungkus tubuh wanita di bawah kakinya lalu merangkul wanita itu membawanya keluar.
Setelah Dion keluar, Fred menyeringai senang. Ternyata Dion masih gampang dibohongi, dengan mudah lelaki bodoh itu ia jebak.
Dion membawa wanita yang dirangkulnya masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan. Ia membantu wanita itu duduk dengan hati - hati, lalu ia mengambil air putih di atas meja. "Minumlah dulu," tawarnya.
Wanita itu mengambil minuman dari tangan Dion, ia mengangguk berterimakasih lalu meminumnya.
Mayleen dan Smith masuk ke dalam ruangan masih dengan tertawa puas, tapi tiba - tiba tawa mereka terhenti melihat pemandangan di depan mereka.
Dion sedang membenarkan jaket yang ia pakaikan tadi di tubuh wanita yang terduduk lemah di sampingnya, jaket itu tadi akan terjatuh.
__ADS_1
"Dion!" Mayleen sontak berteriak.