
Abyan dengan secepatnya berlari mengejar keluar cafe tersebut, tapi sosok Marsya yang berlari kabur keluar sudah tak terlihat olehnya.
"Marsya! Marsya!" Teriaknya sambil berjalan mencari ke semua arah.
"Pergi kemana dia? Apa pulang ke apartemennya?" Byan bertanya - tanya sambil memikirkan kemungkinan yang ada.
"Sepertinya aku harus pergi ke sana." Byan segera membuka pintu mobil pamannya dan segera melajukan mobilnya pergi dari sana, bahkan melupakan Adelin yang masih ada di dalam cafe.
Saat Adelin keluar cafe untuk melihat keadaan mereka berdua, dia sudah tak melihat kakak sepupunya itu bahkan mobil ayahnya pun sudah tak ada.
Sammy juga ikut keluar, saat dia tak melihat keberadaan Marsya dan Byan wajahnya langsung terlihat kecewa.
Adelin melihat rasa kekecewaan dari raut wajah Sammy, dia pun bertanya tanpa ada maksud apa - apa.
"Kak Sammy, gapapa kan?" Tanya Adelin.
Sammy menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, dia menatap nanar ke atas langit malam yang hitam pekat tanpa ada bintang dan bulan, langit yang begitu terlihat sangat kesepian seperti dirinya saat ini.
"Kak?" Suara Adelin terdengar kembali.
Sammy akhirnya mengalihkan tatapannya ke wajah Adelin.
"Adelin, apakah kamu pernah menyukai seseorang?" Sammy menatapnya bertanya.
"Tentu saja, malah aku sedang menyukai seseorang sekarang." Balas Adelin masih dengan suara ceria.
"Hem, Adelin, apakah kamu tau? Aku sudah menyukai Marsya sejak aku menjadi pasiennya, sekarang aku bahkan sangat mencintainya." Sammy mengungkapkan isi hatinya.
Wajah Adelin yang awalnya sangat ceria, langsung berubah muram. Dia memang sudah menebak jika Sammy menyukai Marsya, tapi dia tak menyangka jika perasaan Sammy sudah begitu dalam.
Adelin dengan cepat menyembunyikan raut sedih dari wajahnya, dia berwajah dengan ceria kembali.
"Kak Sammy, apakah hati kakak sekarang sangat sakit melihat Kak Marsya dan Kak Byan?" Adelin bertanya dengan sangat perhatian.
"Menurutmu?" Sammy menjawab dengan suara yang sangat lirih.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu tidak bersedih lagi, ayo ikut aku. Kita naik mobil Kak Sammy, ya." Adelin menelan kesedihannya sendiri, dia bersikap ceria kembali, mereka berdua pun pergi dari cafe itu.
***
Marsya menggelung tubuhnya di atas sofa seperti kucing yang sedang tidur, dia memeluk dirinya sendiri dengan air matanya mengucur deras dari matanya.
Terdengar bel pintu apartemennya berbunyi, Marsya sudah menebak kalau itu adalah Byan. Dia tidak ingin membukanya, dia menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Marsya, sayang. Ayo kita bicara. Aku mohon padamu, beri aku kesempatan untuk bicara." Ucap Byan diluar pintu dengan sangat memelas.
"Sayang, aku mohon buka pintunya." Byan terus saja berusaha berbicara.
Marsya bangun dari atas sofa, ia pergi ke kamarnya lalu menutup pintu kamar. Benar saja suara Byan diluar pintu apartemennya tidak terdengar sampai ke kamarnya.
Wanita yang sedang menangis itu kembali membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia kembali menangis sampai akhirnya ia tertidur.
Sedangkan Abyan terus menerus berbicara di luar pintu, tapi tak ada tanggapan sama sekali dari Marsya. Ia akhirnya merasa lelah, tubuhnya terjatuh lemas di depan pintu unit apartemen Marsya.
Punggungnya bersender ke daun pintu, dia menekuk kedua kakinya lalu menenggelamkan kepalanya di atas kedua lututnya dengan tangannya melingkari kedua kakinya.
Sekitar tengah malam menjelang dini hari, Marsya membuka kedua matanya yang sudah membengkak karena terus menangis.
Tenggorokannya terasa kehausan, ia bangun dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke arah ruang tamu untuk mengambil air minum, saat dia berjalan matanya menatap ke arah pintu apartemen.
Hatinya tiba - tiba terasa gusar. "Tidak mungkin bukan, Byan masih diluar? Ah tentu saja tidak mungkin, apa dia gila berada diluar terus?!" Marsya menggelengkan kepalanya, setelah selesai minum dia mulai melangkah kakinya kembali ke arah kamar tidur.
Tapi saat baru melangkah beberapa langkah, kakinya terasa berat. Dia menatap kembali ke arah pintu apartemen, akhirnya dia melangkahkan kakinya ke sana.
Dia membuka kunci pintu apartemen, lalu membukanya. Ia seketika memekik terkejut, karena tubuh Byan terjatuh ke atas kakinya.
"Byan!" Marsya memekik kaget, gadis itu segera segera berjongkok lalu memangku kepala Abyan.
"He, Marsya. Kamu akhirnya membuka pintu juga. Kamu tau aku sangat kedinginan, ayo peluk aku dengan tubuhmu yang seksi itu karena aku butuh kehangatan." Byan yang terbaring lemas masih saja bisa mengerjai Marsya, lelaki itu malah nyengir dan memperlihatkan deretan gigi putih rapihnya.
"Dasar bodoh! Masih saja bicara konyol. Ayo angkat tubuhmu, kita masuk dulu." Marsya membantu Byan untuk berdiri.
__ADS_1
Setelah masuk Marsya membaringkan Byan di atas sofa, ia lalu sibuk menyiapkan air hangat untuk Byan. Marsya lalu berjalan ke kamar tidurnya dan mengambil selimut.
"Ini selimutnya, bungkus tubuhmu biar hangat. Dasar bodoh!" Marsya terus saja menggerutu.
"Cepat minum air hangatnya juga, setelah badanmu enakan, cepat pergi dari sini!" Sekarang Marsya menatap tajam pada Byan.
"Marsya, jangan terlalu kejam padaku. Kamu tidak lihat tubuhku sekarang lemah, kalau aku pingsan di luar sana gimana?" Ucap Byan masih dengan cengiran bodohnya.
Marsya tak menjawab ia hanya terdiam mengunci mulutnya.
"Marsya, boleh aku mengatakan sesuatu?" Byan tiba - tiba bersikap serius.
"Byan, aku tidak ingin mendengarnya!" Marsya masih berbicara ketus.
"Tapi, aku hanya ingin mengatakan sepertinya karena kamu terlalu banyak menangis, di mata bengkakmu itu ada banyak kotoran mata. Hmmpt!" Byan menahan tawanya.
Wajah Marsya langsung memerah karena malu, dia mendecak kesal lalu berlari untuk mencuci wajahnya ke kamar mandi.
"Dasar lelaki tidak peka, selalu saja seenak jidatnya kalau ngomong. Udah tau hal - hal kayak gini tuh, bisa buat wanita malu. Sifatnya masih saja seperti itu, Haish! Dasar lelaki bodoh! Bodoh!" Marsya ngedumel di kamar mandi, tanpa ia sadari Byan sudah mengikutinya ke kamar mandi.
Abyan tentu saja mendengar ocehan Marsya, ia tersenyum senang karena ternyata wanita di depan cermin itu masih Marsya yang sama dengan semua kebawelannya.
"Aku lelaki bodoh, aku juga gak peka. Tapi, kamu suka bukan?" Akhirnya Byan bicara sambil menahan tawa.
Dari cermin kamar mandi di depannya, Marsya melihat sosok Byan yang sedang bersender di pintu kamar mandi kamarnya dengan santai.
"Satu lagi, kamu lelaki yang tak pernah punya sopan santun. Selalu main nyelonong masuk ke kamar orang seenakmu!" Marsya menyindirnya.
"Tapi aku tau, kamu tetap mencintaiku." Melalui cermin, Byan menatap intens mata Marsya dengan tatapan matanya yang penuh dengan rasa cinta seperti di cafe tadi.
Degh!
Jantung Marsya berdetak dengan sangat cepat, hatinya seketika bergetar.
"Marsya, ayo kita bicara dengan serius kali ini." Byan menekankan kata - katanya, kali ini dengan wajah dia yang super serius.
__ADS_1
Marsya menghela nafasnya, Byan memang benar, sepertinya mereka berdua memang perlu berbicara.