Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 46


__ADS_3

Kasya terus saja bertanya pada Axel, tapi Axel tetap saja bungkam. Kasya yang sudah tak sabar segera menghubungi ponsel Byan, tapi tak tersambung. Hatinya semakin gelisah, dia pun segera menghubungi Raditya.


Tak berapa lama, panggilan tersambung.


"Halo Dit, dimana Byan? Aku ingin bicara dengannya." Kasya menggigit bibirnya, hatinya benar-benar khawatir.


"Kasya, i-itu. Byan, dia..." Terdengar suara gelisah Raditya dari ujung telepon.


Kasya seketika mengepalkan keduanya tangannya. "Raditya! Jawab yang benar!" Kasya berteriak.


Axel menatap Kasya dengan rasa bersalah, lalu terdengar suara pintu yang diketuk. Axel segera membuka pintunya karena dia tahu itu adalah Dion.


Dion masuk bersama dengan Yiyi, mereka bertiga duduk. Sedangkan Kasya masih bertelepon sambil berjalan mondar - mandir.


"Ibu, ini aku Marsya. Huhu... Bu, Byan hilang. Dia keluar dari apartemenku hanya untuk membuang sampah, tapi dia tidak kembali lagi. D-dia... sudah hilang hampir 2 jam. Aku datang ke rumah paman Raditya, tapi dia juga tidak ada disini. Huhu... Bu. Byan kemana? Ibu... Byan. Bu..." Terdengar tangisan Marsya yang sangat menyayat hati.


"Marsya, jaga dirimu. Ibu mengerti, ibu tutup teleponnya." Kasya lalu mematikan panggilannya.


Kasya berjalan mendekati Axel dengan wajah yang benar-benar menyeramkan, dia menatap tajam wajah Axel.


"Putraku benar - benar hilang, aku ingin jawabannya sekarang!" Kasya lalu duduk dengan tenang bersama mereka, menyimpan semua emosinya.


Dion dan Yiyi belum mengerti, mereka menatap bergantian pada wajah Axel lalu beralih ke wajah Kasya yang tenang, tapi ada suatu aura yang menyeramkan. Mereka berdua sadar, kedua majikan mereka sedang ada masalah.


"Dion, jelaskan tentang pekerjaanku disini pada Nyonya - mu." Axel menatap Dion dengan pasrah.


"Tapi Bos... i-itu." Kata Dion enggan.


"Dion! Jangan membantah, ini sudah keputusanku. Biarkan Kasya tahu semuanya, ceritakan semuanya, juga saat aku tak sengaja membunuh seseorang." Perintahnya.


Akhirnya Dion menceritakan semuanya, sampai kejadian saat kakak Black Rose terbunuh.


"Nyonya, Tuan Axel hanya tidak sengaja menembak pihak lawan. Tuan hanya ingin melindungi ayah angkatnya, tapi tuan juga masih tetap saja terlambat melindunginya. Tuan pun kehilangan ayah angkatnya dalam kejadian itu." Ucap Dion sedih.

__ADS_1


" Nyonya, pihak lawan lah yang lebih dulu mengambil kawasan kasino milik ayah angkat Tuan Axel dengan cara curang. Ayah angkat tuan hanya ingin mengambil kembali miliknya. Intinya Nyonya, dari pihak lawan lah yang lebih dulu memulai permusuhan, mereka terlalu rakus." Dion menghela nafasnya.


Apa ini?! Apa ini adalah kejadian yang sebenarnya? Kenapa cerita dari ayah sangat berbeda? Batin Black Rose bingung.


Kasya yang mendengarnya menghela nafasnya, dia tidak tahu tentang perasaannya saat ini.


"Lalu kenapa kalian berdua tak pernah menceritakannya padaku? Axel bukankah seharusnya kamu jujur padaku sejak awal?" Kasya menatapnya dingin.


"Kasya... aku sudah berniat memberitahukannya padamu. Tapi aku Hanya ingin mendapatkan hatimu lebih dulu, karena aku takut kamu tidak mau menerima ku saat tahu kebenarannya. Maafkan aku..." Axel berkata lirih.


"Axel, aku hanya ingin anakku kembali dengan selamat. Kamu juga tau dia sedang sakit parah, jika terjadi sesuatu padanya, jangankan memaafkan mu, bahkan aku tak ingin melihat wajahmu lagi!" Suara Kasya terdengar dingin.


Axel menatapnya tak berdaya, dia memang benar-benar sudah bersalah karena tidak mau jujur lebih awal.


"Dion! Segera siapkan semuanya. Kita berangkat ke Amerika, sekarang juga." Perintahnya.


"Baik! Bos." Dion segera pergi untuk mempersiapkan semuanya.


Kasya juga segera menelepon Denis, dia hanya berpikir lebih banyak bantuan maka akan lebih baik.


Tak berapa lama, para Squad datang. Kasya segera menceritakan situasinya.


"Dasar bajingan! Ternyata benar firasat ku, kamu bukan orang baik!" Raung Raka marah membentak Axel.


"Raka! Diam! Semua itu tidak penting sekarang. Kita harus memikirkan cara, agar Byan kembali selamat dengan aman." Tegur Denis.


Satu jam kemudian, Dion datang memberitahukan semua persiapan telah siap.


"Tuan Dion, bolehkah saya ikut? Mungkin saja saya bisa menenangkan Nyonya." Black Rose dengan sungguh - sungguh memintanya.


Dion mengangguk, akhirnya mereka semua berangkat ke Amerika dengan jet pribadi Axel.


***

__ADS_1


Semua orang sedang berkumpul di rumah Raditya, ruang tamu yang tadinya luas, tapi sekarang terasa sangat sempit. Jika dihitung ada 7 pria tinggi besar di ruangan tamu itu.


Raditya yang memang belum tahu hubungan Kasya dan Axel, masih terdiam tak mengerti. Dia memberi kode pada si tukang gosip Raka, Raka hanya membalasnya dengan mengangkat bahunya.


Raditya menghela nafas, ia hanya akan menjadi pendengar saja.


"Dion, apa kamu sudah melacak darimana teleponnya berasal?" Tanya Axel dengan wajahnya yang paling serius.


"Ya, Bos." Jawabnya.


Kemudian Dion menaruh sebuah iPad di meja, agar semua orang dapat melihatnya. Terlihat suatu titik koordinat berwarna merah menyala, disana lah keberadaan Byan.


"Axel, dia menyuruhmu datang sendiri. Jadi, bagaimana menurut mu?" Tanya Andi yang memang sudah ahli dalam strategi, tapi dia ingin mendengar dulu perkataan Axel.


"Aku ikut saja, aku tahu kamu lebih tahu masalah seperti ini." Axel menjawabnya.


Andi hanya mengangguk, dia pun segera memberitahukan rencananya.


"Tolong secepatnya kalian membawanya kembali, hari ini adalah jadwal putraku cuci darah. Jangan biarkan terjadi apa - apa pada putraku. Jika itu sampai terjadi, kalian tahu apa yang akan terjadi padaku kan! Aku tidak bisa hidup tanpa putraku." Kasya berkata dengan suaranya yang sudah bergetar, menahan tangisannya.


Sedangkan Marsya ada di dalam kamar, dia sudah lemas karena menangis terus menerus.


***


Setelah hampir belasan jam Byan disekap, dia belum diberi minum setetes air pun. Tenggorokannya terasa sangat kering, tubuhnya juga terasa sangat sakit.


"Apa ada orang diluar, bisakah memberiku mi... num..." Bibirnya terasa kering saat bicara.


"Aku mohon, sedikit saja...." Ucapnya lirih.


Byan berusaha menggerakkan tubuhnya yang terikat, tapi seketika dia menarik nafas karena kesakitan.


Wajahnya berubah menjadi pucat, dia merasakan kesakitan di bagian sebelah ginjal rusaknya berada.

__ADS_1


__ADS_2