
Mayleen memakai earphone kecil di telinganya, sebuah alat perekam sudah terpasang di bawah meja tempat Amora duduk dengan seorang lelaki yang berperawakan besar dan tinggi.
"Aku sudah tidak punya uang lagi, kau bahkan tega menjualku! Uang yang kau dapatkan dari Tuan Fred sangat banyak, kau tidak tau aku bahkan disiksa oleh pria jahat itu. Tapi sekarang kau meminta uang lagi padaku! Kau tidak ingat putri kita yang dijadikan sandera oleh Tuan Fred!" suara marah Amora terdengar di earphone yang dipakai Mayleen.
Sandera?
Sesekali Mayleen membenarkan kacamatanya min palsunya agar penyamarannya terlihat lebih meyakinkan.
"Bah! Masa bodo dengan kalian, aku hanya butuh uang! Berikan aku uang!"
Amora seketika menangis, wanita itu sesekali mengusap air matanya. "Tunggu, aku akan mencuri di rumah Tuan Dion. Kamu pergilah lihat putri kita, aku mohon."
"Aku tunggu sampai besok! Bawakan aku uang!" mantan suami Amora itu lalu pergi.
Mayleen melepas earphone-nya, menatap intens Amora yang terus menangis. Ia membuka ponselnya, mengirim chat ke Tuan Axel.
Dengan cepat Mayleen keluar dari sana mengikuti mantan suami Amora, sesekali berhenti berpura - pura memainkan ponselnya lalu melanjutkan mengikuti lelaki itu.
Lelaki itu hanya berjalan sekitar 5 menit, ada sebuah bangunan yang belum jadi di paling ujung. Sebelum masuk lelaki itu menengok ke kiri dan kanan, lalu masuk ke dalam.
__ADS_1
Mayleen menelisik bangunan itu, sepertinya ada 7 lantai. Ia akan aman disana karena banyak tempat untuk bersembunyi, ia membenarkan kacamata dan wig palsunya lalu berjalan pelan untuk masuk ke dalam bangunan itu.
***
Perasaan Dion gelisah, sudah hampir 3 jam Mayleen belum kembali ke kantor. Ia menelepon Smith di rumah tapi lelaki itu mengatakan Mayleen tidak ada disana.
"Kemana perempuan itu?" gumamnya, kepalanya bersender ke kepala kursi putar.
Baru saja ia bergumam wanita yang ia pikirkan membuka pintu masuk ke dalam ruangannya.
Dion seketika duduk dengan tegak, ia berpura - pura memeriksa dokumen yang sudah selesai ia periksa.
"Hm, ada apa? Sekertarisku bilang kau ada keperluan diluar, apa sudah selesai?" cueknya.
"Sudah, kau mau makan apa hari ini? Aku akan pulang cepat dan memasak untukmu," ucap Mayleen, ia menduga lelaki bodoh di depannya itu pasti akan menolak.
"Bagaimana jika kita makan udang atau makanan laut lainnya?" jawab Dion asal.
Mata Mayleen terbelalak, ia tak menyangka Dion akan menjawabnya. Bukankah lelaki ini tadi pagi membentaknya dan tak ingin dia mengurusnya lagi?
__ADS_1
Merasa tak mendapat jawaban dari wanita itu kepala Dion terangkat, "Kenapa kau malah bengong?"
"Ah, ok. Aku akan memasak seafood untukmu. Ini sudah jam 3, karena aku tidak sibuk aku akan pulang lebih dulu dan memasak."
"Ok, pergilah."
Mayleen mengangguk, ia berbalik berjalan keluar dari sana.
"Fiuhhh, kenapa tiba - tiba aku gugup berhadapan dengan perempuan itu?" Dion memijit kepalanya.
Mayleen membereskan meja kerjanya sambil tersenyum, dia tak menyangka Dion akan bersikap seperti biasa lagi padanya. Tapi kenapa?
"Terserah," ia mengedikkan bahunya tak perduli.
Seketika Mayleen mengingat kejadian tadi, ia masuk ke dalam bangunan itu mengikuti mantan suami Amora. Di salah satu ruangan banyak lelaki berwajah preman berkumpul disana, ia tak bisa masuk karena beberapa preman itu menjaga pintu dengan ketat. Ia akan beraksi nanti malam kembali ke ruangan itu dengan beberapa persiapan, tadi ia belum sempat membawa alat apapun.
"Setelah mengurus Amora malam ini dan memasak untuk Dion, aku akan memeriksa lagi kesana," gumamnya.
Setelah selesai membereskan barang - barangnya di kantor, Mayleen memesan taxi lalu akan segera pulang ke rumah setelah berbelanja terlebih dahulu.
__ADS_1