
Kasya sedang menunduk menangis, dia mengangkat kepalanya ketika mengenali suara orang berteriak yang sudah akrab di telinganya.
"Raka! Hei! Lepaskan dia." Kasya langsung melupakan kesedihannya, dia berdiri lalu menghampiri mereka berdua.
Raka yang mendengar perkataan Kasya, tidak langsung melepaskan cengkraman tangannya pada Axel.
Sedangkan Axel yang memang belum mengenal orang - orang di sekitar Kasya, hanya mengerenyitkan keningnya terlihat tidak senang.
Dia sebenarnya baru akan membalas pukulan orang yang berani memukulnya, tapi seketika mengurungkan niatnya karena melihat Kasya berjalan ke arahnya.
Bahkan para pengawalnya yang berada diluar pintu Restoran sudah bergerak maju, tapi Axel melarang dengan tatapannya. Dion yang memahami Bos nya itu, tentu saja langsung mengerti.
"Raka! Lepasin!" Kasya sekali lagi menyuruhnya sambil berusaha melepaskan cengkraman Raka dari Axel, terlihat mata Kasya melotot pada Raka.
Raka pun segera melepaskan cengkraman tangannya dari pria di depannya, dia sudah tau sifat Kasya jika galak padanya berarti ada alasannya.
Raka pun nyengir dan memeluk Kasya dengan pelukan ala temannya. "Ratu es - ku, sejak kapan kamu ada disini? Ah! Aku sangat merindukanmu." Ucap Raka masih sambil memeluk dan menepuk - nepuk punggung Kasya pelan.
Tiba - tiba atmosfir udara di dalam Restoran terasa turun beberapa derajat, Raka merasakan ada tatapan tajam menusuk kepala belakangnya.
Kasya tidak menyadari tatapan mata Axel yang sudah berubah merah, dia melepaskan pelukan Raka.
"Ish! Kamu gak pernah berubah, masih saja main peluk - peluk kalau ketemu. Aku sudah bilang, aku tidak suka! Dasar Raja dari segala buaya darat." Kasya mencubit lengan temannya itu.
Raka yang dicubit memekik dengan lebay seperti biasanya, "Aww! Ish! Kamu juga masih sama galaknya, lihat kulit tangan berhargaku memerah. Tanggung jawab!" Lalu Raka balas menyentil kening Kasya, mereka terlihat asyik dengan candaan mereka yang masih seperti anak kecil itu.
Dion yang paling menyadari kemarahan Bos - nya itu, dia langsung maju dan mendekati mereka bertiga.
"Maaf Nyonya Kasya, bukankah sebaiknya kalian mengobrol sambil duduk. Orang-orang masih menatap kearah sini." Dion berusaha menyelamatkan nyawa Raka.
"Ah ya, aku sampai lupa. Ayo kita duduk." Ajak Kasya pada Raka.
Tatapan mata Kasya beralih kepada Axel. "Axel, ayo." Kasya melembutkan suaranya.
__ADS_1
Kedua lelaki itu terperangah mendengarnya, Axel terperangah karena dia baru pertama kali itu mendengar suara lembut Kasya berbicara padanya.
Sedangkan Raka terperangah, karena baru kali ini Kasya berbicara lembut selain kepada orang - orang terdekatnya.
Jiwa bergosipnya tergelitik, dia akan segera menyelidiki semuanya dan menceritakannya kepada Andi dan Denis.
Sedangkan Kasya yang tidak tau isi pikiran dua lelaki itu, hanya melenggangkan kakinya dan segera duduk pada posisinya kembali.
Matanya menatap ke arah kedua lelaki yang masih terdiam bengong.
"Hei, ada apa dengan kalian? Ayo, aku akan memperkenalkan kalian berdua." Ucapnya.
Axel dan Raka pun berjalan menghampiri Kasya, saat Axel ingin duduk di kursi samping Kasya, Raka menyerobotnya dan dengan manis lebih dulu duduk bertengger disana. Tatapan mata Raka melirik tajam pada Axel, dengan satu alisnya naik seakan menantangnya.
Axel hanya mengepalkan kedua tangannya, dia benar - benar mengeluarkan semua kesabarannya.
Beraninya dia menantangku! Apa dia tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?! Apa dia cari mati?! Axel memarahi Raka dalam hatinya.
Sedangkan Raka yang adalah seorang playboy kelas kakap, langsung mengerti jika lelaki yang bernama Axel itu menyukai Kasya.
Heh! Memangnya semudah itu kau ingin mendapatkannya, Kasya berada di bawah lindungan kami. Coba saja lewati dulu ujian dari kami! Ucap Raka dalam hatinya dengan bertekad.
"Axel, ini adalah Raka. Dia adalah temanku." Kasya memperkenalkan mereka berdua.
"Raka, ini Axel. D-dia, hem." Kasya bingung menjelaskannya, karena Kasya sangat tau jika Raka paling suka bergosip.
"Dia siapa Kasya?" Raka sengaja mengoreknya.
"Ah, apakah dia korbanmu selanjutnya, yang akan patah hati? Ratu es - ku tersayaaaaang." Raka sengaja melembutkan suaranya, dia melirik ke arah Axel masih dengan wajah menantangnya.
Axel menggertakan giginya, kalau saja dia bisa, dia akan segera memakan pria kurang ajar itu hidup - hidup.
Sedangkan Kasya memang kurang peka, ia masih belum menyadari adu perang di mata kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu sepertinya salah tuan Raka, aku adalah lelaki satu - satunya yang akan segera mendapatkan hatinya, dan juga akan memilikinya seutuhnya." Axel menatap dengan lembut wajah Kasya.
Kasya merasa kedua pipinya menghangat, dia merasa malu karena Axel berkata seperti itu di depan Raka.
Raka melihat reaksi wajah Kasya yang memerah, dia sekali lagi terperangah.
Apa aku lagi bermimpi? Kenapa aku merasa Kasya juga menyukai lelaki ini? Hah! Berita besar! Berita besar! Aku akan segera menelepon Kak Denis dan Kak Andi!
"Benarkah? Tapi tuan Axel, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya bukan? Kenapa kamu sangat percaya diri sekali? Tapi yahhhh... terlepas dari semua itu, aku mengakui kepercayaan dirimu. Bravo! Bravo!" Raka lalu bertepuk tangan.
Mata semua orang di Restoran, kembali menatap mereka.
Ish! Dasar si tukang heboh, gak berubah dari dulu. Malu banget jadinya, orang - orang menatap kesini lagi. Kasya menggerutu dalam hatinya.
Axel melihat raut wajah Kasya yang berubah kesal, langsung mengerti Kasya sedang merasa tidak senang.
"Baiklah tuan Raka, kita cukupkan perbincangan tentang saya dan Kasya. Sekarang kita bahas tentang Anda, apa Anda sedang berbisnis disini?" Axel bertanya segera mengalihkan pembicaraan.
Raka akhirnya melirik ke arah wajah Kasya, dia pun mengerti kalau Kasya sedang merasa kesal.
Hebat juga nih orang! Bisa langsung mengerti kalau Kasya sedang tidak senang. Hem, lumayan juga. Dalam hatinya Raka mengakui, ketajaman Axel karena cepat tanggap pada Kasya.
"Ah itu, aku hanya suka berkeliling dunia. Bagiku dunia harus dinikmati, jangan hanya tau bekerja saja. Aku disini juga karena punya seorang kenalan, dia mempunyai Hotel, Restoran juga Kasino disini. Namanya Devil, apa tuan Axel mengenalnya?" Kata Raka.
Aku lah pemilik semua itu! Devil hanyalah pemilik palsu, haha! Axel merasa geli.
"Devil ya, tentu saja aku mengenalnya. Kami sesekali bertemu, kami juga seorang kenalan dan juga sedikit ada urusan satu dan dua hal lainnya." Ucap Axel sambil menatap Raka penuh arti.
Kenapa aku merasa, ini orang tidak seperti yang terlihat diluar, kenapa ada suatu aura menyeramkan darinya. Curiga Raka.
"Ah, jangan terlalu berpikir jauh. Aku hanya sekedar mengenalnya." Akhirnya Axel tak ingin membuat Raka curiga.
Dunia gelapnya memang berurusan dengan hal - hal kejam, dan yang pasti selalu ada adegan - adegan berdarah. Axel bukannya ingin menyembunyikan tentangnya dari Kasya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Sekarang saja dia masih belum bisa mendapatkan hati wanita yang sudah masuk ke dalam hatinya itu.
__ADS_1