
Abyan dan Marsya sedang duduk saling berhadapan, Byan akhirnya segera membuka mulutnya untuk berbicara lebih dulu.
"Marsya, kamu sudah tau tentang Davina bukan?" Byan memulai obrolan mereka berdua.
"Um, tentu saja. Beritanya sejak seminggu lalu sudah banyak bertebaran di internet." Jawab Marsya dengan biasa saja.
"Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku?" Byan memandang penuh dengan pertanyaan kepada Marsya.
"Byan, meskipun akhirnya kamu mengetahui kebusukan Davina, dan sekarang dia di penjara, tapi apakah semudah itu rasa sakit hatiku akan sembuh!" Ucap Marsya sedikit meninggikan nada suaranya.
"Marsya..." Byan menatap Marsya dengan beribu ucapan maaf di dalam matanya.
"Byan, aku tau kamu juga adalah korban. Tapi sebelum kejadian itu, bukankah kamu juga sudah menolakku? Setelah itu, aku berusaha melupakanmu tapi tetap saja tidak bisa. Sampai kejadian itu terjadi! Bukankah kamu masih tetap menganggap ku saudarimu?!" Marsya tak kuasa menahan amarahnya lagi, dia berteriak keras pada Byan.
"Marsya, waktu itu aku memang bodoh. Saat kamu menyatakan perasaan mu, sebenarnya aku juga sudah punya perasaan yang sama padamu. Tapi kamu juga tau, aku adalah lelaki yang selalu bertanggung jawab. Saat itu aku sudah punya Davina, aku sudah punya kekasih. Apa kamu ingin aku menjadi lelaki brengsek yang mempunyai 2 wanita?" Byan berbicara sambil berusaha mendekati Marsya dan mencoba memeluknya.
"Byan, kita belum selesai bicara. Menjauhlah." Marsya menajamkan suaranya.
Byan pun mengurungkan niatnya dan menggeserkan tubuhnya kembali ke tempat duduknya.
"Marsya, cobalah pahami posisiku saat itu. Dan apakah kamu tau? Saat kamu bermesraan dengan Sammy di Restoran, saat itu aku ingin sekali mencekiknya karena aku sangat cemburu." Byan melanjutkan kembali perkataannya.
"Aku benar - benar cemburu, bahkan saat itu aku berjanji dalam hatiku tak akan membiarkan lelaki lain mendapatkan mu. Saat itu aku semakin menyadari, kalau aku benar-benar mencintaimu. Tapi saat aku ingin mengungkapkannya, kamu juga tau apa yang terjadi selanjutnya. Aku salah mengenali wanita yang 'tidur' denganku dan berakhir bertengkar denganmu." Byan akhirnya selesai menjelaskan semuanya.
Marsya yang mendengar semuanya, juga sedang mencerna dan memahami perkataannya.
"Masalah aku yang tidak tau 'tidur' dengan siapa? Bukankah kamu harus memaafkanku soal itu, aku benar - benar tidak ingat. Mana aku tau kamu yang sudah aku tiduri." Byan berusaha membela dirinya sendiri.
"Marsya, begini saja. Karena saat itu aku tidak sadar saat menidurimu, jika dikatakan aku seperti memperkosamu. Jadi biar adil, bagaimanna kalau sekarang kamu yang memperkosku? Aku dengan sukarela akan memberikan tubuhku ini padamu, ayo kemarilah!" Ucap Byan dengan wajah yang sangat antusias, dia juga merentangkan kedua tangannya lebar - lebar.
"Abyan Pramuditaaaaaaaaa! Sejak kapan otakmu berubah menjadi otak mesum?!" Marsya tercengang mendengarnya.
"Sejak adik juniorku merasakan kenikmatan dunia, awww! Hahaha..." Byan menangkap bantal sofa yang dilempar Marsya sambil tertawa.
__ADS_1
Marsya dalam hatinya juga sebenarnya sudah mengerti, tapi dia hanya ingin Byan lebih menghargainya sekarang. Marsya ingin jika Byan memang mencintainya, biarkan lelaki itu memperjuangkannya lebih dulu.
Bukankah ini terlalu mudah untuknya mendapatkan cintaku?!
"Sudahlah, aku tidak mau mendengar ocehan mu lagi. Byan, dengarkan aku." Marsya menatap Byan dengan tatapan serius.
"Aku akan memaafkanmu, tapi untuk menerimamu, sepertinya aku masih membutuhkan waktu." Marsya menghela nafasnya kembali.
"Byan, satu kesalahan bisa merusak seribu kebaikan. Dan satu kesalahanmu sudah merusak semua rasaku padamu. Jadi jika kamu ingin aku menerimamu, mungkin aksi akan lebih berarti daripada kata - kata. Byan, kamu tau? Rasa peduli lebih menunjukkan cinta daripada hanya kata - kata 'aku mencintaimu'." Marsya mengakhiri kata - katanya dengan tegas.
Abyan langsung mengerti semua perkataan dari Marsya, apa yang dikatakan wanita itu memang semuanya benar. Sama dengan perkataan dari ibunya, jika cinta memang harus diperjuangkan.
"Baiklah Marsya, aku sudah mengerti. Kamu dulu sudah memperjuangkan ku, sekarang giliranku untuk memperjuangkanmu. Jadi kamu akan memberikan kesempatan untukku, bukan?" Byan menatapnya lembut.
"Ya." Marsya menjawabnya.
Sontak saja membuat lelaki itu segera berdiri dari duduknya dan memeluk Marsya dengan erat.
"Byannnnnnnnnnn! Lepasin, ish!" Marsya mencoba melepaskan diri dari lelaki itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Marsya heran.
"Aku akan mulai memperjuangkanmu, tentu saja aku harus dekat denganmu setiap waktu, aku akan menempel padamu seperti pranko. Hehe..." Cengir Byan tanpa rasa malu sedikit pun.
"Dasar tak tau malu! Dikasih hati malah minta jantung! Sudah mau pagi, cepat pulang sana. aku tau kamu pasti tinggal di rumah paman Raditya." Marsya berbicara sambil menarik tangan Byan, dia mengusirnya keluar.
Byan hanya bisa pasrah, dia berjalan keluar menuruti Marsya. Mulai sekarang dia akan lebih menghargai Marsya dan mencintainya melebihi cintanya pada hidupnya sendiri.
****
Macau.
Kasya sudah berada di dalam Restoran Hotel bersama Axel, meskipun tubuh Kasya masih sedikit lemas tapi baginya janji adalah janji dan harus ditepati.
__ADS_1
"Kasya, aku sudah bilang jangan memaksakan dirimu. Lihatlah wajahmu masih sedikit pucat." Axel terus menerus berbicara perhatian dari saat mereka tadi bertemu.
Kasya merasakan sedikit rasa nyaman akan perhatian tulusnya. "Axel, aku selalu menepati janjiku. Tubuhku sudah lumayan, jadi jangan khawatir lagi. Tapi, terima kasih atas perhatianmu." Kasya berkata dengan sama tulusnya.
"Kasya, lain kali jangan ada kata terima kasih diantara kita. Kamu sudah berjanji akan memberiku kesempatan untuk mendekatimu, jadi jangan merasa sungkan lagi padaku. Oke." Axel tersenyum memancarkan semua pesonanya, dan terlihat sangat tampan di mata Kasya.
"Ekhem." Kasya berdehem membersihkan tenggorokannya yang terasa gatal tanpa sebab.
"Aku lupa memberikanmu syarat." Kata Kasya, sekarang duduknya terlihat sangat gelisah.
"Syarat, tentu saja. Apapun syarat darimu, aku akan memenuhinya." Jawabnya.
"Hanya 1 syarat, aku harap kamu bisa memenuhinya. Jika saat kamu berhasil memenuhinya, maka saat itu seluruh hidupku bahkan nyawaku adalah milikmu." Ucap Kasya dengan wajah serius, tapi juga terlihat sangat kasihan.
Axel terkejut mendengar nada serius dari wanita cantik di depannya itu, apalagi Kasya terlihat sangat sedih. Dia tiba - tiba merasa kasihan.
"Ada apa Kasya? Baiklah, katakan saja." Axel pun berubah serius.
Tiba - tiba mata Kasya berkaca-kaca, dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.
Ya ampun Kasya, kenapa kamu menjadi cengeng di depan lelaki ini?
"Maaf, aku sedikit cengeng. Iya kan." Ucap Kasya sambil mengusap air mata yang akan keluar.
"Kasya, aku senang kamu seperti ini di depanku. Itu artinya kamu sudah mulai membuka hatimu untukku, jadi mulai saat ini jangan pernah kamu menyembunyikan kesedihanmu dariku." Axel tanpa sadar menggenggam sebelah tangan Kasya.
Hati Kasya sangat tersentuh, dia akhirnya tidak menahannya lagi. Air matanya pun mengalir deras di kedua pipinya.
"Hiks, aku hanya ingin kamu membantuku, mencarikan donor ginjal untuk anakku, hanya itu." Ucap Kasya dari sela isak tangisannya.
Axel ikut merasakan kesedihan Kasya, dia berdiri dari kursi duduknya dan ingin mencoba menenangkan wanita yang sedang menangis itu. Tapi saat dia baru saja berdiri, ada seseorang yang menarik tubuhnya dan memukul wajahnya dengan keras.
Bugh! Bugh! Bugh!.
__ADS_1
"Bajingan! Beraninya membuat Kasya menangis, kau minta aku bunuh!" Teriakan seorang lelaki menggema di dalam Restoran itu.
Mata semua pengunjung menatap ke arah mereka, semua orang sedang menunggu adegan selanjutnya.