
Kasya sudah masuk ke dalam ruangan bersalin dan sudah ditangani oleh Dokter. Diluar ruangan seketika tubuh Dion bergetar sangat hebat, dia tak bisa lagi menahan kesedihannya.
Dion terduduk lemas menyender pada dinding rumah sakit, kepalanya terkulai menunduk.
"Tuan Dion, tidak akan terjadi apa-apa pada Nyonya." Smith berjongkok di depannya.
Tapi Dion hanya terdiam, kepalanya tertunduk lemas. Air matanya berjatuhan, dia meremas kemeja yang dipakainya di bagian dada.
Lalu kepalan tangannya memukul-mukul dadanya. "Sakit... Smith... sakit... disini sakit..." Suaranya terdengar serak.
Smith juga mengerti, setelah dia melihat perhatian Dion yang berlebihan pada Nyonya mereka. Meskipun dia belum menikah dan mempunyai kekasih, tapi dia tau Dion sudah mencintai Nyonya mereka.
"Tuan, semua akan baik-baik saja". Smith tetap menenangkan Dion.
"Tuan, saya akan menghubungi Tuan Denis." Kata Smith, lalu berdiri dan mengambil ponselnya.
"Halo." Terdengar suara Denis di ujung telepon.
"Tuan Denis, ini saya Smith. Nyonya akan melahirkan, dia ada di rumah sakit yang sudah kita bersama rencanakan. Nyonya baru saja dibawa masuk ke dalam, sepertinya keadaannya sangat membahayakan." Ucap Smith.
"Smith aku mengerti, dimana Dion?" Tanya Denis.
"Tuan Dion, dia.... sebaiknya Tuan Denis kemari." Kata Smith lagi.
"Smith, aku sudah ada di rumah sakit. Kebetulan putriku juga sedang dalam proses melahirkan. Tapi, aku akan kesana melihat keadaan Nyonya mu." Kemudian telepon terputus.
Tak berapa lama Denis datang sendiri, dia tidak memberitahu istrinya atau Byan. Dia hanya tidak ingin menambah suasana semakin kalut, karena Marsya juga membutuhkan suami dan ibunya.
"Tuan Denis, anda sudah datang. Nyonya di dalam, dokter belum keluar untuk memberikan kabar." Ucap Smith.
Denis menganggukkan kepalanya, matanya mengarah ke arah Dion yang sedang terduduk lesu di lantai dengan kepalanya yang menunduk.
Denis memang sudah curiga akan perasaan Dion pada Kasya, dan sekarang sepertinya dugaannya benar. Dion mencintai Kasya, Denis menghela nafasnya merasa kasihan.
Denis masuk ke dalam, karena dia adalah pemilik rumah sakit, tentu saja dia di ijinkan masuk. Dia ingin melihat keadaan Kasya di dalam.
Selang tak berapa lama, dia keluar lagi dan menatap ke arah Dion.
"Dion, Kasya sudah akan melahirkan. Tapi kata Dokter karena usia Kasya yang terbilang rentan untuk melahirkan, dia bilang kemungkinan akan ada komplikasi. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan. Dokter meminta kita untuk berdoa, untuk keselamatan Kasya dan bayinya." Denis mengatakan semuanya dengan wajah sedihnya.
Dion masih terdiam duduk di lantai, dia hanya bergumam lirih. "Tidak akan terjadi apapun padanya,tidak... jika terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuh dokter itu."
Denis tak mendengarnya, dia sekali lagi hanya menatap Dion dengan pandangan kasihan.
Akhirnya 1 jam kemudian terdengar suara tangisan bayi yang sangat nyaring, Dion seketika berdiri, dia mendekati pintu ruangan melahirkan.
Sedangkan Denis semenjak 1 jam itu, dia bolak balik dan sekarang belum kembali lagi dari tempat ruangan bersalin Marsya.
__ADS_1
Sekarang diluar ruangan hanya ada Dion dan Smith. Lalu datanglah Raka, Nata, dan Andi. Mereka secepatnya mendekati Dion.
"Dion, bagaimana keadaannya?" Tanya Raka.
"Barusan tangisan bayinya sudah terdengar. Tapi belum ada yang keluar memberi kabar." Ucap Dion dengan nada kecemasan dan kepanikannya yang sangat jelas terdengar di telinga mereka.
Nata dan Raka saling melirik, mereka berkode dengan mata mereka.
Tiba-tiba dari arah dalam ruangan seorang perawat berlari dan ingin melewati mereka, tapi lengannya dicekal oleh Dion.
"Ada apa?" Dion mencengkram lengan perawat itu keras.
"Maaf Tuan, aku buru-buru. Sang Ibu mengalami pendarahan hebat, saya harus segera pergi mengambil kantong darah." Jawab sang perawat.
Dion segera melepaskannya dan perawat itu berlari kembali. Dia tak mampu menopang tubuhnya, seketika tubuhnya goyang. Nata dan Andi menahannya, dan membawanya duduk.
"Hei Dion! Tenanglah. Ada apa denganmu, biasanya kamu tidak selemah ini." Kata Raka.
"Sebentar, aku akan menelepon Denis dan biarkan dia memeriksa ke dalam dan mencari tau apa yang terjadi pada Kasya." Ucap Andi.
Tapi baru saja dia mengambil ponsel dari saku celananya, Denis datang.
"Aku baru saja akan menelepon mu. Sepertinya Kasya dalam keadaan bahaya, cepat masuk dan cari tau ada apa." Kata Andi.
"Ya aku akan segera masuk, Marsya juga sebentar lagi bayinya akan keluar, jadi aku tertunda di sana." Setelah mengatakannya, Denis segera masuk ke dalam.
"Kamu Smith, cari air minum. Dion terlihat sangat tegang." Perintah Andi.
Terlihat perawat yang keluar tadi, sudah kembali membawa beberapa kantong darah dan masuk.
Tak berapa lama, Denis pun keluar lagi, wajahnya benar-benar muram. Saat dia melihat ke arah keempat lelaki yang sedang menunggu, dia menggelengkan kepalanya.
"Pendarahannya sangat banyak, sesuai prediksi Dokter sebelumnya, ternyata benar Kasya mengalami komplikasi. Dia mengalami komplikasi Atonia Uteri, semua upaya sudah dilakukan tapi tak berhasil dia harus segera di Operasi." Ucap Denis.
"Kasya harus di operasi untuk mengikat pembuluh darah di rahimnya, jika itu masih belum bisa berhasil juga, penanganan terakhir untuk menyelamatkannya adalah pengangkatan rahim." Kata Denis sedih.
"Tapi syukurlah, anaknya selamat dan sehat. Bayi laki-laki." Denis mengatakannya tanpa tersenyum sedikit pun.
Yang lain pun tidak ada yang tersenyum, dan tak terlihat rona wajah bahagia dari mereka semua. Mereka sangat mengkhawatirkan Kasya.
"Dokter akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan Kasya. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa." Denis menghela nafasnya.
Matanya menatap ke arah Dion yang terlihat kasihan, akhirnya mata semua orang disana melihat ke arah tatapan Denis tertuju.
"Kak Denis, apakah benar dugaanku? Apakah Dion mencintai Kasya?" Raka yang tak sabar menahan rasa penasarannya, berbisik di telinga Denis.
Denis hanya diam tak menjawab, lalu berbalik dan memolototi Raka supaya mulut embernya itu diam.
__ADS_1
Raka seketika menutup mulutnya rapat.
***
Emily membuka pintu kamar inap Axel, lalu dia masuk ke dalamnya. Dia melihat Axel yang sedang menyender di kepala ranjang rumah sakit, sedang menatap iPad di tangannya dan sesekali tertawa ringan.
"Kamu masih terus saja menonton film Mr Bean?" Tanya Emily sambil mendekatinya.
Axel mengangkat kepalanya dan menarik tatapannya dari layar iPad, lalu menatap Emily.
"Aku kan sudah bilang, saat aku sembuh dan bertemu lagi dengan Kasya nanti. Saat itu aku akan menjadi pria paling terlucu di dunia, aku setiap waktu akan membuatnya tertawa bahagia." Ucap Axel dengan antusias.
"Ahh dan semua buku-buku dan Novel-novel tentang cinta di meja itu, sudah aku baca semuanya sampai tamat. Bahkan buku yang berisi tentang memuliakan dan cara mencintai seorang wanita pun sudah aku selesaikan. Saat aku kembali nanti, Kasya pasti akan bangga padaku, karena aku bukan Axel yang dulu." Axel tersenyum kembali, dia membayangkan wajah Kasya yang akan kaget saat dia setiap waktu akan memujinya.
"Emily, menurutmu aku sudah banyak berubah tidak? Maksudku, berubah lebih baik sebagai laki-laki?" Tanya Axel.
"Ya, sangat banyak berubah. Aku yakin, Kasya akan menjadi wanita paling bahagia nantinya." Jawab Emily.
Saat Emily melihat wajah Axel yang bahagia, dia merasa tak yakin akan mengatakan keadaan Kasya di Indonesia. Tapi bagaimana pun, dia tetap harus mengatakannya.
Emily menarik nafas pelan, lalu mengeluarkannya dengan perlahan pula.
"Axel... ada yang harus aku beritahukan padamu, ini tentang Kasya dan anakmu." Emily menggigit bibirnya.
Seketika wajah Axel berubah serius, dia menatap wajah Emily dengan wajah khawatir.
"Ada apa? Bukankah sekarang sudah waktunya melahirkan? Apakah anakku sudah lahir?" Axel tak sabar.
"Axel, anak buah yang aku taruh di Indonesia, sesuai permintaan mu untuk menjaga dan mencari kabar Kasya dari jauh. Mereka mengabarkan Kasya memang sudah melahirkan, dan anakmu laki-laki. Tapi..." Perkataan Emily terhenti.
"Ada apa Emily? Katakan, apa terjadi sesuatu pada Kasya dan Anakku?" Axel masih dengan kesabarannya.
"Axel, anakmu selamat dan sehat, bayi laki-laki. Tapi Kasya, dia mengalami pendarahan hebat dan belum tau akan selamat atau tidak. Kondisinya sangat membahayakan, dokter sedang berusaha menyelamatkannya." Emily menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak sayang, Kasya!"
"Aku harus pergi, aku akan menemuinya, aku harus kembali... sayang... tidak..."
Axel menyingkirkan selimutnya dan menurunkan kedua kaki cacatnya dari ranjang dengan tangannya.
Tapi karena dia terburu-buru, seluruh tubuhnya terjatuh ke lantai. Bahunya terbentur lantai, tapi dia tak merasa kesakitan.
Axel merayap di lantai, menggusur kedua kaki cacatnya. Dia berusaha merayap keluar kamar inap, masih sambil dengan meracau.
"Pulang! Aku akan pulang! Aku akan kembali sayang. Tunggu aku... aku mohon jangan tinggalkan aku, maafkan aku, aku mohon... bertahanlah sayang demi aku..." Suaranya terdengar sangat memilukan.
Emily melihat Axel seperti itu, akhirnya menangis. Semuanya karena ulahnya, dosanya benar-benar tak bisa diampuni.
__ADS_1
"Axel... aku mohon jangan begini. Tunggu kabar dari anak buahku lagi, percayalah. Kasya adalah wanita kuat, aku tau itu. Kamu tidak bisa pulang sekarang, pengobatan pun sudah 25% berhasil. Jangan menyia-nyiakan usaha mu selama ini, bahkan demi kesembuhan mu ini, kamu sudah meninggalkan Kasya." Ucap Emily.
"Untuk apa kesembuhan ku! Untuk apa jika wanita yang kucintai akan meninggalkanku. Jika terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan bisa hidup. Emily tolong aku, aku mohon padamu..."