
Emily menyuruh anak buahnya mengangkat tubuh Axel dari lantai, meskipun awalnya Axel memberontak, tapi karena dia tak berdaya akhirnya dia menurut.
Axel sudah duduk di ranjang inapnya kembali, ia mengusap air mata di wajahnya.
"Axel, aku akan memenuhi permintaan mu. Aku akan menyiapkan kepulangan mu, lalu setelah Kasya selamat, boleh aku tau kamu akan bagaimana?" Tanya Emily.
"Aku tidak tau dan tak ingin memikirkannya. Sekarang aku hanya ingin pulang dan melihatnya." Axel tetap teguh dengan keinginannya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Karena dekat, jika kita terbang dengan jet, paling akan memakan waktu 1 jam lebih di perjalanan. Anton akan membantu mu siap-siap, aku akan pergi menyiapkan untuk perjalanan kita." Setelah mengatakannya Emily pergi dari sana.
Setelah Emily keluar dari kamar inapnya, dia mengatakan sesuatu pada Anton. "Anton, ganti bajunya dan siapkan dia agar nyaman di perjalanan." Perintahnya.
***
Di dalam ruangan bersalin terdengar suara Marsya menjerit, dia sedang berusaha dengan sekuat tenaga melahirkan anaknya.
"Iya....dorong,.....dorong........tarik nafas.....dorong lagi....." Ucap Dokter kandungan.
Marsya mencengkram lengan Byan, dan Byan hanya bisa pasrah. Bahkan kulit kepalanya sudah sakit semua, karena rambutnya ditarik-tarik olehnya.
"Ayo sayang, semangat. Ada aku disini, ayo... kamu kuat." Byan terus menyemangati istrinya.
Akhirnya suara tangisan bayi terdengar, Byan segera menciumi wajah Marsya.
"Selamat, bayi laki-laki." Ucap sang Dokter.
"Terimakasih sayang, sudah membuatku menjadi seorang ayah. Kita akhirnya menjadi orang tua." Byan menangis terharu.
Marsya juga menangis terharu bahagia. Begitu juga Ranti, yang ikut menemani di dalam ruangan.
Byan bahkan tidak tau, di dalam ruangan lain ibunya sedang bertaruh nyawa.
Operasi Kasya sudah berlangsung selama beberapa jam, mereka yang sedang menunggu diluar sudah sangat cemas. Dengan kompaknya mereka semua terdiam, mengunci rapat mulut mereka, hingga membuat suasana yang tegang semakin tegang. Mungkin mereka semua sedang berdoa dalam hati mereka untuk keselamatan Kasya.
Dion bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah luar.
"Biarkan dia, dia membutuhkan udara segar." Ucap Andi yang melihatnya.
Raka dan Nata hanya diam memandangi kepergian Dion.
Dion berjalan melewati setiap lorong rumah sakit, dia sudah tak bisa menahan semuanya lagi, bahkan kakinya terasa tak menapak pada tanah lagi.
__ADS_1
Di dalam ruang operasi, kesibukan Dokter dan setiap perawat sama tegangnya. Bagaimana tidak, pasien yang sedang mereka operasi adalah besan dari pemilik rumah sakit mereka bekerja.
Tiba-tiba detak jantung Kasya melemah, Dokter segera memakai alat pacu jantung.
"1....2....3...."
"1....2.....3..."
"Bagaimana ini dokter, detak jantung pasien semakin menurun."
Dokter tidak menyerah, dia sekali lagi menekan defribrilator di dadanya. Tapi Jantung Kasya semakin menurun, dan akhirnya detak jantungnya di monitor bergaris lurus.
"Titttttttttttt................."
"Tidaaaaaaakk, selamatkan dia. Selamatkan istriku! Aku mohon..." Suara seorang pria yang tak lain adalah Axel terdengar memohon.
Axel yang sudah sampai di Indonesia segera datang ke rumah sakit, ia menelepon Denis. Ia ingin langsung menemui Kasya di ruangan operasi, karena hanya Denis yang bisa mengijinkannya.
Sekarang di sanalah Axel berada, di ruangan operasi Kasya, ditemani Denis. Lewat jalan samping ruang operasi bukan lewat jalan depan.
Axel menekan tombol kursi rodanya, di mendekati ranjang operasi Kasya. Wanita yang dicintainya dan disana wanita itu terbaring, terlihat olehnya Kasya sudah tak bernafas.
Axel bergerak panik di kursi rodanya, kedua tangannya menakup wajah Kaysa.
"Sayang, aku datang. ayo bernafaslah....kamu bisa... bernafaslah." Axel mengepalkan kedua tangannya lalu memukul dada Kasya di sebelah jantungnya.
Axel melakukannya terus menerus, dan tak menyerah. Akhirnya detak jantung Kasya kembali. Di monitor, detak jantungnya terlihat bergelombang kembali.
Denis segera menarik kursi roda Axel mundur dari ranjang operasi dan Dokter maju dengan sigapnya, memeriksa kembali Kasya.
Kasya ditangani kembali, akhirnya Kasya selamat. Dokter menyatakan operasinya telah berhasil, tanpa harus rahimnya diangkat.
"Axel, lihatlah. Apa aku bilang, Kasya adalah wanita kuat." Ucap Denis.
"Ya, wanitaku memang hebat. Dia selamat, dia selamat." Ucap Axel terharu bahagia.
"Denis bolehkah aku menemui anakku, sebelum aku pergi lagi." Axel menatap Denis.
"Axel, kita keluar dulu dari sini. Biarkan Dokter bekerja." Denis mendorong kursi rodanya menuju keluar.
Setelah mereka berdua diluar ruangan, Denis berbicara lebih dulu. "Jadi sekarang jelaskan semuanya padaku, apa yang terjadi padamu? Kemana saja selama ini? Dan kenapa sekarang setelah kembali kesini, kamu ingin pergi lagi?" Tanya Denis bernada tinggi, dia merasa marah untuk Kasya.
__ADS_1
Axel menceritakan semuanya pada Denis, alasan kenapa dia menghilang dan alasan kenapa dia harus pergi lagi sekarang.
"Denis, jangan katakan pada siapapun aku datang, bahkan pada Kasya. Aku sudah terlalu melangkahkan jauh, setelah sekarang Kasya selamat dan operasinya berhasil, aku yang sekarang harus melanjutkan perjuanganku untuk sembuh dan secepatnya kembali pada Kasya." Ucap Axel.
"Tapi Axel, tak bisakah kamu berobat disini." Denis tidak mengerti.
"Denis, aku bukan tipe laki-laki yang akan bergantung pada wanitaku, dan juga aku tidak ingin menjadi beban untuk Kasya. Aku Lelaki cacat, tidakkah kamu lihat. Pengobatanku sudah berhasil 25%, semoga kamu mengerti. Lagipula ada kalian yang menjaganya, juga ada Dion." Sambung Axel.
"Dion? Axel, tapi d-dia." Denis merasa bingung mengatakannya pada Axel, kalau Dion sudah mencintai Kasya.
"Dion kenapa?" Axel bertanya penasaran.
Denis menghela nafasnya. "Tidak apa-apa, baiklah jika itu sudah keputusanmu. Tapi kabari aku jika ada apa-apa padamu, dan biarlah aku menjadi pendosa, karena menyimpan rahasia keberadaanmu." Denis menggelengkan kepalanya pusing.
"Ayo, sekarang kamu temui anakmu." Kata Denis seraya mendorong kursi rodanya.
Tak lama sampailah mereka di ruangan khusus bayi lahir, Denis mendorong kursi roda Axel mendekati sebuah ranjang box bayi.
Terlihat wajah bayi laki-laki yang sangat menggemaskan, Axel mengangkat satu tangannya tapi terhenti di udara.
"Bolehkah aku menyentuhnya." Axel bertanya pada Denis.
Denis lalu mengangkat bayi itu dari box nya dan menaruhnya di pangkuan Axel dan membenarkan kedua tangan Axel supaya menggendongnya dengan benar.
Axel seketika menangis. "Hai sayang, anakku. Ini papa, papamu." Axel mencium dahinya sambil menangis.
"Papa datang, maaf papa terlambat. Tapi maaf juga, papa masih belum bisa menjagamu dan mama mu. Papa adalah orang yang tak berguna, papa bahkan tak bisa menggendongmu sambil berdiri." Ucap Axel pada anaknya masih sambil menangis.
Denis menepuk-nepuk pundak Axel.
"Denis, bolehkah aku minta sesuatu lagi padamu. Jika anak ini belum punya nama, aku ingin nama pemberianku bisa menjadi namanya. Terserah bagaimana cara kamu memintanya pada Kasya nanti." Pinta Axel.
Denis sekali lagi menarik nafas, bebannya kenapa semakin banyak.
"Baiklah, katakan namanya?"Tanya Denis.
"Dean Arkananta." Kata Axel.
"Ya, baiklah."
Setelah semuanya selesai, Denis mengantarkan Axel kepada Emily yang sudah menunggunya. Akhirnya Axel pergi dari rumah sakit dan meninggalkan Indonesia kembali.
__ADS_1