Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 19


__ADS_3

Foto - foto Davina yang sejak dulu bergonta-ganti pasangan dan yang lebih parahnya lagi, semuanya adalah 'om - om'. Davina adalah seorang wanita bayaran dan berhasil masuk ke dunia hiburan karena wanita itu 'tidur' dengan sutradara yang mempunyai istri hingga berhasil mengancam sang sutradara.


Byan meremas semua data dan foto di tangannya, untung saja dia hanya menyukainya bukan mencintainya. Untung juga pendirian sikapnya karena didikan ibunya tak pernah goyah berapa kali pun Davina merayunya. Dia memang menidurinya tapi itu karena ketidaksengajaan bukan?


Byan lalu melanjutkan membuka fail rekaman yang tersimpan di dalam iPad dan sekarang dia benar - benar shock. Tangan yang memegang iPad bergetar sampai akhirnya iPad - nya terlepas dari genggaman tangannya.


"Mah, a-aku dan Marsya. Jadi sebenarnya dia yang sudah Byan tiduri?" Suara Byan bergetar lalu ingatannya kembali ke waktu mereka bertengkar hebat, ia mengingat semua perkataan Marsya padanya.


"Mah, bagaimana ini? Aku sepertinya sudah melakukan kesalahan besar, aku sudah menyakiti Marsya." Ucap Byan menyesal, ia menatap ibunya.


"Mama tau, tapi itu bukan salahmu. Semuanya adalah salah wanita ****** itu! Sayang, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Davina dan Marsya?" Kasya bertanya karena sudah benar - benar penasaran dengan sikap putranya yang selalu bingung.


"Aku dulu memang menyukai Davina, tapi tak lama Byan baru menyadari kalau Byan sebenarnya sangat mencintai Marsya. Saat melihat Marsya dekat dengan lelaki lain, aku sangat marah. Tapi sekarang sepertinya semuanya sudah terlambat mah, kini Marsya sangat membenciku." Ucapnya sedih.

__ADS_1


"Aku bahkan menidurinya tapi tak mengingatnya, bahkan malah membentak Marsya dan tak percaya padanya. Aku malah membela Davina, aku juga sudah menolak cinta Marsya sampai selalu membuatnya menangis." Saat Byan mengatakannya terdengar nada penyesalannya yang teramat sangat.


"Jadi, Marsya juga mencintaimu? Tapi kamu menolaknya, begitu? Dengar sayang, setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, hanya tinggal bagaimana kita memperbaikinya. Masih belum terlambat, kamu bisa meminta maaf padanya." Baru saja Kasya selesai berbicara terdengar suara deringan telepon, itu adalah panggilan dari sahabatnya kembali. Tapi sebelum mengangkatnya, putranya menahan lengannya.


"Mah, Byan mohon jangan katakan pada siapapun kondisi Byan. Apalagi kepada Marsya, Byan tak ingin membebani siapapun. Pliss..." Byan memohon.


"Baiklah."


Kasya pun menekan tombol jawab.


"Sya, maaf aku baru memberitahumu. Marsya akan pergi ke Amerika dan tinggal sementara disana, pesawatnya sebentar lagi lepas landas. Apa kamu mau bertemu dulu dengannya?" Terdengar suara Ranti dari seberang telepon sedikit aneh.


"APA??!!" Kasya seketika terlonjak kaget.

__ADS_1


"Tunggu! Tunggu Ranti, aku akan pergi. Jam berapa penerbangannya? Kamu bisa tahan Marsya sebentar?" Kasya bergerak gelisah sambil memandang wajah anaknya.


"Baiklah, oke." Kasya lalu menutup teleponnya.


"Ada apa mah?" tanya Byan menatap Ibunya heran.


"Byan, Marsya akan pergi ke Amerika dan tinggal sementara disana. Sebentar pesawatnya lepas landas, kamu tunggu disini. Mama akan mencegahnya untuk pergi, mama akan menjelaskan semuanya pada Marsya." Kasya berbicara sambil bersiap untuk pergi.


"Mah, jangan." Byan malah mencegahnya.


"Byan, tapi kenapa? Bukankah semuanya hanya kerena kesalah pahaman dan juga hanya karena kamu terlambat menyadari cintamu." Kasya bertanya dengan tatapan heran.


"Mah, aku sudah menyakitinya dengan begitu dalam sampai dia bilang tak akan pernah memaafkanku. Juga lihatlah keadaanku sekarang, aku adalah seorang penyakitan. Aku tidak ingin membebani Marsya, sudah cukup aku menyakitinya. Marsya berhak bahagia, biarkan dia pergi. aku akan melepasnya." Byan berbicara dengan penuh ketegasan, tapi meskipun begitu hatinya teramat sakit.

__ADS_1


Kasya yang melihat ketegasan pada mata anaknya, hanya bisa menghela nafas. Dia juga seorang perempuan yang pernah tersakiti oleh seorang laki - laki, mungkin memang lebih baik untuk Marsya agar bisa menyembuhkan lukanya lebih dulu.


"Baiklah, mama menurutimu. Tapi ingatlah! Jangan pernah menyerah untuk sembuh dan setelah sembuh kamu pergilah mengejarnya. Dapatkan hatinya kembali, bukankah cinta harus diperjuangkan? Marsya adalah wanita yang pantas kamu perjuangkan, nak." Kata Ibunya menepuk bahu putranya memberi semangat.


__ADS_2