
Raditya baru saja pulang dari perusahaannya, dia baru saja menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa untuk istirahat.
Saat dia ingin memanggil istrinya, suara deringan dari ponselnya terdengar. Dia melihat nama di layar ponselnya adalah Kasya, dia pun segera mengangkatnya.
"Hai, Kasya sayang. Apa kabar? Tumben telepon, apa kangen padaku? Haha..." Ucap Raditya seperti biasanya, yang masih saja suka bercanda.
"Kamu tuh ya, mulutmu masih gak bisa dijaga. Nanti kedengaran istrimu, kamu bisa diusir tidur diluar. Hahaha..." Kasya ikut tertawa di ujung telepon sana.
"Hehe, baiklah. Ada apa?" Tanya Raditya.
"Gini Dit, aku mau bicara sesuatu yang penting padamu. Tapi kamu harus janji ya, jangan bilang siapa - siapa lagi. Soalnya Byan yang menyuruhku merahasiakannya." Suara Kasya terdengar khawatir.
"Oke, oke... jadi?" Raditya semakin penasaran, karena suara Kasya terdengar sangat gelisah.
"Aku sebenarnya ingin menghormati keinginan Byan, tapi hari ini sudah jadwalnya dia pergi ke Rumah Sakit." Kasya menghentikan perkataannya, dan berpikir sejenak harus melanjutkan atau tidak.
"Kasya, ada apa sebenarnya. Kenapa Byan harus ke Rumah Sakit? Dia sakit?" Raditya mendesak Kasya, ketika menyadari keraguannya.
Kasya di ujung telepon pun berpikir keras, jika dia tidak mengatakan pada Raditya, terus siapa yang akan mengurusnya.
"Radit, sebenarnya Byan sakit. Beberapa hari kemarin dia sempat dibawa ke Rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari. Dokter bilang, ginjalnya kembali rusak dan harus segera diganti." Diujung telepon sana Kasya menghela nafasnya, Raditya mendengarnya.
"Jadi, tolong nasehati Byan dan bawa dia ke Rumah sakit yang terbaik disana." Pinta Kasya.
"Kasya, aku mengerti. Baiklah, aku akan berbicara padanya. Aku tutup teleponnya." Ucap Raditya lalu mematikan panggilannya.
Raditya segera berjalan menuju kamar Byan, dia membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci dan masuk ke dalam.
Byan terlihat sedang tiduran di tempat tidur dengan senyuman di wajahnya.
"Byan, Paman ingin bicara." Ucap Raditya dengan wajah serius.
Abyan memalingkan wajahnya dari ponselnya, dia bangun dari rebahannya.
"Ada apa Paman?" Tanyanya.
"Paman tidak ingin berputar - putar. Ibumu baru saja telepon, dia memintaku membawamu ke Rumah sakit. Katanya hari ini adalah jadwal cuci darahmu, jadi malam ini paman akan menjadwalkan pengobatanmu di Rumah sakit terbaik disini. Besok siang paman akan mengantarmu, paman tidak menerima penolakan." Raditya menajamkan suaranya.
Byan menghela nafasnya, dia tidak bisa menolaknya karena tubuhnya memang terasa sedikit kesakitan sejak kemarin.
__ADS_1
"Baiklah paman, aku ikut keputusan Paman. Terima kasih, selalu ada untukku dan Ibuku." Ucap Byan penuh rasa terima kasih.
"Kamu ini, kalian berdua adalah keluargaku. Jadi mana mungkin aku tidak menyayangi kalian. Baiklah, tunggu kabar dari Paman besok." Raditya menepuk pundak Byan lembut.
****
Pagi ini Kasya baru mengingat tentang Abyan yang harus cuci darah, saat mengingatnya ia langsung menelepon Raditya. Sekarang setelah selesai menelepon ia masih menatap ponsel di tangannya, dia belum merasa lega meskipun sudah menitipkan Byan pada Raditya.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar ketukan di pintu kamar hotelnya.
"Siapa?" Tanyanya.
"Saya Dion, Nyonya." Dion berkata di luar pintu.
"Sebentar." Ucap Kasya sambil berjalan untuk membuka kunci pintunya.
Setelah terbuka terlihat Dion membawakan sarapan pagi untuknya di atas meja roda.
"Nyonya, aku membawakan sarapan untukmu. Semalam sebelum tuan Axel pergi untuk bertemu tuan Raka, dia sudah menyuruhku untuk menyiapkan sarapan ini. Ah, juga ada kartu ucapan darinya." Dion tersenyum.
Dion segera mendorong meja yang berisi sarapan itu, dan masuk ke dalam.
"Baiklah, terima kasih Dion."
"Kalau begitu, saya pergi dulu." Dion melangkahkan kakinya untuk keluar.
"Tunggu!" Kasya menghentikannya.
Langkah Dion pun terhenti, ia berbalik badan menghadap Kasya.
"Itu, temani aku sarapan. Ah maksudku, kita mengobrol sedikit, selagi aku makan." Kasya mulai penasaran dengan Axel dan ingin bertanya pada Dion.
Dion tersenyum, " Baiklah."
"Dion duduklah, santai saja." Kasya melangkahkan kakinya berjalan ke arah tempat duduk.
Dion pun menurutinya dan duduk di kursi di depan Kasya.
__ADS_1
"Aku ingin tau kehidupan Axel secara singkat, aku hanya ingin mengenalnya lebih jauh." Kasya lalu memberikan senyuman terindahnya pada Dion.
Degh!
Jantung Dion tiba - tiba berdebar kencang, dia menatap senyuman Kasya dengan tatapan mata yang seperti terkena sihir.
Ah dasar bodoh! Dia calon Nyonya - mu! Dion mengutuk dirinya sendiri.
Dion menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya. "Baiklah, saya akan menceritakannya." Kata Dion, tapi matanya menatap ke arah lain.
Kemudian Dion mulai menceritakan masa lalu Bos - nya, sampai cerita hidup Axel sekarang. Dion mengatakannya dengan singkat, tapi dia merahasiakan tentang Axel yang seorang pewaris Kasino juga pemilik hotel serta tentang dunia hitam.
Kasya dengan sungguh - sungguh mendengarkannya, sambil tangannya sesekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Akhirnya Dion selesai menceritakannya, dia masih menatap ke arah lain dan duduk dengan tidak nyaman.
"Hem, ternyata masa lalu Axel lebih menyedihkan dariku. Dia bahkan dikhianati oleh orang terdekatnya. Betapa miris sekali, terlalu kejam untuknya. Dikhianati oleh Ayah kandungnya sendiri, bukankah itu terlalu kejam? Iya kan Dion?" Kasya menatap Dion.
Dion mendengarnya tapi hanya menganggukkan kepalanya, tanpa menolehkan kepalanya pada Kasya.
"Dion, ada apa denganmu? Kenapa malah melihat ke jendela? Aku sedang berbicara padamu." Kasya merasa heran dengan tingkah Dion.
Dion menghela nafasnya lalu memalingkan wajahnya pada Kasya. Saat Dion menatap wajah Kasya, sekali lagi ada sesuatu perasaan yang menggelitik hatinya, dia semakin merasa gelisah.
"Ah, Nyonya! Aku banyak pekerjaan. Jadi, aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Kasya, Dion berjalan keluar dengan sangat cepat, bahkan hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
Kasya melongo melihat tingkah laku dari Dion biasanya jika bertemu dengannya, Dion akan selalu bersikap humoris.
Kasya pun menggelengkan kepalanya tidak mengerti. "Ah, aku lupa menanyakan pertemuan Axel dan Raka semalam padanya. Ish! Padahal aku masih penasaran." Kasya pun akhirnya melanjutkan makannya kembali lalu membaca kartu ucapan dari Axel.
Selamat pagi wanita berduri - ku, aku menyiapkan makanan sehat untukmu dan rasa makanannya dipenuhi rasa cinta dariku. Lain kali aku yang akan memasak langsung untukmu, siapkan lidah dan perutmu, karena masakanku adalah yang terlezat di dunia.
Kasya membaca tulisan kartunya sambil tersenyum senang.
"Apa? Masakan terlezat di dunia. Haha... percaya diri sekali dia." Kasya mengelus lembut tulisan tangannya.
"Axel, aku tidak menyangka kisah masa lalumu lebih menyedihkan dariku. Apa selama ini penderitaanmu lebih menyakitkan dariku, sampai kamu menderita fobia?" Gumamnya.
"Axel, ayo sama - sama kita saling menyembuhkan semua luka yang pernah kita alami. Mari kita menghapus masa lalu dan merajut masa depan kita berdua bersama." Kasya tersenyum lebar, hatinya terasa bebas karena mulai sekarang dia akan menutup semua lembaran cerita cinta lama, dan membuka lembaran cinta yang baru.
__ADS_1