
Davina sedang menari-nari karena bahagia, akhirnya dewi fortuna berpihak padanya. Meskipun kedua rencana jahatnya semalam tidak berhasil, tapi jalannya ternyata masih terbuka lebar.
Meskipun hatinya sedikit marah karena dia tau jika semalam yang tidur dengan Byan adalah Marsya. Tapi saat mengingat keuntungan yang dia dapatkan, siapa peduli Byan tidur dengan siapa? Toh dia akhirnya sebentar lagi akan menjadi istri dari pewaris Pramudita, sudah dipastikan masa depannya sangat cerah.
"Hahaha... benar! Siapa peduli kamu tidur dengan siapa Byan. Aku hanya membutuhkan statusku menjadi istrimu dan akan menjadi artis yang semakin terkenal, karena para sutradara dan produser itu akan menghormatiku! Mereka yang dulu pernah menganggapku sebagai pelacur, aku akan membalas semuanya! Hahaha!" Davina tertawa dengan puas.
"Baiklah, sekarang aku lebih baik pergi ke apartemen Byan dan terus mempengaruhinya agar dia tak berubah pikiran." Gumamnya sambil bersiap untuk segera pergi.
****
Sebelum Kasya naik ke pesawat, dia menelepon Ranti dan Denis. Dia meminta tolong agar mereka segera melihat keadaan Byan, dia juga menceritakan apa yang dikatakan Byan padanya.
Marsya yang kebetulan sedang ada di rumah, melihat ayah tiri dan ibunya sudah bersiap untuk pergi. "Mah, Papa Denis. Kalian mau kemana?" Tanyanya.
"Mama mau melihat Byan dulu, Ibu Kasya barusan menelepon agar mama melihat keadaan anak itu." Jawab Ranti kepada putrinya itu.
"Memangnya Byan kenapa?" Seketika Marsya panik, dia berjalan mendekati orang tuanya.
"Loh! Kamu gak tau. Kata Ibu Kasya, Byan mau menikahi Davina." Ibunya itu menjawabnya.
"Apa?! Tidak mah, tidak mungkin. Aku harus menemuinya, biarkan aku yang pergi mah." Marsya mendesak Ibunya dengan panik.
"Marsya, ada apa sayang?" Melihat kepanikan putrinya Ranti langsung bertanya.
"Nanti Marsya ceritain mah, tapi Marsya harus pergi menemui Byan dulu. Mama jangan dulu pergi." Marsya semakin panik.
"Ya sudahlah, kamu saja yang pergi." Ranti pun menuruti keinginan Marsya.
__ADS_1
Marsya segera pergi tanpa ingin menunda lebih lama lagi, dia sangat marah juga sangat sedih. Kenapa Dia yang ditiduri tapi malah Davina yang dinikahi?!
***
Davina sekarang sedang duduk dengan manis di sofa apartemen Byan, dia menatap Byan dengan tatapan polosnya.
"Byan, jika kamu menyesalinya. Kita sebaiknya tidak menikah, aku tidak ingin memaksamu." Davina berkata sambil menundukkan kepalanya sedih dan terlihat sangat begitu kasihan sekali.
"Davina..." Byan yang melihat Davina, sekarang dia merasa sangat bersalah padanya.
"Byan, aku...ak-"" Davina langsung menangis terisak - isak.
Byan tak tega melihatnya, ia langsung menghampirinya dan menepuk pelan tangannya.
Tapi Davina memang sedang mencari kesempatan, ia langsung memeluk Byan dengan sangat erat dan menangis pilu di pelukan kekasihnya.
Byan yang dipeluk Davina hanya bisa menghela nafasnya pasrah, dia tau bagaimanapun juga semalam memang adalah kesalahannya.
Davina yang matanya kebetulan melihat Marsya lebih dulu, langsung mempererat pelukannya dan malah mengangkat kepalanya lalu sengaja mencium bibir Byan.
Marsya yang melihat adegan di depannya sampai tak sadar menancapkan kukunya, tapi dia harus bertahan juga harus berbicara dengan Byan.
"Byan..." Marsya akhirnya memanggilnya.
Posisi duduk Byan memang membelakangi pintu apartemen, dia tak sadar jika Marsya telah masuk ke dalam partemennya.
Saat dia mendengar Marsya memanggilnya, seketika tubuhnya menjadi kaku, pelukannya pada Davina terlepas. Dia dengan cepat melepaskan pagutan ciuman Davina di bibirnya.
__ADS_1
Byan segera bangun dari tempat duduknya dan berbalik menghadap Marsya lalu menghampirinya.
"Marsya." Tatapan mata Byan terlihat sangat kacau.
"Byan, apakah benar kamu akan menikah dengan Davina? Kenapa?" Marsya memaksakan kata - katanya padahal hatinya sedang menahan semuanya.
"Apa maksudmu kenapa? Marsya, kami adalah sepasang kekasih dan sudah sepantasnya kami menikah, bukan?" Terdengar suara terselubung dari Davina.
"Kami saling mencintai, benar kan sayang?" Lanjut Davina seraya memeluk tubuh Byan dengan manja.
Tubuh Byan pun seketika menegang saat dipeluk oleh Davina, pikirannya sangat kebingungan dan tak menyadari gelagat kedua wanita di dekatnya.
"Byan, maukah kamu mendengarkanku? Aku ingin bicara padamu, bisakah kita bicara berdua saja?" Marsya menatap Byan dengan memohon.
"Kenapa? Aku adalah calon istrinya dan aku juga berhak mendengarnya bukan. Marsya ada apa? Kita sebentar lagi akan menjadi keluarga, aku senang sekali. Ah ya... kamu pasti ingin tau alasan kami menikah bukan? Kami sebenarnya semalam sudah tidur bersama, arti 'tidur' antara wanita dan pria, hihihi..." Davina sedang berakting menjadi wanita yang baik, dia sengaja berbicara lebih dulu sebelum Marsya
Wajah Marsya memucat mendengar pengakuan palsu dari Davina.
"Byan, apa kamu mempercayainya? Tapi aku, a-aku lah yang suda-" Marsya tak kuat menahan sakit hatinya dan wajahnya mulai berkaca-kaca.
"Marsya, kami berdua... ya, semua yang dikatakan Davina benar. Aku juga mempercayainya." Akhirnya Byan mengatakannya lalu ia menundukkan kepalanya karena dia tak berani menatap mata Marsya lagi.
"Byan, semudah itu kamu percaya padanya?!" Marsya akhirnya sudah kehilangan minatnya untuk mengatakan tentang kejadian semalam.
"Marsya, kenapa kamu seperti ini? Tentu saja Byan sangat mempercayaiku, dia sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya." Davina tersenyum bangga, masih sambil memeluk Byan.
"Cinta apa maksudmu! Dasar wanita murahan! Kamu hanya bisa berbohong!" Marsya berteriak menghina Davina.
__ADS_1
"Marsya! Jaga ucapanmu!" Byan balas memarahi Marsya tanpa sadar.
Saat Byan sudah tersadar semuanya sudah terlambat, kata - katanya malah akan mendorong Marsya semakin menjauh darinya.