
Esok malamnya semua orang berkumpul di sebuah Restoran, untuk merayakan kedatangan Axel juga merayakan pernikahan Kasya dan Axel. Mereka sudah memesan satu meja besar untuk merayakannya.
Hanya Raditya dan Raka yang tidak bisa datang karena terhalang oleh antar Benua. Dean ikut makan tapi sepanjang malam anak itu tidak mau berdekatan dengan Ayahnya. Bahkan sejak pagi, Dean minta diantar ke Apartemen kakaknya Abyan, Kasya hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat sikap putranya itu.
Bahkan malam ini anak itu hanya bicara dengan anak - anak lainnya, saat bertemu di dalam Restoran putranya tak mau menghampirinya. Kasya menatap suaminya, tapi di wajah suaminya itu tidak ada tanda - tanda marah sedikitpun.
"Kamu sudah berubah, sayang. Wajahmu seperti orang yang penuh kedamaian, apa kamu masih sering marah atau mungkin cepat emosi?" tanya Kasya.
"Sedikit, aku juga manusia biasa sayang. Masih bisa emosi meskipun sekarang aku bisa lebih mengontrolnya. Mungkin hanya satu yang sulit aku kendalikan, yaitu rasa cemburuku."
Kasya tersenyum, " Kalau kamu gak cemburu, itu tanda kamu sudah gak cinta sama aku. Jadi, menurutku itu adalah hal yang wajar asal jangan terlalu over."
"Hm," gumamnya.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kamu sudah sehat sepenuhnya?" tanya Denis pada Axel.
"Hanya sesekali kaki kananku terasa ngilu, mungkin efek trauma dari kecelakaan. Untuk waktu itu, terima kasih Denis." Ucap Axel.
"Tak masalah, meskipun beberapa kali karena ulahmu aku berakhir dihukum oleh istriku. Tapi, aku akan meminta balasan padamu." Balas Denis.
"Apa itu?" tanya Axel.
"Biarkan Dion bekerja bersamaku atau bersama dengan Nata mungkin?" Denis memberi kode pada Nata.
Nata menatap ke arah Axel lalu ke arah Dion, ia membenarkan ucapan Denis, " Ya, aku juga sedang memperluas bisnisku di beberapa daerah. Jika bisa menjadikan Dion asistenku dalam mengurus Bisnis, sepertinya Bisnisku akan berkembang pesat."
Axel menatap Denis, kemudian ia menatap Nata lalu tatapan matanya jatuh di wajah Dion. "Apa ada alasan khusus, kamu harus berhenti bekerja padaku Dion?" tanya Axel.
__ADS_1
Dion balas menatap wajah Axel, ia menatap tajam pada lelaki yang pernah dihormatinya itu tapi setelah apa yang lelaki itu pernah lakukan pada Kasya ia sudah tak terlalu respeck lagi. Ia sekarang hanya menghormati Axel sebagai seseorang yang pernah menyelamatkannya dan keluarganya. Karena balas budi lah ia masih bertahan dan tak ingin berusaha merebut Kasya dari Axel.
"Tidak ada apa - apa, Bos. Mungkin Tuan Denis dan Tuan Nata hanya melihat skill-ku dalam berbisnis, kenapa harus ada alasan lain? Benar begitu bukan Tuan Denis?" Dion sepertinya tau kenapa mereka ingin ia terlepas dari Axel.
"Dion, mari keluar merokok. Aku ingin bicara denganmu berdua, sudah lama kita tidak mengobrol." Ajak Axel akhirnya.
Semua mata memandang ke arah Axel dan Dion, terutama Kasya. Ia menggigit bibirnya, Dion adalah orang yang mudah sekali ditebak. Meskipun dalam beberapa tahun ini Dion berubah semakin maskulin dan jarang bicara ceplas ceplos seperti dulu tapi tetap saja jika Axel berniat bertanya aneh - aneh, Dion pasti akan terpancing.
"Sayang, nanti saja bicaranya. Kita kan masih makan bersama ini, gak enak sama yang lain. Ini kan acara untukmu, masa bintang acaranya malah pergi," bujuk Kasya.
Semua orang dewasa disana sedang menahan nafas mereka, menunggu jawaban Axel.
"Baiklah, aku akan menurutimu." Jawab Axel membuat semua orang melepaskan nafas yang tertahan.
__ADS_1
"Sya, antar aku ke kamar mandi sebentar yuk." Ajak Ranti ia juga ikut tegang melihat Axel dan Dion.
Kasya mengangguk, ia bangkit dari kursinya. Sebelum pergi ia melirik ke arah suaminya lalu ke arah Dion. Kedua lelaki itu sedang menatapnya. Ia menghela nafas seraya menggeleng lalu berjalan pergi menuju toilet bersama Ranti.