Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 74


__ADS_3

Mayleen memalingkan wajah bengkaknya dari Dion, ia sedang tak ingin melihat wajah lelaki itu.


"Saya adalah perwakilan Nona ini, pengacara saya sebentar lagi datang." Ujar Dion seraya menyodorkan kartu namanya.


Polisi mengambilnya dan mengangguk.


Dion berjalan ke arah bangku panjang di dalam ruang kantor polisi, ia duduk di samping Mayleen. " Kenapa kau berkelahi dengan lelaki? Apa kau merindukan menjadi ketua gengster lagi? Kalau iya, pulanglah ke Macau. Jangan membuat onar disini!" Ujar Dion kasar.


Mayleen menahan amarahnya, ia tidak sakit hati karena ucapan Dion padanya tapi ia hanya merasa usahanya selama sebulan ini terus bersama lelaki itu sia - sia. Ia mencoba berperilaku feminim seperti wanita pada umumnya tapi akhirnya ia malah berubah kembali seperti Black Rose si wanita tomboi.


Tak berapa lama pengacara Dion datang dan membebaskan Mayleen, wanita itu masih tidak ingin bicara dengan Dion. Di dalam mobil ia hanya menatap keluar jendela, Dion menarik nafas pelan menahan kesabarannya.


Brakkk!


Saat mobil berhenti di depan rumah, Mayleen turun dan membanting pintu mobil dengan keras. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya tak ingin mendengarkan lagi ocehan dari Dion.


Dion menyusul Mayleen dan mengetuk pintu kamarnya, tapi wanita itu tetap tak membuka pintu.

__ADS_1


"Dari mana kalian?" tanya Smith yang baru pulang mengantar Amora menjemput putranya.


"Mayleen berkelahi di club, aku baru saja membebaskannya," jawab Diom, tatapannya beralih kepada seorang anak kecil yang memeluk tubuh Amora.


"Siapa namamu?" tanya Dion.


"Axton," jawab si anak lelaki kecil.


"Nama yang bagus, kau sudah makan?" tanya Dion kembali.


Anak lelaki itu menggeleng.


"Baik, Tuan." Jawab Amora, tapi wanita itu masih berdiri disana.


"Ada lagi?" tanya Dion.


"Tidak Tuan, aku harap Anda bisa berhati - hati." Ucap wanita itu lalu pergi menuju dapur mengikuti Smith.

__ADS_1


"Hm, apa maksudnya?" gumam Dion.


***


Axel sedang berdiri di balkon kamar yang ditinggalinya dengan Kasya, ia mengisap rokok lalu menghembuskan asapnya, "Jadi, Dion masih memikirkan istriku?" tanyanya pada seseorang di sambungan telepon.


"Iya, Tuan Axel. Maaf, aku masih belum bisa mendapatkan hatinya. Aku juga sungguh frustasi, apalagi sekarang Dion malah membawa seorang wanita yang baru saja dia tolong dari club. Aku mencurigai wanita itu, apa aku harus memeriksanya?" Mayleen mengecilkan suaranya, ia tak ingin obrolan mereka di telepon terdengar oleh Dion.


Tatapan Axel tertuju pada Kasya yang sudah tertidur pulas di ranjang, kini waktu di Indonesia sudah hampir pagi.


"Kau berikan saja foto wanita itu, biar aku yang memeriksanya. Aku akan menyuruh seseorang di Inggris menyelidikinya dengan hati - hati. Mayleen, jangan menyerah. Jaga Dion untukku..."


"Ya, Tuan. Aku sebenarnya ingin sekali menyerah tapi jika aku menyerah dan pergi, Dion akan kesepian." Mayleen menghela nafasnya.


"Baiklah, kabari lagi aku. Kamu adalah wanita baik dan wanita hebat. Musuh - musuhmu saja banyak gentar padamu, kau pasti bisa meluluhkan hati Dion. Aku mempercayakan Dion padamu, dia adalah keluargaku." Ujar Axel.


"Baik, Tuan. Aku tutup."

__ADS_1


Setelah panggilan berakhir, Axel masuk ke dalam kamar. Ia naik ke atas ranjang, mengecup kening istrinya. "Sayang, maaf aku egois. Aku tau Dion mencintaimu dan aku juga tau hatimu terkadang bergetar karenanya. Tapi, aku tak ingin menyerahkanmu pada siapapun, termasuk Dion. Aku yakin kamu masih mencintaiku, aku akan menunggumu melepaskan perasaanmu pada Dion."


__ADS_2