
Kasya segera menelepon Ranti dan meminta maaf karena tidak bisa bertemu dengan Marsya.
"Ran, maaf. Bilang pada Marsya aku akan selalu mendoakan dimana pun dia berada." Setelah selesai Kasya menutup teleponnya.
Kasya melihat ke arah putranya yang saat ini sedang tertidur lelap, Byan tadi merintih kesakitan sampai Dokter harus memberinya suntikan untuk meringankan rasa sakit putranya.
Dokter juga sudah menjadwalkan untuk cuci darah lagi seperti dulu, putranya harus rutin cuci darah bahkan sekarang harus 3× dalam seminggu.
Kasya sekali lagi menghela nafas, entah sudah keberapa kalinya ia menghela nafas hari ini. Sebagai Ibu dia harus selalu kuat demi putranya, walaupun hatinya bersedih tapi bibirnya harus tetap tersenyum.
Tok... tok... Tok.
"Masuk."
__ADS_1
"Bu Bos, maaf saya baru datang. Pekerjaan yang ibu minta saya bawakan, sudah saya bawa. Perusahaan dalam kondisi baik-baik saja, saya sudah mengurusnya." Lapor Rama dan segera menyusun tumpukan dokumen di meja.
"Rama, terima kasih. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tau harus bagaimana." Kasya berterima kasih dengan setulus - tulusnya.
"Bu, ini semua sudah tugas saya. Saya hanya ingin mengabdikan hidup saya pada Ibu dan keturunan Tuan Randika. Dulu alm Tuan Randika lah yang selalu menolong saya, disaat saya sedang kesulitan." Rama seketika mengingat mantan Bos - nya yang sudah meninggal.
Kasya tersenyum tipis mendengarnya.
Randika, kenapa sekarang saat mendengar namanya tak sesakit dulu bahkan malah terasa asing di telingaku. Bahkan wajahnya saja aku sudah tak mengingatnya. Batin Kasya.
"Wanita itu melakukannya hanya dengan adiknya, sekarang mereka berdua sudah ditangkap. Saya juga sudah menyebarkan beritanya ke media. Sedangkan dari pihak manajer dan management yang menaunginya sudah lepas tangan dan tak ingin ikut campur, saat mereka mendengar korbannya adalah Pewaris Perusahaan Pramudita." Rama menjawabnya.
"Huh! Wanita ****** itu terlalu berani! Jika saja aku tau akan jadi begini, dari saat pertama anakku mengenalkannya padaku, aku pasti akan memeriksanya!" Itu lah yang Kasya sesali sampai saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang temani aku menemui Dokter. Tadi Dokter sudah memberitahuku jadwal cuci darah Byan dan aku takut lupa. Sebaiknya kita pergi ke ruangannya dan kamu catat serta kamu yang simpan jadwalnya. Kamu yang harus selalu mengingatkanku, ayo pergi." Kasya berdiri dari tempatnya duduk, ia menyelimuti putranya lalu pergi keluar dari ruangan.
Kasya berjalan di lorong Rumah sakit menuju ke arah ruangan Dokter yang menangani Byan. Disaat ia sedang berjalan pandangan matanya terus lurus ke depan, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Ada apa, Bu Bos?" Tanya Rama sambil memalingkan wajahnya pada Bos wanitanya itu.
"Rama, lihat ke depan. Bukankah itu si pria pemaki? Coba kamu lihat dengan benar!" Kasya berbicara pada Rama tapi tatapan matanya tak lepas dari sosok pria di depannya yang sedang berjalan ke arahnya.
Rama pun memalingkan wajahnya kembali ke arah depan, ia membuka matanya lebar-lebar dengan membetulkan kacamata yang bertengger di hidung Asia-nya. Betul saja! Itu adalah si pria 'pemaki'.
"Betul Bu Bos, itu dia saya sangat yakin." Suara Rama terdengar meyakinkan.
" Wah kebetulan yang menyenangkan, bukankah waktunya balas dendam? Rama, apa yang aku bilang waktu itu padamu saat di Bandara?" Kasya tersenyum licik.
__ADS_1
"Jika Anda tidak bisa membalasnya, nama Anda bukan Kasya Indira." Rama menjawabnya sambil menahan senyum, dia tau sifat Presdirnya itu jika sudah berkata sesuatu pasti akan Presdir - nya akan lakukan.
"Ayo! Aku akan memberikan pertunjukan padamu." Kasya pun melanjutkan langkah kakinya kembali, akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan si pria 'pemaki'.