
Raka menatap Axel masih dengan tatapannya yang menyelidik, dia masih merasakan sesuatu yang ganjil tapi dia juga tidak tau apa itu.
"Ah ya, aku lupa. Tuan Axel, maafkan aku tadi sudah memukulmu. Sebagai permintaan maafku, bagaimana jika nanti malam aku mentraktirmu makan, setelahnya kita bisa minum - minum atau mungkin pergi ke kasino . Bagaimana?"
Axel tidak langsung menjawab matanya melirik ke arah Kasya, seolah menunggu ijin darinya. Tapi Kasya memang wanita yang kurang peka, ia mana mengerti arti dari tatapannya.
"Kasya, bagaimana menurutmu?" Akhirnya Axel bertanya.
"Ah, apa?" Tanya Kasya balik.
"Tentang ajakan tuan Raka?" Kata Axel.
"Oh, pergi saja. Axel, kamu tidak perlu meminta pendapatku." Kasya memandang Axel dengan tatapan terserah kamu.
"Kasya, mungkin memang menurutmu itu tidak perlu. Tapi mulai sekarang, pendapatmu adalah paling penting bagiku." Axel tersenyum, menatapnya dengan dalam.
Kasya terenyuh mendengar perkataan lelaki itu, ia seketika menatap balik mata Axel dengan sama dalamnya. Mereka saling bertatapan dengan penuh arti, seketika mereka berdua lupa sedang berada dimana.
Astaga Raka! Apa kamu sedang menjadi nyamuk?! Raka mengomel dalam hati.
"Halo... kalian berdua, masih ada aku disini. sosokku yang sebesar ini, apa kalian tidak melihatnya?!" Raka menggebrak meja dengan pelan, akhirnya membuyarkan tatapan penuh arti Kasya dan Axel.
Sialan nih orang! Kenapa ganggu terus sih?!Marah Axel dalam hatinya.
"Ekhem! Kalian berdua pergilah bersenang - senang, aku tidak ikut." Kata Kasya akhirnya.
"Tentu saja kamu tidak boleh ikut, kamu kan masih belum sembuh." Ucap Axel.
"Apa? Kamu sakit?" Raka bertanya pada Kasya dengan cemas.
"Tidak apa - apa, aku hanya butuh banyak istirahat."
"Ayo, sekarang aku akan mengantarmu istirahat." Axel bersiap berdiri untuk mendekati Kasya.
Tapi sekali lagi, Raka sengaja menantangnya. Dia berdiri terlebih dulu lalu merangkul kedua pundak Kasya berniat membantunya berdiri.
"Tuan Axel, biar aku saja yang mengantarnya. Lagipula kami sudah saling mengenal selama 20 tahun, jadi aku yang lebih mengenalnya. Ayo, Ratu es - ku yang cantik." Ucap Raka sambil membantu Kasya berdiri.
Tapi Axel kali ini tidak mau mengalah, dia segera melepaskan kedua tangan Raka yang memeluk pundak Kasya. Axel dengan kasar menyentak tangan Raka.
__ADS_1
"Maaf, tuan Raka. Meskipun saya memang belum lama bersamanya, tapi Kasya sudah sepakat akan menerima pendekatan dari saya. Jadi, sebaiknya Anda membiarkan kami berdua pergi." Axel berkata dengan nada tajam yang sangat terdengar jelas.
Akhirnya Axel dan Raka saling bertatapan dengan mata yang berapi - api, salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah.
Kasya yang melihat ke arah mereka berdua, merasa sangat kesal. Kenapa mereka berdua malah seperti anak kecil sih!
"Sudahlah, biar aku berjalan sendiri ke kamar. Aku sudah tidak apa-apa, hanya pusing sedikit." Kasya akhirnya menggelengkan kepalanya, dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
"Tapi..." Axel masih ingin bicara.
"Axel, jika kamu khawatir. Biarkan Dion saja yang mengantarku ke kamar. Dion aku minta tolong, antar aku ke kamar." Kasya menatap ke arah Dion.
Dion terkejut, matanya melihat ke arah sang Bos. Axel hanya menatapnya datar, akhirnya Dion menghela nafasnya.
Kenapa aku kena juga sih! Aish... calon Nyonya - ku, kamu akan membuatku terkena hukuman! Dion menggerutu dalam hatinya.
Akhirnya Kasya berjalan pergi menuju ke kamar hotelnya, hanya Dion yang mengikutinya dan meninggalkan dua lelaki yang saling tidak mau mengalah itu.
Axel dan Raka saling melirik, mereka masih setia dengan wajah dinginnya. Raka lah yang berbicara lebih dulu.
"Tuan Axel, karena kita sudah sepakat untuk rencana nanti malam. Kalau begitu kita akan bertemu lagi, jam 10 nanti malam. Aku pergi dulu." Setelah mengatakannya, Raka pun melenggang pergi dari sana.
Saat Axel melangkahkan kakinya pergi dari Restoran itu, dia tak sadar jika ada seseorang disana yang sedari awal mengawasinya.
Orang itu mengeluarkan ponsel, dan mengatakan sesuatu di ponselnya.
"Halo Bos, ada kabar baru. Sepertinya dia mempunyai wanita Bos, saya akan menyelidikinya dan segera melapor. Oke Bos, siap Bos." Orang itu berkata pada seseorang yang ada di seberang telepon.
****
Kasino.
Axel membuka pintu rahasia untuk menuju ruang pribadinya di Kasino, di dalam ruangan itu semua fasilitasnya sangat lengkap, setelah masuk ke dalam dia pun menekan tombol pemanggil.
"Devil, kemari. Bawa semua laporan tentang Kasino." Ucapnya singkat, lalu mematikan tombol pemanggilnya.
Axel berjalan ke tempat rak simpanan anggurnya. Dia mengambil satu botol anggur, lalu menuangkan sedikit anggur itu ke dalam gelas.
Dia memutar - mutar gelas anggur itu, dengan pikiran yang melayang kemana-mana.
__ADS_1
Lalu terdengar suara seseorang di belakangnya. "Bos, apa kabar?" Tanyanya.
Axel membalikkan badannya, dia berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan santai.
"Duduklah, aku ingin membicarakan sesuatu." Ucap Axel dengan wajah datarnya.
Lelaki yang bernama Devil itu menurutinya, dia pun duduk di hadapannya.
"Jiazhen, berapa lama kamu bekerja bersamaku?" Tanya Axel pada Devil dengan menyebut nama asli China - nya.
"Hampir delapan tahun Bos, dan saya masih berhutang hidup saya pada Bos. Jika hari itu Anda tidak membawa saya yang sedang kelaparan dari jalanan, mungkin hari itu saya sudah mati." Devil tersenyum penuh terima kasih pada Axel.
"Jangan diungkit lagi, kamu hanyalah orang yang kurang beruntung dan aku hanyalah orang yang lebih beruntung dari kamu." Axel balas tersenyum.
"Jiazhen, apakah kamu sudah mempunyai wanita yang kamu sukai?" Tanyanya.
"Belum Bos, aku masih ingin seperti sekarang. Hidup bebas tanpa beban apapun." Jawabnya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku ingin berbicara serius denganmu, jadi dengarkan!" Axel merubah posisi duduk santainya, menjadi posisi duduk seorang Pria Bossy.
Axel menatap tajam wajah Devil. "Jiazhen, aku ingin mulai sekarang kamu menjadi pemilik dari semua Kasino. Maksudku pemilik asli yang sebenarnya. Kasino utama ini, beserta cabang - cabang kasino kita yang lain."
"Bos, a-ku..." Devil menghentikan perkataanya melihat tangan Axel yang diangkat.
"Tunggu aku selesai bicara." Ucap Axel.
"Dulu aku tidak pernah terpikir akan ada saat seperti sekarang. Aku kini sudah mempunyai seorang wanita yang aku cintai dan ingin hidup bahagia bersamanya sampai kami menua bersama. Jadi aku tidak ingin berhubungan lagi dengan dunia yang penuh dengan kekejaman ini, kamu mengerti bukan?" Axel mengatakannya dengan menekankan kata - katanya.
"Apa Bos sangat mencintai wanita itu? Sampai rela melepas semua ini."
"Aku memang baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku merasa sudah sangat lama mengenalnya. Jadi jawaban dari pertanyaanmu, ya. Aku mencintainya dan akan melakukan segalanya untuknya, walau taruhannya nyawaku sekalipun." Axel tersenyum lebar, ternyata saat mengungkap isi hatinya terasa sangat membahagiakan.
"Selamat Bos, akhirnya hati dan jiwa Anda bisa hidup kembali. Aku ikut merasa senang." Devil ikut tersenyum.
"Jadi, urus semua perpindahan kepemilikan - ku atas namamu. Aku percaya padamu, oke." Axel menepuk pundak Devil dengan puas.
"Aku tidak akan mengecewakanmu Bos." Jawabnya meyakinkan.
Setelah Axel melihat sebentar keadaan di dalam kasino, dia kembali ke kamar hotelnya. Saat dia ingin masuk ke dalam kamarnya, dia melirik ke arah pintu kamar hotel Kasya. Akhirnya dia hanya berani melihatnya saja, lalu masuk ke kamar hotelnya sendiri.
__ADS_1