Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 38


__ADS_3

Setelah Abyan selesai cuci darah, ia lalu berpisah dengan pamannya Raditya dan pergi menemui Marsya karena sangat merindukannya.


Tok... tok... tok...


Saat pintu terbuka, Byan kaget karena tiba - tiba Marsya menangis sambil memeluknya.


"Marsya, ada apa? Kenapa menangis?" Byan mengelus rambut Marsya seraya balas memeluknya.


"Hiks... Byan maafin aku, saat kamu sakit aku bahkan meninggalkanmu. Aku jahat! Aku jahat! Byan maafin aku." Marsya memaki dirinya sendiri.


"Shhhh, sayang, ayo masuk dulu." Byan memeluk Marsya seraya berjalan masuk.


Byan ingin duduk tapi Marsya tak mau melepaskan pelukannya, wanita itu semakin memeluknya erat seperti anak kecil. Akhirnya dia mendudukkan Marsya di pangkuannya dengan Marsya masih terus menangis sedih di dadanya.


"Mili dengar dari ayahnya paman Nata, kalau kamu sakit. D-dia baru saja meneleponku. K-kamu, hiks..." Tangisan Marsya masih terus berlanjut.


"Sayang, jangan menangis lagi, ini semua bukan salahmu." Byan menghela nafas panjang.


"Aku yang menyuruh Mama merahasiakannya, jadi kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi ya." Lanjut Byan.


"Sayang, angkat wajahmu. Lihat aku." Byan mengangkat wajah Marsya dan menghapus air matanya.


"Byan... hu... hu... hu. Kamu benar, kamu yang jahat! Kamu merahasiakannya dariku! Tapi, aku juga jahat! Jadi kita berdua sama - sama jahat. Ayo hukum kita berdua." Marsya sekarang malah marah - marah masih dengan tangisannya, jadi terlihat sangat konyol di mata Abyan.


Ya ampun sayang, sejak kapan kamu lucu begini? Manis sekali, haha! Byan geli melihat kelakuan Marsya.


"Byan, aku akan menghukum-mu seumur hidup! Aku akan mengikat kakimu, biar gak bisa kabur dariku, mengerti. Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Marsya mencium bibir Byan dengan semangat, semua amarah juga rasa penyesalan semuanya bercampur menjadi satu.


Byan membalas ciuman Masya, tangannya memeluk erat tubuh Marsya yang masih berada di pangkuannya.


Tangan Marsya masuk ke dalam kaos Byan, menyusuri setiap otot - otot kecil di perutnya.


Byan merasakan tubuhnya memanas, dia pun menghentikan tangan Marsya.


"Sayang, jangan mencoba mengujiku. Kamu tau aku adalah seorang lelaki normal." Byan berkata dengan suara seraknya.


"Aku tidak mengujimu, kamu bilang aku boleh memperkosamu. Jadi-" Ucapan Marsya tertelan ciuman Abyan.


Byan mengangkat tubuh Marsya seraya berjalan dengan cepat ke arah kamar tidur lalu membaringkan wanita itu di atas ranjang.


Marsya menarik kaos Byan dan melemparnya asal, bersamaan dengan Byan melepaskan satu persatu pakaian Marsya sampai tak ada sehelai benang pun di tubuh wanita yang dicintainya itu. Dia akhirnya melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri.


Sekarang mereka berdua sudah sama - sama bertelanjang polos. Mereka masih menahan hasrat mereka, dengan mata penuh gairah Abyan menatap Marsya.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita menikah. Aku akan memberitahu semua orang." Byan tiba - tiba melamar Marsya.


"Apa kamu sedang melamarku? Kenapa tidak romantis sekali, huh! Tapi tak apa, jawabannya, yes! Aku menerima lamaranmu." Marsya tersenyum bahagia.


Byan tak menunggu lama, dia langsung menyatukan tubuh polos mereka berdua. Mereka saling menyalurkan gairah yang sudah tertunda lama, mereka sudah tak sanggup membendung hasratnya lagi.


Setelah hampir satu jam pergumulan sengit mereka di ranjang, akhirnya mereka selesai. Mereka masih berpelukan dengan tubuh polos yang hanya tertutup oleh sehelai selimut.


"Sayang, aku akan segera menyiapkan pernikahan kita." Ucap Byan lalu mengecup keningnya.


"Umm, aku ikut pengaturanmu saja." Kepala Marsya bersender pada dada telanjang Abyan, tangan mungilnya memainkan bulu - bulu halus di dada lelaki itu.


"Marsya geli. Ayo kita bicara serius, lepaskan tanganmu kalau tidak kamu lepaskan aku akan memakanmu kembali." Byan bersiap membalikkan tubuhnya lagi.


"Jangan, jangan. Kamu tidak ada puasnya ya! Aku akan mandi dulu, nanti kita bicara. Huh! Kamu sakit, tapi tenagamu sepertinya melebihi orang yang sehat!" Marsya menggerutu sambil turun dari ranjangnya, dengan tubuh polosnya dia berjalan ke dalam Bathroom.


"Haha... bersiaplah seumur hidupmu, kamu akan mempunyai suami yang tak akan ada puasnya. Suruh siapa tubuhmu seksi dan juga... umm." Ucapan Byan terhenti karena Marsya melempar handuk pada wajahnya.


"Diam, ayo mandi!" Marsya mengajaknya.


"Lilhatlah! Lain di mulut, lain di hati. Kamu bilang sudah cukup, tapi meminta lagi. Baiklah, ayo kita bertempur lagi, wkwwk." Lelaki yang sedang dimabuk cinta itu segera berjalan mengikuti Marsya masuk ke dalam Bathroom dengan semangat 45.


Akhirnya mereka sekali lagi menyatukan dua tubuh yang bergairah kembali.


Akhirnya hasil akhir pertandingan adalah draw.


***


Setelah keempat squad itu pergi dari kamar Kasya, Axel yang merasa kesal karena gagal terus bermesraan dengan Kasya. Akhirnya dia memutuskan tidak mau keluar kamar Kasya, dia merencanakan sesuatu.


Siangnya Dion satu kali datang, saat itu entah apa yang mereka bicarakan. Lalu sore harinya Dion datang lagi, seperti memberikan sesuatu pada Axel. Kasya hanya menggelengkan kepalanya, merasa kamar hotelnya sudah di invasi sepenuhnya oleh Axel.


Malam hari tiba, Kasya masih belum berhasil mengusir Axel keluar.


"Ini sudah waktunya tidur, kamu pergilah ke kamarmu!" Kasya berkata dengan tajam.


Tapi Axel malah berpura - pura tak mendengarnya, dia memainkan ponselnya di ranjang Kasya sambil merebahkan tubuhnya.


"Axel!" Kasya berteriak kesal.


Axel menjatuhkan ponselnya karena terkejut, dia akhirnya memalingkan wajahnya pada Kasya.


"Sayang, jangan galak - galak. Nanti senjataku tidak bisa berdiri, karena dia ketakutan mendengar suaramu." Axel turun dari ranjang sambil tersenyum nakal dia mendekati Kasya yang sedang berdiri memarahinya.

__ADS_1


"Sayang, aku adalah pertapa selama 21 tahun. jangan terlalu kejam padaku. Suruh siapa kamu terlalu segar jadi aku ingin segera memakanmu." Axel memeluk tubuh Kasya lembut.


"Baiklah, sekarang sudah saatnya, ayo kita pergi ke balkon." Axel menuntun tangan Kasya.


"Ada apa disana?" Tanya Kasya heran.


"Kamu akan melihatnya sebentar lagi." Ucap Axel tersenyum penuh dengan teka - teki.


Mereka berdua berjalan keluar balkon kamar, tiba - tiba mata Kasya ditutup oleh tangan Axel.


"Baiklah, bersiaplah, 1... 2... 3... "Ucap Axel sambil melepas kedua tanganya dari mata Kasya.


Duarrrr.... duarr...duar... duar...


Percikan kembang api membelah langit malam, begitu terlihat luar biasa indah.


Kasya menatap kembang api yang indah itu dengan tatapan matanya yang berbinar.


Axel menunggu kembang api itu selesai, lalu dia menekuk satu lututnya di hadapan Kasya dan mengeluarkan kotak cincin, dia kemudian membuka kotaknya.


Kasya membelalakkan kedua matanya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berkaca - kaca, tubuhnya seketika bergetar.


"Kasya Indira, maukah kamu menjadi pendampingku dikala senang dan sedih, dikala aku sehat dan sakit? Menerimaku apa adanya, dengan segala kekuranganku. Maukah kamu menua bersamaku? Will You Marry Me?" Axel menatap mata Kasya penuh dengan cinta.


Kasya terdiam cukup lama, dia benar - benar tak menyangkanya. Tatapan matanya menelusuri wajah Axel dengan sangat intens, Kasya hanya melihat kesungguhan dan cinta di dalam mata lelaki itu.


"Ya! Aku menerimamu." Kasya menjawabnya dengan sangat yakin.


Axel tersenyum bahagia dan segera berdiri, lalu memasukkan cincin itu ke jari manis wanita yang akan menjadi istrinya.


"Aku mencintaimu, Kasya." Axel menarik tubuh Kasya agar menempel padanya, lalu memberikan ciuman hangat pada bibirnya.


Axel menciumnya semakin dalam, tangannya sibuk membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh mereka berdua.


Saat mereka sudah berada di atas ranjang, semua pakaian mereka sudah berserakan di lantai.


Axel menciumi setiap inci tubuh polos Kasya, akhirnya karena sudah tak bisa menahan gairahnya lagi, Axel segera menyatukan tubuh mereka berdua.


Axel dan Kasya mengerang bersama, Axel menggerakkan tubuhnya dengan sangat lembut dan pelan. Tapi akhirnya dia tak sanggup lagi, karena tubuh Kasya dibawahnya bergerak dengan liar. Dia pun menambah kecepatannya, dan bergerak dengan sama liarnya.


Akhirnya setelah lama menahannya, Axel tak sanggup menahannya lagi. Dia semakin mempercepat gerakannya, seketika rentetan peluru - peluru dari senjatanya menembak ke dalam rahim Kasya.


Mereka berdua melenguh penuh kepuasan, mencapai klimaksnya.

__ADS_1


__ADS_2