
Denis baru saja mengantar Axel pada Emily, dia berjalan kembali melewati ruangan bayi.
"Sayang, sedang apa kamu disini?" Tanya Ranti yang baru mau masuk ke ruangan bayi menyusul perawat.
Denis tertegun, dia menatap Ranti seperti tertangkap basah sedang berselingkuh.
Ya ampun, gini kali ya orang kalo lagi selingkuh perasaannya. Padahal aku cuma banyak rahasia dan bohong karena situasi, tapi takutnya setengah mati. Axel! Ini semua gara-gara kamu! Batinnya kesal.
Ranti heran dengan eksperi suaminya yang aneh. "Ada apa? Kenapa wajahmu aneh? Seperti menahan sesuatu?"Selidiknya.
Denis cepat-cepat menormalkan kembali wajahnya.
"Kamu sendiri lagi ngapain? Bukannya nungguin Marsya di dalam?" Tanya balik Denis.
"Marsya sudah melahirkan, kamu sudah jadi kakek sayang. cucu kita, baby boy." Ranti mengatakannya dengan bahagia, dia melupakan masalah suaminya yang belum menjawab pertanyaannya tadi.
Denis pun akhirnya bersorak gembira, seperti bocah kecil, bahkan tidak menjaga image nya sebagai pemilik rumah sakit.
"Sayang sudah, kamu tidak malu dilihat semua orang." Ranti menarik lengan suaminya.
"Terserah, aku sedang bahagia. Siapa yang berani melarang ku." Denis mengangkat bahunya, tapi tiba-tiba dia teringat Kasya.
Denis menatap wajah istrinya, mungkin sudah waktunya memberitahu berita tentang keadaan Kasya.
"Sayang, aku belum memberitahumu sesuatu. Tapi setelah mendengarnya, kamu tenangkan dirimu ya. Sebenarnya Kasya juga ada di rumah sakit." Denis tidak berani memandang wajah istrinya, dia tau apa yang akan terjadi jika istrinya itu marah.
"Sayang, apa maksudmu?" Ranti masih belum mengerti.
"Maksudku Kasya sudah melahirkan, tapi karena keadaannya buruk, jadi aku tidak bisa memberitahu tentangnya. Saat melahirkan, Kasya mengalami pendarahan hebat, dan langsung di operasi. Operasinya baru saja selesai, meskipun tadi dia sempat kehilangan detak jantungnya, tapi dia sekarang sudah berhasil selamat." Denis masih belum berani menatap istrinya, tapi dia berusaha jujur dan mengatakan semuanya.
Ranti yang mendengarnya pun langsung merasa marah, dia tidak ingin marah pada suaminya di depan semua orang, tapi tetap saja amarahnya tak bisa ditahan.
"Tuan Denis Kusuma, meskipun kamu berbuat seperti itu untuk kebaikan, tapi bayangkan jika sesuatu terjadi pada Kasya. Bagaimana kamu bisa menjelaskannya pada Byan!" Nada bicaranya sedikit naik, Ranti seketika mengontrol lagi amarah.
__ADS_1
"Kita bicara lagi nanti, masalah ini belum selesai. Sekarang pikirkan saja hukuman untukmu sendiri! Mau pisah kamar selama seminggu, atau kamu lebih memilih, tidak aku kasih jatah selama sebulan." Ranti langsung menjatuhkan vonis pada suaminya.
"Pikirkan itu, sekarang aku akan menemui Byan dan memberitahunya. Dia anaknya dan dia berhak tau kondisi ibunya." Setelah mengatakannya, Ranti pergi meninggalkan Denis, masih dengan amarahnya.
Denis hanya bisa memandangi punggung istrinya yang marah.
"Ya ampun, malang sekali nasibku. Ini masih kebohongan pertama, hukumanku parah banget. Terus, nanti gimana kebohongan ku yang lain tentang Axel bocor. Bisa gak dikasih jatah selama setahun, bisa mati aku. Sayang, jangan marah." Denis menggerutu sambil berjalan cepat menyusul isterinya.
Tapi dia tiba-tiba teringat belum menyuruh semua orang di ruang operasi untuk tutup mulut soal Axel yang datang, akhirnya dia segera berjalan pergi ke ruangan operasi.
"Hah, hari ini aku sudah menjadi setrikaan. Bolak-balik... bolak-balik dan malah hasilnya dimarahi istri. Apa ada seorang pemilik rumah sakit baik seperti aku? Seperti seorang pesuruh. Huh! Dicari pun gak bakalan ada. " Denis masih dengan gerutunya, dia berjalan semakin cepat.
Sedangkan Ranti sudah berada diluar pintu ruangan nifas, ruangan tempat putrinya dirawat setelah dia melahirkan.
Saat dia membuka pintunya, dia mendengar Byan dan putrinya sedang berdebat.
"Kenapa tidak laki-laki saja yang hamil?" Keluh Marsya.
"Hey, logika macam apa itu? Kan, kalau kamu yang hamil, aku tidak perlu kesakitan seperti tadi." Marsya masih mengeluh.
Tapi sebelum Byan menjawab, Ranti menjawabnya lebih dulu.
"Sayang, jangan pernah mengeluh. Mengandung, melahirkan, menyusui adalah kodratnya wanita. Dan semuanya adalah pahala dan Surga bayarannya." Ranti berkata sambil mendekati Byan yang duduk di samping ranjang istrinya.
"Kamu harus bersyukur, setelah melahirkan masih diberikan keselamatan dan hidup. Banyak wanita diluar sana, bahkan setelah melahirkan meninggal." Tambahnya lagi, dia lalu menundukkan wajah sedihnya.
Byan yang belum merasakan apa-apa, langsung bercanda pada Ibu mertuanya itu.
"Ibu Ranti memang hebat, Ibu telah menyelamatkanku. Putrimu ini dari tadi mengeluuuuuh saja. Aku tau ibu akan membelaku, dan Ibu lebih menyayangi aku daripada putrimu itu sejak dari kecil. Iya kan...." Byan masih dengan cerianya, lalu bangkit dari duduknya dan memeluk ibu yang sudah menjaganya dari kecil itu, yang sekarang menjadi ibu mertuanya.
Tapi setelah ucapan Byan keluar, Ranti malah menangis hebat. Byan dan Marsya merasa heran.
"Mama, ada apa? Kenapa menangis lagi, cucu mama sudah lahir." Tanya Marsya.
__ADS_1
"Ibu, ada apa?" Byan menyambung ucapan Marsya, dia merasakan tubuh ibu mertuanya yang sedang dia peluk bergetar hebat.
"Ibu..."
Ranti akhirnya mengangkat wajah menangisnya dan menatap wajah Byan.
"Byan, i-ibumu... maaf tapi ibu juga baru tau." Lalu Ranti menceritakan keadaan Kasya pada Byan dan Marsya.
"Tidak mungkin, beberapa jam lalu saat aku baru saja membawa Marsya kesini. Aku menelepon mama, tidak! Mama baik-baik saja dan sedang tidur istirahat di rumah. Tidak, ibu pasti bohong..." Byan menggelengkan kepalanya tak percaya, tapi tubuhnya seketika limbung dan terduduk di lantai.
"Sayang... jangan begini. Temui ibu Kasya, kalau kamu begini, bagaimana Ibu Kasya akan kuat. Pergilah dan lihat keadaannya." Marsya juga merasa sedih saat mendengarnya, apalagi melihat suaminya seperti itu.
"Ayo bangun, jangan lemah. Ibu Kasya membutuhkan dukungan putranya." Marsya masih menyemangati Byan.
Byan tak mengatakan apa-apa, dia hanya bangun dan berdiri, lalu berjalan dengan sempoyongan ke arah pintu. Dia merasa kepalanya tiba-tiba terasa berputar, air matanya tak bisa terbendung dan mengalir ke pipinya.
Ranti yang melihatnya seperti itu, juga semakin menangis dan tak bisa berkata--kata lagi. Marsya juga akhirnya ikut menangis, dan tangisannya menyertai kepergian suaminya dari ruangan itu.
Byan yang diikuti Ranti dari belakang, melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah dengan perasaan yang berat. Dia tidak percaya dan tak ingin mempercayainya. Tapi bagaimanapun pikirannya tak percaya, tapi hatinya berkata itu semua adalah benar.
Saat sampai di ruangan ibunya operasi, Byan seketika terjatuh lagi. Semua orang disana dengan sigap mendekatinya.
"Semuanya bohong kan? Iya kan? Kenapa? Kenapa harus terjadi pada ibuku? Kenapa ini selalu terjadi pada mama? Kapan mama akan bahagia?" Racaunya sambil terisak menangis.
"Hey nak, selama ini ibumu adalah wanita yang kuat dan tangguh. Dokter juga baru saja bilang, ibumu sudah berhasil selamat. Jadi jangan bersedih seperti ini, kamu harus mendoakan kesembuhan ibumu, bukan seperti ini." Nata menasehatinya.
Byan hanya terdiam, dia masih terisak menangisi keadaan ibunya. Saat itulah Dion yang tadi pergi dari sana, sudah kembali dan mendengar perkataan dari Nata.
"Benarkah? Dia sudah selamat? Operasi nya benar-benar berhasil?" Dion menatap mereka semua tak percaya.
"Ya, benar. aku baru saja dari dalam, Kasya sekarang akan memasuki masa penyembuhan dan pemulihan. Meskipun tadi Dokter bilang, detak jantungnya sempat berhenti. Tapi untungnya detak jantungnya bisa kembali, dan Kasya syukurnya bisa selamat." Jawab Denis yang memang sudah ikut bergabung bersama mereka diluar ruangan.
Selamat, selamat. Untungnya aku ingat datang kesini, kalau tidak sudah bocor kedatangan Axel! Setelah semua ini selesai, dan kamu Axel jika sudah sembuh dan kembali kesini. Aku akan meminta bayarannya padamu! Batin Denis bertekad.
__ADS_1