Janda Ketemu Duda GET MARRIED

Janda Ketemu Duda GET MARRIED
Chapter 39


__ADS_3

Kamar Hotel Kasya ( 21+ ). WARNING! Bocil - bocil harap melipir, xixi.


.


.


.


Saat tengah malam, Kasya terbangun karena merasa ada yang menggigiti tubuhnya. Dia membuka kedua mata kantuknya lalu melihat Axel sedang memainkan buah ceri kedua gunung kembarnya.


Axel masih asyik menikmatinya, ia belum menyadari Kasya yang terbangun. Satu tangannya meremas dan memainkan satu gunung wanita itu, dengan mulutnya ia memainkan satu gunung kembar lainnya.


Mata Kasya menatapnya tak percaya. Apa dia lelaki normal?!


"Axel! Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Kasya sambil menahan amarah juga hasratnya.


Axel yang mendengar suaranya, mengangkat kepalanya dan nyengir tidak tahu malu.


"Sayang, aku lapar lagi. Anggap saja aku sedang makan cemilan tengah malam ya, ayolah jangan pelit." Wajahnya sekarang berubah seperti bayi, yang meminta jatah minum susu pada Ibunya.


Wajah Kasya memerah, diantara kesal karena tidurnya terganggu dan memerah karena ia menahan hasratnya.


"Dia pikir aku gak terangsang apa? Kenapa minta jatah minum susu, sekalian saja minta jatah masuk lagi! Haish." Kasya menggerutu.


Axel mendengar gerutuan dari bibir Kasya, ia juga memperhatikan raut wajah wanita itu. Dia langsung mengerti, menahan senyumannya dan berpura - pura tidak mendengar.


"Sayang, aku hanya minta jatah minum susu. Aku gak minta yang lain." Axel sengaja membuatnya marah.


Mendengar perkataan Axel malah membuat Kasya semakin kesal, tapi dia tidak mau memintanya duluan karena merasa gengsi lalu mengunci mulutnya.


Axel kembali melanjutkan permainannya, dia membuka mulutnya dan memasukkan ceri merah itu ke dalam mulutnya. Dia memainkan lidahnya, membuat Kasya seketika menarik nafas.


Tangan Axel meremas lembut satu gunung kembarnya kembali. Kasya yang sudah tak tahan segera menarik kepala Axel dan segera menciumnya lalu menggigit bibirnya sebagai hukuman.


Axel tidak merasakan sakit sedikit pun, dia segera melilitkan lidah mereka. Axel mempermainkan lidahnya di dalam mulut Kasya, membuat Kasya mengerang nikmat.


Kasya sadar telah dipermainkan, dengan gesit ia segera menggulingkan tubuh Axel. Sekarang tubuh lelaki itu berada di bawahnya, Axel melebarkan kedua matanya tak percaya.


"Kau sudah berani mempermainkan ku! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu, jangan berteriak meminta ampun!" Kepala Kasya lalu bergerak ke bagian bawah tubuh Axel, menuju senjatanya yang sudah berdiri tegak meminta keadilan.


Kasya sekarang membalikkan keadaan, dia mempermainkan tubuh Axel. Mulut dan lidahnya masih memainkan senjata besarnya, tangannya bergerak liar mengelus kedua buah ceri Axel.


"Ahhhhhh~" 3rangan Axel terdengar dengan sangat keras.


Jika kamar itu tak kedap suara, mungkin para pengawalnya diluar akan menutup wajah mereka karena malu sudah mendengar pertarungan merah membiru Bos - nya.

__ADS_1


Kasya tersenyum dengan sangat puas, suruh siapa lelaki itu mempermainkannya.


"Sayang, aku salah. Aku tidak akan berani mempermainkan mu lagi, tolong jangan menyiksaku lagi, aku menyerah, aku menyerah~" Axel menatapnya dengan mata memohon, ia mengibarkan bendera putih.


Kasya segera melepaskan senjata besar lelaki itu, lalu merayap bergerak naik ke atas tubuh Axel.


"Kamu payah, gampang sekali mengibarkan bendera menyerah. Hihihi..." Kasya merasa senang karena menang.


"Ya, ya ya... jadi ayo tuntaskan pertarungannya. Aku mohon." Mata Axel berkilauan, sudah tak bisa menahan gairahnya lagi.


Kasya masih dengan posisinya di atas, segera mengangkat tubuhnya sedikit. Ia memposisikan bagian bawah tubuhnya ke senjata Axel yang sudah membengkak besar. Dengan perlahan ia menurunkan tubuhnya sampai senjata Axel tenggelam semakin dalam masuk ke dalam miliknya.


Kasya menggerakkan tubuhnya, kedua tangan Axel berada di pinggang wanita yang sedang berada diatas tubuhnya itu untuk membantu gerakan Kasya ke atas dan ke bawah menjepit senjatanya. Tak berapa lama, mereka lalu membalikan posisinya. Sekarang Axel berada di atasnya, ia mempercepat ritme gerakan maju mundur tubuhnya, sampai akhirnya mereka berdua kembali meraih kepuasan.


Mereka sangat kelelahan lalu tertidur kembali sambil berpelukan dengan hangat dengan wajah tersenyum bahagia.


***.


Dion menatap kembang api yang membuncah di langit malam, ia menghela nafasnya.


"Semoga berbahagia Bos." Ucapnya mendoakan.


Dia berjalan pergi ke arah Kasino, disana dia hanya duduk minum - minum. Dia hanya ingin menenggelamkan dirinya ke dalam minuman, mengenyahkan semua perasaan yang telah bersarang di hatinya untuk Kasya.


Disaat dia setengah tersadar, ada wanita cantik mendekatinya.


"Pergi!" Dion mengusirnya.


Tapi wanita itu tak beranjak pergi, dia dengan sabar duduk menemaninya. Dion membiarkan wanita itu, ia hanya terus minum dan minum.


"Tuan, kamu sudah terlalu banyak minum, ayo aku antar kamu ke kamar hotel mu." Wanita itu sekali lagi mengajaknya.


Kali ini Dion menurutinya ketika wanita itu mengangkat tubuhnya dan memapahnya berjalan.


Mereka sampai di kamar hotel Dion, wanita itu mencari kunci di dalam pakaiannya lalu memasukkan kunci itu untuk membuka pintu.


Setelah pintu kamar terbuka, mereka berdua masuk dan pintu di belakang mereka tertutup. Dion sudah tak sadarkan diri, ia terbaring lemas di atas ranjang.


Wanita itu tersenyum penuh kepuasan, tak sia - sia dia mengikuti lelaki itu terus.


Wanita itu sering dipanggil Black Rose oleh orang di sekitarnya, dia termasuk wanita yang ditakuti karena kekejamannya.


Black Rose membuka semua pakaian Dion sampai dia telanjang, dia juga menanggalkan semua pakaiannya sendiri lalu menyobek - nyobeknya.


Kemudian Black Rose mengambil sebuah belati kecil dari dalam jepitan bot sepatunya dan menggores telapak tangannya sedikit. Ia meneteskan darahnya ke atas seprai ranjang yang berwarna putih.

__ADS_1


"Aku sebenarnya masih perawan, jadi anggap saja kita memang bersetubuh." Senyumannya terlihat menyeramkan.


Keesokan paginya, Dion terbangun dengan kepala yang berat. Dia membalikan tubuhnya yang tertelungkup berusaha untuk bangun.


Saat dia berhasil duduk, tangannya mengucek matanya yang masih belum jelas. Matanya sudah semakin jelas tapi pikirannya masih belum tersadar sepenuhnya, dia hanya mengetuk - ngetuk kepalanya dengan kepalan tangan.


Tiba - tiba sebuah tangisan suara wanita terdengar dari sebelah kirinya.


"Hiks... hiks... hiks..."


Dion seketika membuka kedua matanya lebar, kepalanya berbalik ke arah sumber suara. Dia terpana melihat seorang wanita sedang menangis, wanita itu membungkus dirinya sendiri dengan selimut.


Mata Dion dengan cepat melihat ke arah lantai kamar, ia melihat pakaian yang berserakan dimana - mana bahkan sebuah pakaian wanita yang sudah hancur teronggok disana.


Dion tak percaya dengan penglihatannya, dia menggelengkan kepalanya.


"Hahahaha! Kamu sedang mimpi Dion! Ayo tidur lagi, tidur! Tidur, ayo tidur." Ucap Dion tak ingin menerima kenyataan yang ada, ia membaringkan kembali tubuhnya lalu menutup kedua matanya berusaha tidur kembali.


Black Rose menatap tak percaya pada Dion melihat reaksinya, bukankah harusnya lelaki itu berbicara padanya dan menenangkannya.


Sialan! Kenapa tanggapannya biasa saja, aku harus mencari akal lagi! Batin Black Rose.


Sedangkan Dion benar - benar hanya menganggap semua itu mimpi, ia ingin melanjutkan tidurnya kembali.


Black Rose segera bangun dari ranjang masih sambil membungkus dirinya dengan selimut. Dia mengambil vas bunga di atas meja lalu memecahkannya. Lalu dia berteriak dengan histeris.


"Aku tak ingin hidup lagi! Bagaimana aku pulang ke desa, menemui orang tuaku. Aku sudah tidak suci lagi, lebih baik aku mati!" Histerisnya sambil mengarahkan pecahan vas pada pergelangan tangannya.


Seketika mata Dion terbuka lebar kembali, dia bangun dengan sangat cepat. Tatapan matanya tertuju pada wanita di depannya, wanita itu sedang berusaha menggoreskan pecahan vas pada pergelangan tangannya.


Dion pasti masih tak mempercayai penglihatannya jika saja darah merah di pergelangan tangan wanita itu tidak terlihat nyata dan sangat menusuk matanya.


"Oh....no...oh....no...no....no....wait!" Dion seketika berteriak.


"Tunggu, aku masih belum bisa memahami kondisinya. Jadi ayo kita bicara, lepaskan dulu pecahan itu dari pergelangan tanganmu." Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena masih kebingungan.


"Tidak! Kamu berpura - pura tidak menodaiku, aku tidak ingin hidup lagi!" Balas Black Rose.


"Hei, aku bukannya berpura - pura. Tadi aku merasa semuanya hanyalah mimpi, aku bersumpah!" Dion akhirnya melilit seprai ke tubuh telanjangnya, dia berjalan perlahan ke arah Black Rose.


"Benarkah?" Black Rose bertanya dengan berwajah polos juga lugu.


"Ya, ya. Jadi, adek manis ayo buang pecahan vas nya. Adek manis jangan bermain dengan yang tajam - tajam, nanti kakak berikan jajanan. Oke." Dion semakin mendekatinya, dengan cepat segera mengambil pecahan itu dari tangan si wanita, lalu ia melempar pecahan itu setelah mendapatkannya.


"Nah, sekarang. Ayo kita bicara!" Dion menatap tajam pada wanita itu. Dion adalah seorang terlatih, tentu saja ia langsung waspada.

__ADS_1


Sedangkan Black Rose tidak merasa takut sama sekali, karena dia adalah seorang master terlatih juga putri dari seorang gangster.


Black Rose yang bernama asli Mayleen adalah perempuan tomboi, putri dari musuh Axel yang sudah terdidik dengan dunia kejam sejak dari kecil.


__ADS_2