
Saat Kasya pergi mandi, akhirnya Axel pergi ke kamar hotelnya. Dia juga segera mandi dan bersiap. Tapi dia baru saja sadar, dia belum melihat Dion.
"Smith, kenapa Dion tidak terlihat?" Tanyanya pada salah satu pengawal.
"Anu Bos, dari semalam Tuan Dion belum terlihat." Smith juga merasa heran.
"Mungkin dia ada di kamarnya Bos." Smith berkata.
Axel merasa aneh, tidak biasanya Dion seperti itu, kelakuannya aneh sejak kemarin.
"Baiklah, mungkin dia sedang lelah. Biarkan saja. Kamu bereskan semua barang - barangku dan pindahkan ke kamar istriku." Perintahnya.
"Wife Bos?" Pengawalnya bengong.
"Apa harus aku jelaskan! Kenapa kepintaranmu, tidak bisa sedikit saja seperti Dion." Axel menggelengkan kepalanya.
Akhirnya pengawal itu mengerti, siapa istri yang Bos-nya maksud. Dia menahan senyumannya, takut Bos sensitifnya itu melihat.
"Aku sudah selesai disini, kamu segera bekerja." Axel pun melangkahkan kakinya, pergi menuju kamar hotel Kasya.
***
Dion sudah berpakaian dengan lengkap, begitupula dengan Black Rose.
Black Rose memakai kemeja putih besar milik Dion, bagian bawahnya sampai di atas lututnya.
Mereka berdua saling berhadapan, Dion duduk dengan sangat serius sedangkan Black Rose duduk dengan kepala menunduk. Benar-benar seperti perempuan polos dan lugu.
"Nama mu?" Tanya Dion.
"Jiang Yi, Tuan." Black Rose berkata dengan lirih.
"Kenapa kamu bisa ada disana, saat aku minum semalam?" Selidik Dion.
"Tuan, aku bekerja di kasino. Aku bekerja menemani tamu minum, aku bekerja sudah 1 bulan. Silahkan Tuan periksa sendiri." Ucap Black Rose masih dengan menunduk.
"Baiklah, aku akan memeriksanya dulu." Dion mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang.
Setelah beberapa menit, Dion menutup panggilannya.
"Hem, jadi namamu Jiang Yi?" Akhirnya Dion sedikit percaya padanya, dia baru saja menelepon orang kepercayaannya di kasino.
"Ya, tuan. Asal saya dari desa Shazhou." Jawab Black Rose.
__ADS_1
Hehe, memalsukan dokumen itu mudah. Lagipula aku memakai indentitas orang yang sudah mati, dan mati tanpa ada laporan apapun! Batin Black Rose bangga.
"Baiklah, sekarang jelaskan apa yang terjadi semalam." Tanyanya.
Black Rose pun menjelaskan semuanya, sampai saat dia dipaksa 'tidur' dengannya.
"Kalau tuan tidak percaya, tuan boleh melihat Cctv. Bukankah disini ada?" Black Rose menunduk sambil tersenyum, karena dia sudah menyuruh orang pintar suruhannya agar sedikit memalsukan Cctv.
Dion memandang Black Rose yang menunduk, dia tidak bisa membaca raut wajah dan matanya. Dion tidak tau dia berbohong atau tidak.
"Angkat wajahmu!" Dion sedikit kesal.
Black Rose mengangkat wajahnya, dia kembali berwajah lugu.
"Maaf, Tuan." Lirihnya.
"Sudahlah, jadi aku benar-benar melakukannya padamu. Tapi kenapa aku tidak ingat?" Dion tetap tak percaya.
"Tuan, aku sudah bilang, lihat saja buktinya. Ada noda darahku di seprai." Kata Black Rose, lalu berwajah sedih.
Dion menggaruk - garuk kepalanya bingung.
Jika benar aku tidur dengannya, aku rugi dong! Masa aku gak ngerasain apa-apa. Ah, apa aku minta adegan ulang aja sama dia? Batin Dion.
Apa?! Gila nih orang, kirain bakal nanya aku mau bagaimana, eh dia ngambil keputusan sendiri. Lagian siapa yang mau nikah sama dia, bisa digantung mati aku sama ayah! Black Rose mulai gelisah dalam hatinya.
"Anu, Tuan. Aku tidak meminta pertanggung jawaban kamu. Aku hanya butuh kamu membantuku, itu saja sudah cukup bagiku." Wajah Black Rose sangat memelas.
Dion menatapnya sedikit kasihan. "Memangnya kamu butuh bantuan apa?" Tanyanya.
"Aku ingin pekerjaan baru Tuan, aku tidak ingin bekerja menemani tamu minum lagi. Terkadang mereka bertindak tidak sopan, aku selalu takut. Aku mohon tuan." Black Rose menakupkan kedua tangannya, meminta belas kasihan.
"Baiklah, sudah cukup. Aku akan mengabulkan permintaanmu." Ucap Dion.
"Terima kasih tuan, bolehkah saya bekerja pada Tuan?" Tanya Black Rose.
"Tunggu saja, aku akan meneleponmu nanti. Nomer telepon mu ada di data pegawai bukan?" Tanya Dion.
"Ya, tuan." Jawabnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, Dion segera membukanya dan terlihat salah satu bawahannya membawa paper bag berisi satu set pakaian wanita.
"Cepat gantilah, lalu pergi. Aku akan segera menghubungi mu." Dion berkata.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, Black Rose pun pergi dari sana dengan senyum penuh kepuasan. Tapi sebelum pulang, dia segera berganti pakaian lagi dengan baju laki-laki.
***
"Mayleen, dari mana saja kamu!" Ayahnya seketika membentaknya.
"Ayah, aku pergi melihat bisnis kita." Jawabnya.
"Benarkah? Kamu bukan pergi main-main." Ayahnya menatapnya curiga.
"Benar ayah, kalau begitu aku ke kamarku dulu." Ucap Black Rose, lalu berjalan pergi.
Ketika Black Rose pergi ke kamarnya, Zhuting mendekati ayahnya.
"Ayah, aku sudah bilang padamu. Biar aku yang mengurus semua bisnis kita, Mayleen adalah seorang wanita." Ucap Zhuting.
"Kasihan sekali dia. Lihatlah, bahkan karena dia selalu seperti anak laki-laki dan juga sangat terkenal kejam, tidak ada lelaki yang mau menikahinya." Lanjut Zhuting.
Zhuting sangat menyayangi adik perempuan satu - satunya, ayahnya hanya mempunyai 3 orang anak. Anak pertama yang sudah meninggal karena terbunuh, dia anak kedua, dan Mayleen adalah anak yang terakhir.
Ibu mereka meninggal saat melahirkan Mayleen, hingga membuat ayahnya itu tidak menyayangi Mayleen. Karena ayahnya merasa, Mayleen lah penyebab istri yang dia cintai itu meninggal.
Sehingga dari kecil ayahnya kurang memperdulikan Mayleen. Membuat Mayleen berusaha ingin diakui oleh ayahnya dengan berusaha menjadi seperti kedua kakak laki - lakinya.
Padahal sebenarnya adik perempuannya itu seperti anak perempuan lainnya yang menyukai gaun-gaun cantik untuk perempuan. Tapi Mayleen hanya demi diakui ayahnya, selalu berpakaian seperti anak laki-laki.
Bahkan Mayleen selalu sengaja berwajah dan bersikap kejam kepada siapapun, agar mereka semua takut padanya.
Akhirnya memang benar, setelah kematian kakaknya Ayahnya mulai mengakui Mayleen dan menjadikan Mayleen pengganti anaknya yang sudah meninggal.
Zhuting menghela nafasnya.
"Ayah, sekali saja perlakukan dia seperti perempuan." Sekali lagi Zhuting meminta pada ayahnya.
"Tidak! Dia harus kuat seperti lelaki! Jika tidak, dia bukan anakku! Kamu juga harus ada yang membantu. Apa kamu mau semua wilayah bisnis kita, diambil lagi oleh semua lawan kita!" Bentak Ayahnya.
"Kamu juga tau, kedua anak dari kakakmu adalah perempuan. Apalagi anakmu masih kecil! Jadi siapa lagi kalau bukan adikmu itu, yang membantumu!" Ayahnya semakin marah.
Zhuting menghela nafas lagi, dia memang sudah tau jawaban ayahnya tapi dia hanya berharap ayahnya bisa merubah pikirannya.
Dia merasa kasihan pada adik perempuannya itu, yang sejak kecil tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, apalagi dari ayahnya.
Black Rose sedang menguping pembicaraan mereka berdua dan belum pergi ke kamarnya, dia bersembunyi di balik dinding ruang keluarga. Kedua tangannya mengepal erat, setetes demi setetes air matanya keluar.
__ADS_1
"Tunggu ayah, kamu akan benar-benar mengakui ku sebentar lagi. Aku akan membalas kematian kakak, bukankah itu yang selama ini ayah inginkan?" Ucap Black Rose dengan penuh tekad.