
Kasya akhirnya dipindahkan ke ruangan P4 CU, dia akan di observasi pasca-operasi secara ketat sampai keadaannya benar-benar stabil.
"Dion, lihat pakaianmu. Lusuh dan kotor. Ada kami, kita akan bergantian menjaga Kasya. Jadi, pulanglah dulu dan ganti bajumu." Ucap Andi.
"Jangan keras kepala Dion, pergilah." Denis menimpali.
Dion hanya menghela nafasnya dan berjalan pergi dari sana, dia melihat Smith dan pengawal yang lainnya sedang berada di dekat mobil.
"Smith, antar aku pulang dulu. Biarkan yang lainnya tunggu disini." Dion membuka pintu mobil bagian belakang, dan masuk ke dalamnya.
Smith segera membuka pintu kemudi, dan masuk ke dalam mobil. Dia melihat kepala Dion bersandar ke kursi jok, matanya terpejam. Tanpa bicara Smith segera mengendarai mobilnya pergi dari rumah sakit, menuju apartemen Dion.
Setelah sampai, Dion dengan secepatnya mandi dan berganti pakaian, dia tak ingin lama-lama meninggalkan Kasya di rumah sakit. Akhirnya dia selesai dan ingin pergi lagi ke rumah sakit.
"Tuan, anda belum makan. Sebaiknya makan dulu." Smith memperingatinya.
Tapi Dion hanya menggeleng dan berjalan ke luar apartemen menuju mobilnya.
Saat Dion sampai lagi di rumah sakit, dia melihat tinggal Byan dan Raka di luar ruangan P4 CU, Dion mendekati mereka.
"Kalian pergilah, biar aku yang menunggu disini sekarang." Ucap Dion.
"Aku akan tetap disini, tadi kata paman Denis kondisi mama stabil dan jika terus membaik, mama akan dipindahkan ke ruang rawat inap sebentar lagi. Mungkin mama akan sadar beberapa jam lagi atau lebih, aku tidak tau. Jadi aku ingin tetap terus berada di dekat mama." Kata Byan.
Akhirnya Dion tak bicara apapun lagi, dia ikut duduk menunggu bersama mereka berdua.
Dan benar saja, selang beberapa jam Kasya akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap Presiden Suite. Sekarang efek an3s tesi dari operasi sudah hilang, dan kondisinya sudah stabil, kini tinggal menunggunya siuman.
Denis bergabung bersama mereka bertiga, saat Kasya sudah dimasukkan ke ruang rawat inap Presiden Suite, Dion menarik tangan Denis.
"Tuan Denis, kapan Nyonya bisa membuka kedua matanya?" Tanya Dion yang tak sabar lagi.
"Kondisinya sudah stabil, kini semuanya tergantung pada Kasya. Kalau menurut para Dokter karena an3s tesi nya sudah hilang, paling cepat beberapa jam lagi. Apalagi dia adalah seorang Kasya, kalian tunggu saja, pasti tak akan lama." Denis menepuk bahu Dion dan Byan.
Ternyata benar ucapan Denis, selang beberapa jam Kasya akhirnya siuman. Dokter yang menangani Kasya dan Denis keluar dari dalam ruangan.
"Kasya sudah mulai siuman, kalian boleh masuk, tapi taati peraturan. Sekarang hanya diperbolehkan satu atau dua orang yang masuk, kalian bisa bergantian. " Ucap Denis sambil tersenyum, karena ikut bahagia karena Kasya sudah siuman.
"Aku akan masuk lagi bersama Byan, jadi kalian berdua nanti gantian." Ucapnya pada Dion dan Raka.
Saat Byan sudah masuk, dia melihat sosok ibunya di atas ranjang yang begitu pucat pasi, dia kembali menangis.
"Mah, maafin Byan. Saat mama butuh aku, aku tidak ada ada buat mama. Maaf mah..." Isaknya sambil berjalan mendekati ranjang ibunya.
Kasya yang baru saja siuman dan masih belum jelas dengan sekeliling nya masih terdiam. Dia berusaha memfokuskan pandangannya, matanya menatap ke arah sumber suara.
"Byan..." Ucapnya serak, tenggorokannya sedikit sakit.
__ADS_1
"Pelan-pelan, kamu baru saja siuman dari operasi." Kata Denis yang ikut masuk.
"Operasi?" Tanya Kasya linglung.
Lalu dia teringat jika dia sudah melahirkan. "Anakku? Dimana anakku!?" Kasya seketika ketakutan.
"Hei, tenanglah. Kamu tidak boleh berteriak, jaga emosi mu. Bayimu selamat dan sehat, Baby Boy seperti cucumu. Selamat Kasya, kamu sudah menjadi seorang Ibu lagi dan menjadi Nenek." Denis terkekeh, karena merasa lucu pada Kasya.
Kasya mencerna semua perkataan Denis, dan akhirnya dia juga tersenyum bahagia.
Denis melihat Kasya yang sepertinya sudah mengerti, dia langsung menceritakan semua kejadian.
Denis menceritakan dari saat Dion membawa Kasya dari rumah, lalu saat Kasya kehilangan kesadarannya setelah melahirkan, sampai kondisinya sekarang. Hanya satu yang tidak dia ceritakan, kedatangan Axel.
Setelah Kasya mendengar semuanya, dia hanya mengangguk.
"Terimakasih Denis, terimakasih juga untuk para Dokter. Juga untuk kalian semua yang setia mendukung ku." Kasya benar-benar sangat berterima kasih.
"Dan untuk kamu putra mama. Selamat ya sayang, kamu sudah menjadi seorang ayah. Hey! Apa ini? Jangan menangis lagi." Ucap Kasya pada Byan, saat masih melihat air mata anak pertamanya itu keluar.
Byan yang melihatnya ibunya sudah bisa tersenyum, akhirnya menghentikan tangisannya dan ikut tersenyum juga.
"Sudah menjadi ayah, masih cengeng." Kasya meledeknya.
"Habis, mama sudah bikin jantungku mau copot."
"Tentu saja, tapi apakah kamu sudah merasa baik?" Tanya Denis masih sedikit ragu.
"Aku merasa baik Denis. Ah... kalau dibolehkan, aku juga ingin melihat cucuku." Pinta Kasya.
"Tidak boleh! Satu-satu Kasya, anakmu dulu." Denis menggelengkan kepalanya.
"Sekarang aku akan pergi mengambil bayimu, aku akan sekalian menemui istriku dulu, dan memberitahunya kalau kamu sudah siuman. Jika aku telat lagi memberitahunya, hukumanku akan bertambah." Kata Denis menggerutu, lalu dia berjalan keluar ruangan.
Kasya mengerti apa yang dikatakan Denis, tapi Byan tidak mengerti apa yang dikatakan ayah mertuanya itu.
"Byan, kamu tidak mengerti ucapan ayah mertuamu? Apakah kamu masih belum kena hukuman dari Marsya selama ini?"
"Hukuman apa mah?"
"Hukuman istri pada suaminya, hahaha..." Kasya tertawa, sampai tak sadar jika tenggorokannya masih sakit.
"Uhuk..." Byan terbatuk, akhirnya dia mengerti.
"Aku belum merasakannya dan tidak mau merasakannya. Mama tau kan? Kalau Marsya sudah marah, lebih menakutkan daripada melihat hantu." Byan membayangkan nya dan langsung bergidik ngeri.
"Hussss... habis kamu kalau terdengar istrimu."
__ADS_1
"Hehe, ya sudah aku akan keluar dulu ya mah. Diluar ada 2 pria yang ingin menemui mama. Aku nanti akan masuk lagi." Ucap Byan.
Kasya hanya mengangguk.
Tak berapa lama, ternyata hanya Dion lah yang masuk.
Raka tinggal sendiri diluar ruangan, karena Byan sudah pergi untuk menemui Marsya. "Dion, aku tau kamu sudah jatuh cinta pada Kasya. mataku tak pernah salah, jadi aku memberikan waktu untukmu berdua dengannya. Jika kamu baik pada Kasya, aku orang nomer satu yang akan mendukung mu." Raka bergumam.
Di dalam ruangan, Kasya melihat Dion yang berjalan perlahan mendekatinya. Tapi, dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada Dion, tapi entah apa?
"Dion, terimakasih untuk semuanya. Denis susah menceritakan bahwa kamu yang membawaku kesini sampai selamat. Apakah aku terlalu menyusahkan mu, maafkan aku..." Ucap Kasya melembutkan suaranya, karena dia merasa berhutang nyawa pada Dion.
Dion hanya terdiam, dia hanya masih belum percaya Kasya sudah baik-baik saja. Dia masih mengingat keadaan Kasya di dalam mobil yang hampir tak sadarkan diri. Juga ucapan Kasya yang memanggilnya sayang, dia tau kata-kata itu bukan untuk dirinya. Air matanya menetes lagi, tapi dia dengan cepat mengusapnya.
Tapi terlambat, Kasya sudah melihatnya. "Dion, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya Kasya kebingungan.
Dion menghela nafasnya dan berusaha bersikap seperti biasanya.
"Tidak, anda tidak berbuat kesalahan. Saya hanya merasa senang, anda sudah selamat dari operasi dan siuman." Ucap Dion sambil tersenyum.
"Oh, begitu... sekali lagi terimakasih."
Lalu terdengar langkah kaki masuk dan suara bayi menangis.
"Kasyaaaaa! Kamu sudah bangun. Syukurlah." Ranti masuk dan langsung memeluknya.
Kasya melihat jika Ranti datang bersama seorang perawat, sepertinya perawat itu menggendong bayinya.
"Ranti nanti kita bicara lagi. Apakah itu bayiku? Kenapa dia menangis? Kemarikan, biar aku gendong." Kasya tak sabar ingin segera menggendong anaknya.
"Dia menangis, sepertinya karena sudah lapar." Ucap Ranti.
"Ya, sepertinya memang begitu. Bayi Ibu memang belum diberikan A**, sejak dari anak ibu dilahirkan." Timpal sang perawat sambil memberikan bayi itu pada Kasya.
Kasya dengan sigap mengambilnya dari perawat, dan langsung memeluknya dengan wajah bahagia.
"Anakku, terimakasih sayang sudah selamat dan berjuang bersama mamah. Terimakasih juga telah hadir di kehidupan mama. Ayo kita sama - sama tunggu papamu kembali, dia pasti akan sangat bahagia" Kasya menciumi wajah anaknya.
Dion yang mendengar ucapan Kasya hatinya terasa sakit. Padahal sebelum saat ini, dia juga masih berharap Bos nya pulang kembali, tapi sekarang entah kenapa dia berharap Bos nya tak akan pernah kembali lagi.
"Dion! Dion!" Ranti berteriak, karena dari tadi dia sudah memanggilnya pelan tapi Dion malah seperti melamun.
"Hah!?" Dion tersadar.
"Kasya akan memberi A**, apa kamu ingin melihatnya dan berdiri disini terus?" Ucap Ranti.
Blush!
__ADS_1
Wajah Dion memerah karena malu. "Maaf, aku tidak sadar. A-aku keluar kalau begitu." Dion kabur dengan langkah seribunya.