
Karena rasa kasihan Dion akhirnya membawa wanita itu ke rumahnya, sebenarnya ia tinggal bersama Smith dan Mayleen jadi tidak apa - apa baginya jika membawa satu penghuni baru.
"Amora, kamarmu di sebelah sana," tunjuk Mayleen.
Amora hanya mengangguk, tapi ia tak beranjak dari tempatnya.
Dion yang melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu segera bertanya, " Ada apa? Jika kamu ingin bicara katakan."
"Boleh s-saya membawa putra saya kesini? Saya menitipkannya di tetangga saat akan bekerja," Ucapnya seraya menunduk.
"Berapa umurnya?" tanya Dion.
"Lima tahun, laki - laki," jawab Amora.
Dion seketika terbayang wajah Dean, ia menghela nafas. "Baiklah, bawa dia. Kau bisa bekerja mengurus rumah ini dan tinggal disini. Kau tadi bilang tidak punya tempat tinggal dan ingin menghindar dari mantan suamimu."
"Terimakasih, Tuan. Aku tidak tau harus bagaimana membalas kebaikanmu," Amora menunduk.
__ADS_1
"Sudahlah, pergilah bersama Smith menjemput putramu." Ucap Dion lalu ia pergi masuk ke dalam kamarnya.
Mayleen mengikuti Dion masuk ke dalam kamar, ia melihat Dion memijit kepalanya dengan matanya yang terpejam. Ia mendekati Dion di kursi, lalu mulai memijit kepala lelaki itu.
Mata Dion terbuka, "Kau tak perlu melakukan ini, Mayleen. Kau bukan pembantuku, kau adalah rekanku."
Seperkian detik tangan Mayleen yang memijit kepala Dion terhenti, ia menghela nafas mendengar Dion berkata seperti itu, " Bagimu aku hanya rekan?"
"Hm, apa lagi?" jawab Dion.
Dion melepaskan tangan Mayleen dari kepalanya. Ia bangun dari kursi berjalan ke arah jendela, " Sejak awal aku juga sudah bilang, jika ingin kita bersama hapus semua perasaanmu padaku. Aku tidak bisa memberikan hatiku kepada siapapun lagi, kau sangat tau dengan pasti siapa wanita yang aku cintai."
Mayleen mendekatinya, ia menaruh kepalanya di punggung Dion, "Aku tau, aku juga masih ingat ucapanmu. Tapi, sepertinya hari ini hatimu tergerak oleh wanita itu. Dia bukan Nyonya Kasya dan anaknya bukan Dean. Kenapa kau begitu saja percaya padanya dan membawanya pulang."
Dion menghela nafas, ia tau kegelisahan Mayleen. Ia sendiri tidak mengerti sikapnya sendiri, hanya saja ia langsung terpikirkan Kasya dan Dean saat melihat Amora.
"Aku juga tau dia tidak seperti Kasya, biarkan dia berlindung sementara disini."
__ADS_1
"Baiklah, aku ikuti kemauanmu," Mayleen berbalik meninggalkan Dion dengan hatinya yang kecewa.
Malam itu karena kesal pada Dion, Mayleen pergi dari rumah. Ia kembali ke club dan mabuk - mabukan disana. Seorang lelaki mendekatinya, mengajaknya minum bersama.
"Tentu saja, ayo minum. Kau pria tampan, mau menciumku?" racau Mayleen yang sudah mabuk.
"Kau wanita cantik, siapa yang tidak ingin mencium wanita hot sepertimu," goda sang pria.
"Benarkah? Tapi kenapa pria dingin itu tak mau mencintaiku?! Kau pembohong! Kau berbohong!" tiba - tiba Mayleen membentak marah. Ia menendang si pria dengan keras, membuat club seketika riuh karena ulahnya. Para pengunjung menatapnya, mereka bertepuk tangan saat melihatnya sekali lagi menendang membuat pria itu sampai terjerembab.
"Wanita sialan! Pantas saja pria itu menolakmu! Kau tidak seperti seorang wanita, sangat kasar!" umpat si pria ketika sudah bangun.
"Kau bilang aku kasar! Kau belum merasakan semuanya! Kemarilah, akan aku sobek mulutmu!" teriak Mayleen.
Keributan pun terjadi, Mayleen berkelahi dengan pria itu, akhirnya keduanya digiring ke kantor polisi.
Saat Dion mendapat telepon dari kantor polisi, ia bergegas pergi. Saat sudah berada di kantor polisi, ia melihat wajah dan penampilan Mayleen sudah benar - benar berantakan.
__ADS_1