
Anna sebenarnya tidak suka membahas masalah malam panas itu jadi dia lebih baik berpura-pura tidak pernah tidur dengan Mattew.
Perempuan itu memejamkan mata dan tak lama tertidur karena merasakan kehangatan dari tubuh lelaki itu.
"Anna... Anna..." panggil Mattew yang menunggu suara perempuan itu membalas perkataannya.
Namun, ternyata perempuan itu sudah tertidur.
"Astaga," keluh Mattew.
Karena kelelahan akhirnya lelaki itu juga tertidur.
Keesokan paginya, mereka terbangun dengan saling berpelukan satu sama lain tanpa sadar.
"Bantalnya sungguh hangat," gumam Anna seraya meraba tubuh Mattew. "Tapi, kenapa keras?"
Anna membuka matanya dan kaget karena yang dirabanya ternyata adalah Mattew.
Pelan-pelan Anna berusaha menjauh tanpa menimbulkan suara seraya menahan nafasnya.
Setelah bisa lepas dari Mattew, dia buru-buru keluar dari kamar supaya bisa bernafas dengan tenang.
Anna memegangi dadanya yang masih berdebar.
"Lagi-lagi situasi ambigu seperti ini," gumam Anna dalam hatinya.
Pada saat itu, nyonya Harold berada di dapur untuk memasak sarapan.
__ADS_1
Suasana di luar masih tampak gerimis, sisa-sisa hujan dari semalam.
"Sudah bangun?" tegur nyonya Harold.
"Iya Nyonya," jawab Anna malu-malu karena wanita paruh baya itu mengira dirinya dan Mattew adalah suami istri.
"Sinyal di sini masih belum stabil jadi untuk sementara tidak bisa menggunakan telepon rumah atau ponsel," jelas nyonya Harold.
Mendengar itu, Anna jadi merasa cemas karena artinya tidak akan bisa pulang dengan cepat.
Daripada pusing lebih baik Anna membantu nyonya Harold menyiapkan sarapan. Karena Anna lebih muda dan memang pekerjaannya sehari-hari sebagai pelayan, perempuan itu lebih cekatan.
"Beruntung sekali suamimu kalau istrinya pandai memasak seperti ini," komentar nyonya Harold.
Anna hanya membalasnya dengan senyuman saja.
Lelaki paruh baya itu tampak membawa beberapa paperbag belanjaan untuk istrinya.
"Masak yang enak untuk tamu kita," katanya.
Anna jadi tidak enak hati karena perhatian dari pasutri itu. Dia bergegas masuk kamar lagi untuk membangunkan Mattew.
Namun, lelaki itu ternyata sudah bangun dan mandi di kamar sebelah.
Mattew masih memakai baju yang sama seperti sebelumnya.
"Kebiasaan ya selalu saja meninggalkan aku," protes Mattew ketika melihat ada Anna di dalam kamar.
__ADS_1
"Lantas aku harus bagaimana?" tanya Anna.
"Sepertinya kita tidak akan bisa pulang dengan cepat!"
"Benarkah?" Mattew cukup terkejut akan perkataan pelayannya itu.
Bukannya ikut iba dan cemas, jauh di dalam lubuk hatinya dia menikmati momen ini.
"Jadi, kita akan sedikit lama untuk berpura-pura jadi suami istri," jelas Anna.
"Tidak masalah, aku bisa mengatasinya," balas Mattew percaya diri.
Mereka cukup berperilaku mesra, bukan?
"Honey, kemarilah!" Mattew menarik kursi yang ada di meja makan untuk Anna.
Dengan canggung perempuan itu duduk dan menatap pasutri Harold yang sudah menunggu mereka sadari tadi.
"Masakan ini sebagian istrimu yang memasaknya," ucap nyonya Harold memberitahu Mattew.
"Yah, tidak perlu diragukan lagi, masakan istriku memang yang terenak," balas Mattew yang selama ini memang suka dengan masakan Anna.
Bagi Anna, untuk pertama kalinya Mattew memuji masakannya. Sungguh tidak terduga.
Mereka semua menikmati sarapan bersama dan tiba-tiba saja Mattew mengambil roti lalu mencoba menyuapi Anna.
"Buka mulutmu, Honey!" pinta Mattew tanpa beban.
__ADS_1
"Oh, astaga. Ini terlalu berlebihan," Anna tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.