
Setelah makan malam, Grey ingin berbicara empat mata dengan Axe.
Dan hal itu membuat Axe jadi ketar-ketir karena takut salah berbicara.
"Bagaimana dengan bisnismu?" tanya Grey memulai pembicaraan.
"Sejauh ini berjalan dengan lancar, daddy mertua," jawab Axe.
Baru ditanya seperti itu saja, Axe sudah keluar keringat dingin. Pokoknya jangan sampai anak buahnya melihat keadaannya seperti sekarang.
"Aku percayakan Flo padamu sekarang, jaga baik-baik putriku!" Grey melontarkan kalimat tak terduga.
Axe merasa lega akhirnya mertuanya percaya padanya. Dia akan berusaha sebaik mungkin.
Malam itu, Axe ingin mengulang percintaannya dengan Flo seperti di hotel sebagai perayaan.
Namun, Flo tampak kelelahan.
Memang setelah terbebas dari iblis Larry, fisik Flo jadi mudah lemah dan sakit.
Apa ini ada hubungannya Flo tidak kunjung hamil?
"Apa ada yang sakit, darling?" tanya Axe perhatian.
"Tidak ada, hanya saja badanku lelah," jawab Flo. Dia membuka selimut supaya suaminya bergabung bersamanya.
Axe merangkak perlahan dan memeluk Flo dalam dekapannya.
"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Axe merasa cemas.
"Tentu saja tidak, aku harus banyak berlatih untuk mengimbangimu," jawab Flo.
Sebenarnya bukan hanya Axe tapi Flo juga mulai memikirkan masalah keturunan.
Flo masih ingin menikmati waktu berdua dengan Axe tapi ada kalanya dia juga menginginkan anggota baru supaya pernikahan mereka terasa lengkap.
"Kita akan bersiap untuk pindah rumah jadi tidak ada yang mengganggu waktu kita lagi termasuk Kee," ucap Flo yang mengingat adiknya suka masuk tanpa permisi.
"Kapan dia akan dewasa?" tanggap Axe.
"Setelah menemukan cinta sejati seperti dirimu," ucap Flo seraya mengeratkan pelukannya.
Memang benar cinta bisa mengubah segalanya.
Sama halnya yang dirasakan oleh Mattew sekarang.
Mattew semakin terlihat menyedihkan setelah Flo dan Axe yang menikah.
Dari luar lelaki itu memang tampak biasa saja tapi di dalamnya, hatinya sangat hancur. Selama ini yang ada di kepalanya hanyalah masa depannya bersama Flo tapi perempuan itu justru menikah dengan pria lain.
"Flo... Flo..." Mattew terus memanggil nama Flo sambil mabuk.
Padahal dulu Mattew tidak pernah menjadi pecandu alkohol seperti itu.
__ADS_1
"Tuan lebih baik Anda berhenti," sang pelayan yang bernama Anna mencoba menghentikan Mattew minum lagi supaya tidak bertambah mabuk.
Setiap melihat Anna, Mattew selalu menjadi emosi.
Kalau saja Anna tidak tergoda dengan Keenan waktu itu pasti laptopnya tidak akan dicuri, Flo tidak akan tahu dan Mattew akan tetap menikah dengan tunangannya itu.
Mattew menyalahkan semua yang terjadi pada Anna.
"Ini semua karena kau!" Mattew melempar gelas yang ada di meja sampai pecahannya berserakan di lantai.
Sebenarnya Anna sangat takut tapi dia masih membutuhkan uang jadi dia harus menahannya.
Ketika Anna menunduk karena ingin membersihkan pecahan gelas tiba-tiba rambut Anna ditarik dari belakang.
Otomatis tubuhnya berdiri dan ternyata memang Mattew yang melakukannya dalam keadaan setengah sadar.
Mattew membanting tubuh Anna ke sofa dan lelaki itu membuka gespernya.
"Ampun Tuan, maafkan atas kecerobohan saya," Anna meminta ampun karena mengira jika Mattew akan memukulnya memakai gesper.
Namun, dugaannya salah. Mattew menindihnya begitu saja.
"Kau harus dihukum!" Mattew berkata dengan suara seraknya.
Seketika pandangan lelaki itu jadi kabur dan mengira jika Anna adalah Flo.
"Babe..." panggil Mattew yang masih belum bisa move on. Dia jadi tidak bisa menahan diri lagi.
Malam itu, Mattew melakukan hubungan badan dengan Anna yang dianggapnya Flo.
Keesokan paginya, Mattew membuka mata dan terkejut karena berada di atas sofa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Mattew memegangi kepalanya yang sakit. Dia semakin terkejut karena tubuhnya yang tanpa busana.
"Damn!"
Mattew mengumpat tapi anehnya ada selimut yang menutupi dirinya. Dia berusaha mengingat tapi kepalanya justru bertambah pusing.
Lebih baik Mattew menyegarkan kepalanya terlebih dahulu.
Disaat kepala Mattew terguyur oleh air dari shower, ingatan demi ingatan semalam pelan-pelan masuk ke kepalanya.
Serpihan ingatan itu tidak jelas tapi Mattew sangat yakin kalau semalam telah melakukan hal tidak pantas dengan Anna.
"Sial!" Mattew merasa semakin emosi pada pelayan itu.
Seharusnya Anna menolak tapi gadis itu pasti dengan suka rela menyerahkan tubuhnya mengingat Anna yang mudah tergoda dengan lelaki.
Walaupun masih hangover, Mattew tetap bersiap untuk berangkat ke kantor.
Di meja makan sudah tersaji sarapan seperti biasanya, di sana ada Anna yang tampak biasa saja seolah tidak terjadi apapun.
"Cih," Mattew sempat berdecih pada pelayan itu.
__ADS_1
Anna pura-pura tidak mendengarnya, dia tetap melakukan tugasnya seperti biasa.
"Selamat menikmati sarapan Anda, Tuan," ucap Anna sebelum kembali ke dapur.
Mattew tidak memakan sarapan pagi itu, dia hanya minum untuk mengurangi hangover dan sakit kepalanya.
Tak lama asistennya yang bernama Kevin datang untuk menjemput tuannya, sebelum datang tadi dia menyempatkan diri untuk membeli obat untuk hangover atasannya.
"Apa Anda benar baik-baik saja, Tuan?" tanya Kevin.
"Saya bisa mengatur jadwal untuk hari ini," lanjutnya.
Kevin sebenarnya sudah tidak kaget lagi dengan kondisi Mattew, apalagi semenjak Flo menikah lelaki itu semakin tidak karuan.
Padahal sudah setahun berlalu.
"Tidak perlu," Mattew menolak tawaran asistennya itu.
"Tetap lakukan rapat untuk hari ini!"
Setelah minum obat pasti hangovernya akan berkurang.
Tapi, bukannya berkurang sesudah minum obat, Mattew justru kembali teringat malam panasnya dengan Anna semalam.
"Berapa bulan lagi kontrak kerja Anna selesai?" tanya Mattew.
Kevin mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka kalau tiba-tiba Mattew akan bertanya tentang Anna.
"Saya rasa sekitar tiga bulan lagi," jawab Kevin.
"Beri dia pesangon yang cukup dan biarkan dia pergi jauh!" perintah Mattew.
Kevin semakin bingung karena sebelumnya Mattew melarang memberikan bonus apapun untuk Anna sebagai hukuman.
"Apa Anda yakin, Tuan?" tanya Kevin memastikan.
"Jangan membuatku mengulangi perintah untuk kedua kalinya!" balas Mattew.
Sepertinya Mattew memang memberi perintah secara sadar, Kevin tidak akan banyak bertanya lagi.
Pasti telah terjadi sesuatu, semoga saja Anna tidak membuat ulah seperti sebelumnya.
"Apa yang terjadi diantara mereka?" batin Kevin.
"Aish, itu bukan urusanku. Tapi, akan menjadi urusanku kalau masalahnya serius!"
Seperti biasa, Kevin akan curhat pada Tessa yang nasibnya kurang lebih sama dengannya.
"Pagi yang melelahkan," Kevin menulis pesan untuk Tessa.
Tak lama dia mendapat balasan dari sekretaris Keenan itu.
"Pagi yang memuakkan," balas Tessa.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kau kebingungan untuk memilih teman kencan untuk bos nakalmu?" tanya Kevin menduga. Dia sangat tahu apa yang dihadapi oleh Tessa selama ini.
"Aku harus membeli headset baru supaya telingaku tidak tercemar," balas Tessa lagi.