
Axe dan Flo mengatur nafas mereka setelah kegiatan panas mereka di kolam renang.
"Sarapan pembuka sudah, sekarang kita harus makan sarapan selanjutnya lalu sarapan penutup," bisik Axe di telinga istrinya.
Sepertinya lelaki itu sudah tidak marah dan cemburu seperti sebelumnya jadi Flo akan membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau hari ini.
Axe menggendong Flo dengan mesra, mereka terkejut ketika melihat Keenan dan Tessa yang sudah duduk di meja makan.
"Kapan kalian datang?" tegur Flo yang turun dari gendongan suaminya. Beruntung dia sudah memakai jubah handuk.
"Dari tadi!" kesal Keenan.
"Apa kau melihat kami?" tanya Axe tanpa mau basa-basi. Dilihat dari ekspresi adik iparnya itu sepertinya Keenan memang melihatnya bercinta di kolam renang. "Bagaimana? Aku sangat terampil membuat keponakan untukmu, bukan?"
Flo langsung menyenggol perut Axe memakai lengannya supaya berhenti bicara mesum karena ada Tessa di sana.
"Kalian berhentilah!" tegur Flo.
Rupanya Tessa cukup cepat tanggap.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya sudah terbiasa," ucap Tessa dengan niat menyindir Keenan.
Sebenarnya Flo merasa malu, beruntung dia bermain di dalam air bersama suaminya jadi Keenan tidak mungkin melihat sepenuhnya.
"Aku akan ganti baju dulu, tunggulah!" Flo berpamitan seraya berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Flo, Axe langsung menuju dapur untuk memasak sarapan. Kali ini dia akah menambah masakan karena ada Keenan dan Tessa.
"Setidaknya pakailah baju saat memasak," tegur Keenan.
Axe tidak menanggapi tapi langsung mengambil apron dari laci dapur dan memakainya begitu saja.
"Maksudnya seperti ini?" tanya Axe.
Keenan menggelengkan kepalanya karena melihat kakak iparnya memakai apron tanpa baju.
"Whatever!"
Akhirnya tak lama Flo bergabung setelah memakai bajunya.
"Ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Flo.
Selagi Tessa menjelaskan pada Flo, Keenan mendekati Axe yang masih sibuk berkutat di dapur.
Keadaan sungguh berbanding terbalik, Flo dan Tessa membicarakan masalah pekerjaan sementara dua lelaki lainnya seperti pengangguran.
"Apa memang nasib kita seperti ini?" keluh Keenan.
"Maksudnya?" tanya Axe yang tidak mengerti.
"Ya seperti ini, seperti tidak berguna," jawab Keenan.
__ADS_1
"Apa maksudmu tidak berguna? Aku itu suami multifungsi, aku memang tidak terlihat bekerja tapi uang selalu mengalir masuk dalam rekening," Axe tidak mau disamakan dengan adik iparnya itu.
"Dan aku ini seorang perintis bukan pewaris sepertimu!"
Keenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kalau dipikir-pikir memang benar adanya.
Rasanya Keenan kalah dari seorang mantan mafia.
"Ck! Baiklah, kau menang hari ini," Keenan tidak mau berdebat lagi.
Beberapa menit kemudian, sarapan sudah siap dan lagi-lagi Keenan harus mengakui kalau telah kalah dari Axe.
Masakan mantan mafia itu ternyata memang enak.
Untuk menutupi kekesalannya, setelah pulang dari kediaman kakaknya, Keenan meminta Tessa untuk singgah ke supermarket.
"Aku juga bisa memasak, ayo kita berbelanja!" ajak Keenan.
"Jangan memaksakan diri, Bos," Tessa mencoba memberi peringatan.
Namanya Keenan pasti tidak peduli dan benar saja dewi fortuna tidak berpihak padanya. Karena dia melihat Anna juga berbelanja di tempat yang sama.
"Ada apa, Bos?" tanya Tessa yang kaget tangannya tiba-tiba ditarik Keenan dan dibawa bersembunyi.
"Ada gadis pelayan yang waktu itu," jelas Keenan.
__ADS_1
Anna memang berbelanja karena ada sesuatu yang harus dibelinya, biasanya memang para pelayan diberi jatah libur beberapa hari dalam waktu sebulan.